Bantu Warga Miskin Lepas dari Jerat Rentenir

SOCIAL ENTREPENEURSHIP: Lalu Qazwaini Direktur Koperasi Syariah Baitul Tamkin NTB (kiri) disuatu kesempatan bersama pengusaha nasional sekaligus penggagas ekonomi Syariah Indonesia, Muhammad Antonio Syafi"i di Mataram (Yani/Radar Lombok)

Direktur Utama BMT Baitul Tamkin NTB terbilang berusia masih sangat muda.  Di kalangan penggiat lembaga keuangan mikro syariah di NTB nama Lalu Qazwaini sangat familir. BMT Baitul Tamkin NTB yang dinakhodai dan dirintasnya sebagai salah satu lembaga keuangan mikro cukup diperhitungkan.  Kini, dia  memiliki binaan anggota mencapai lebih 6 ribu orang.

Qazwaini – panggilan karib, pemuda asal Lendang Nagka Lombok Timur ini  sudah bersentuhan dengan kegiatan social entrepreneurship melalui keuangan ekonomi syariah sejak mahasiswa. Dia pun sudah memiliki pengetahuan dan jejaring cukup luas dalam  dunia  kewirausahaan fokus melalui ekonomi keuangan syariah.

Kala mahasiswa pun dia sudah dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Pusat Inkubasi Usaha Kecil atau disingkat Pinbuk di kampus IAIN Mataram. Lembaga tersebut sebagai ajang memperkenalkan, menumbuhkan dan mengasah jiwa entrepeneruship para mahasiswa di kampus tersebut.

Usai menamatkan studi IAIN Mataram pada tahun 2010 tekad, komitmen dan kesungguhannya makin kuat kepada social entrepeneurship. Ini menjadi pilihan hidup bagi pemuda berusia 30 tahun itu.

Dibantu rekan lain, Qazwaini pun membentuk lembaga pemberdayaan bagi usaha kecil. Modal pun dikumpulkan dengan patungan teman lainnya. Dia pun mengambil pilihan berbeda dari pada umumnya. Dengan lembaga pemberdayaan ekonomi bagi usaha kecil dengan menerapkan sistem syariah.

Kala itu, sistem syariah belum sepopuler saat ini. Lembaga keuangan syariah pun di NTB masih sangat minim. Meski begitu, dia berkeyakinan pilihan fokus social entrepreneruship melalui lembaga keuangan mikro syariah sudah tepat dan benar.

Pilihannya ini  diawali karena ada keprihatinan terhadap masyarakat ekonomi bawah yang banyak terjebak pada pinjaman dari para rentenir. Meskipun semua itu dilalui dengan sangat berat dan sulit. Tapi itu semua tak menyurutkan semangat dan langkah, serta kebulatan hati dan tekad yang  kuat. Secercah harapan pun muncul pada pertengahan tahun 2011 lalu.

Kala itu, PT Tazkiah perusahaan ekonomi keuangan syariah dimiliki pengusaha nasional,  yang juga perintis ekonomi syariah islam di Indonesia Muhammad Antonio Syafi'i bekerja sama dengan Pemprov NTB untuk melaksanakan berbagai program pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat kelas bawah dengan menerapkan prinsip – prinsip syariah Islam.

Merasa memiliki visi misi yang sama, serta berbekal dengan pengalaman pemberdayaan  yang  dilakoni selama ini, Qazwaini pun mengikuti seleksi yang dilaksanakan PT Tazkiah di Bogor pada 2011 lalu bagi para calon pengusaha yang siap diberikan modal bagi pemberdayaan  usaha ekonomi kecil masyarakat bawah dengan menggunakan sistem syariah Islam.

Setelah melalui seleksi dan perjuangan sangat ketat, Qazwaini terpilih dari NTB. Dia   harus siap bekerja keras untuk memberikan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kelas bawah. Akhirnya, pada akhir 2011 didirikan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Syariah Baitul Tamkim NTB.

Qazwaini mengatakan, lembaga pemberdayaan Baitul Tamkim NTB bekerja dengan meniru pola kerja yang dilakukan Grameen Bank di Bangladesh yang didirikan oleh peraih Nobel Perdamaian dunia, Muhammad Yunus. Grameen Bank didirikan dengan fokus pemberdayaan terhadap masyarakat pada ekonomi kelas bawah. " Pemberdayaan ekonomi yang kita pergunakan dengan pendekatan syariah Islam,'' ujarnya.

Pihaknya memberikan bantuan permodalan usaha kepada masyarakat ekonomi kelas bawah dengan  sistem simpan pinjam. Namun berbeda dengan konvensional lebih pada sistem riba pada pengembalian modalnya. Namun, Baitul Tamkin lebih kepada sistem simpan pinjam dengan pembagian hasil  sesuai dengan di syariah dalam Islam. Pemberian modal tersebut pun dilakukan tanpa ada agunana atau jaminan. Banyak dari warga  yang jadi  sasaran dari Baitul Tamkin  terjebak dalam pinjaman rentenir.

Akibatnya warga itu pun sangat sulit berkembang usahannya.  Dia menuturkan, banyak dari anggota Baitul Tamkin sebelumnya terjerat 3 hingga 4 orang rentenir. " Ada salah satu anggota di Aikmel Lombok Timur punya usaha kerupuk. Usaha kelihatan cukup lancar. Tapi kok tetap begitu saja. Ternyata dia terjerat hingga 4 orang rentenir. Sehingga seperti gali lubang tutup lobang lagi," tuturnya.

Pihaknya lalu  berkeinginan warga itu bisa terbebas jeratan rentenir dan terentaskan dari garis kemiskinan. Rata – rata pinjaman lunak yang diberikan itu mulai dari Rp 500 ribu hingga pada Rp 3 juta. Meski, semua anggota kelompok Baitul Tamkim berasal dari kelompok masyarakat ekonomi lemah, relatif pengembalian pinjaman dari anggota mencapai sekitar 90 persen lebih.

Pasalnya, pihaknya  tidak semata- mata hanya memberikan pinjaman lunak, tapi juga memberikan pendamping kepada para anggotanya untuk bisa mengembangkan dan memajukan usahanya. Bahkan, sering kali Baitul Tamkin menjadi penghubung sekaligus penjamin anggota kelompok yang memerlukan pinjaman diatas Rp 5 juta di perbankan untuk mengembangkan dan memajukan usaha tersebut. Para anggota kelompok pun memiliki kesadaran cukup tinggi untuk mengembalikan pinjaman lunak diberilan kepada mereka. " Para anggota kita tekankan prinsipnya kebersamaan, solidaritas, rasa tanggung jawab. Alhamdulliah, tingkat pengembalian pinjaman mencapai 90 persen," ucapnya.

Di tangan dingin Lalu Qazwaini, Baitul Tamkin kian berkembang dan diterima masyarakat luas ekonomi kelas bawah. Pada tahun 2015 lalu, Baitul Tamkin resmi menjadi koperasi syariah, dari sebelumnya lembaga pemberdayaan ekonomi syariah.

Dengan rentang waktu 3 tahun, aset dikelola di koperasi Syariah Baitul Tamkim NTB mencapai sekitar Rp  5 miliar lebih dengan anggota mencapai 5 ribu lebih tersebar 4 kabupaten Yakni