Banyak Riset Konflik, Agama dan Budaya di Kawasan Asia Tenggara

RISET : Doktor Saiful Hamdi (kopiah hitam) ketika mewancarai Muslim di Pattani Thailand Selatan terkait konflik di kawasan tersebut.

Saiful Hamdi tak pernah menyangka akan menjadi peneliti internasional. Pengalaman studi di program pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) mengantarnya sebagai peneliti internasional khususnya di kawasan Asia Tenggara.

 

 


AHMAD YANI – MATARAM


 

Lahir dari keluarga yang sangat sederhana dengan orang tua berprofesi sebagai petani, Hamdi panggilan akrabnya bersikeras untuk melanjutkan studi di Yogyakarta. Dia ingin  memenuhi cita-citanya sejak kecil sebagai dosen. Meskipun bapaknya berharap dan memintanya melamar sebagai  anggota TNI, namun dengan tegas dia menolak  dan memilih melanjutkan kuliahnya.

 Hamdi tertantang untuk mengeksplorasi dunia akademik di Yogyakarta, setelah mendengar cerita dari seniornya yang lebih dahulu kuliah di sana. Dia pun membulatkan niatnya untuk pergi menimba ilmu disana.

Sebelum berangkat ke Yogyakarta, guru-guru di madrasah aliyah tempatnya sekolah  menyarankan seluruh siswa termasuk Hamdi  masuk di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia pun menyelesaikan studinya di Fakulas Tarbiyah IAIN dengan predikat cumlaude pada 2002.

Tak puas dengan hanya bergelar strata satu (S1), Hamdi pada tahun 2003 mendaftar kuliah di kelas internasional program Interdisiplinari Center for Religious and Cross-Cultural Studies Pascasarjana UGM. Ia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Indonesia melalui beasiswa BPPS Dikti. “ Akhirnya, pada tahun 2005 saya menyelesaikan  studi pasca sarjana UGM dengan predikat cumlaude,''tuturnya kepada Radar Lombok Rabu kemarin (19/10).

Setahun kemudian, ia memperoleh beasiswa untuk program doktornya dari Sylff Sasakawa The Tokyo Foundation.  Di bawah bimbingan Pro. Irwan Abdullah guru besar Antropologi UGM, Hamdi pun akhirnya mampu  menyelesaikan program studi S3 tepat waktu pada tahun 2011 dengan predikat cumlaude dengan disertasi “Reproduksi Konflik dan Kekuasaan dalam Organisasi Nahdlatul Wathan di Lombok”.

Disertasinya ini kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku dengan judul “Nahdlatul Wathan di Era Reformasi: Agama, Konflik Komunal dan Peta Rekonsiliasi”. Buku ini cukup kontroversial karena melahirkan pro dan kontra.  Hamdi dianggap berani membahas wilayah yang sensitif di dalam komunitas NW pada waktu itu.

Belajar di UGM membuat Hamdi banyak berubah, apalagi di program internasional CRCS yang pengantarnya Bahasa Inggris. “ Semua kegiatan dan aktivitas berbahasa Inggris dan dosen-dosen yang mengajar sebagian besar dari sarjana asing baik dari Amerika, Eropa dan Afrika Selatan,” ungkap pria   kelahiran Paok Lombok, Suralaga, pada tahun 1980  ini.

Pada tahun 2009 memperoleh fellowship untuk meneliti konflik muslim di Filipina selama satu bulan.  Penelitian Hamdi di Filipina terkait dengan konflik Muslim di Moro, Filipina Selatan.

Hamdi melihat adanya  persamaan antara budaya keagamaan di Filipina dengan Indonesia yang sama-sama kuat. Filipina  didominasi oleh mayoritas Kristen yang  taat, sedangkan Indonesia adalah majoritas Indonesia  yang sangat kuat tradisi keagamaannya.

Hamdi bertemu tokoh-tokoh muda Muslim Moro dan mewawancarai mereka. Pada tahun yang sama 2009, Hamdi memperoleh program fellowship  untuk meneliti di Australia selama tiga  bulan. Pengalaman penelitiannya sangat penting dan berharga. Hamdi melihat fenomena Islamophobia yang berkembang di  Barat belakangan ini terus meningkat akibat gerakan terorisme dan radikalisme global.

Ia mewawancarai tokoh-tokoh agama dan berdiskusi dengan tokoh masyarakat serta kaum akademisi. Ia juga diundang untuk mengisi seminar di Universitas Monash Autralia yang dihadiri oleh para akademisi dari Australia dan Indonesia yang tinggal dan belajar di sana.

'' Australia merupakan salah satu negara yang paling berkesan bagi saya, dimana saya melihat tata kota yang sangat rapi dan lingkungan yang bersih,'' ujarnya.

Ia menilai, pemerintah dan masyarakt Australia sangat menghormati alam, bahkan pohon yang tumbang di hutan tidak boleh diambil oleh masyarakat. Binatang-binatang dibiarkan hidup dan menyatu dengan manusia, tidak boleh ditembak atau ditangkap. Integrasi konsep pembangunan yang meliputi nature  dan culture  membuat Asutralia sebagai negara yang modern tetapi alami dan sehat.

Hamdi juga memperoleh fellowship dari pemerintah Singapura pada tahun 2010 melalui Asia Research Institute (ARI) National University of Singapore selama tiga bulan. Hamdi diberi fasilitas ruang kerja dan perpustakaan yang sangat representatif. Hamdi dibimbing oleh Prof Michael Feener dosen NUS.

Hamdi memanfaatkan  waktu tiga bulan untuk berdikusi dengan akademisi dan dosen-dosen di lingkungan internasional dan juga menghadiri seminar-seminar. Kesan Hamdi dengan Singapura, transportasinya sangat maju dan modern sehingga mendukung kegiatan dan aktivitas masyarakat. Tatanan kota yang bersih, alami dan law enforcement yang baik, dan semangat kerja yang tinggi masyarakat Singapura merupakan faktor kemajuan negara tersebut. “ Singapura adalah negara kecil, tetapi mampu  bersaing secara ekonomi dengan negara-negara besar,” imbuhnya.

Ia pun kemudian diangkat sebagai dosen PNS di Kalimantan Timur.  Pada tahun 2013-2015 Hamdi memperoleh bantuan dana riset dari Kemendikti untuk meneliti gerakan Islam transnasional Jamaah Tabligh. Wilayah penelitiannya adalah Kalimantan, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Gerakan  Islam transnasional seperti Jamaah Tabligh, HTI, Ikhwanul Muslim, Ahmadiyah, dan Wahabisme-Salafisme merupakan subyek penelitian Hamdi, selain politik lokal dan otonomi daerah.

Ia melihat adanya sisi positif dan negatif atas kehadiran gerakan Islam transnasional. Globalisasi ajaran dan integrasi budaya Muslim antara negara sangat penting untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi praktis, meskipun terkadang pada daerah tertentu belum siap menerima hal baru yang dibawa oleh para pendakwah.

Khususnya gerakan Islam transnasional yang beraliran politik seperti HTI, ISIS, Ikhwanul Muslimin menjadi tantangan dan ancaman tersendiri bagi masyarakat dan   Indonesia karena adanya benturan ideologis. Ideologi ISIS yang diadopsi oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso dan beberapa gerakan radikal lain yang ingin mendirikan khilafah Islamiyah adalah bukti bahwa bangsa Indonesia dalam bayang-bayang ancaman serius.

Pada tahun 2016 Hamdi melanjutkan risetnya tentang gerakan Jamaah Tabligh di Asia Tenggara yakni di Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam.

Selain meneliti, Hamdi juga aktif menulis dan di antara karya-karyanya dalam bentuk buku adalah Nahdlatul Wathan di Era reformasi: Agama, konflik komunal dan peta rekonsiliasi, Yogyakarta: KKS (2014). Interpreting and Enacting Islamic Feminism in Pesantren Al-Muayyad Windan, Solo’, in Bianca J. Smith & Mark Woodward (eds.), Gender and Power in Indonesian Islam: Leaders, Feminists, Sufis and Pesantren Selves. NY and Oxford: Routledge (2015).  Pesantren dan Gerakan Feminisme di Indonesia. IAIN Samarinda Press (2016). Dan akan terbit, Tafsir Kebudayaan Agama Tablighi: Demazhabisasi Islam, Tarekat Nabi dan Ekonomi Ketuhanan. Yogyakarta: LKiS (2017).

Hamdi juga telah  menulis di beberapa jurnal nasioanal dan internasioanl dan salah salah satu artikel yang terbaru adalah ‘The Recovery of a Non-Violent Identity for an Islamist Pesantren in an Age of Terror,’ Australian Journal of International Affair, 19 Agustus 2015: 1-19. (*)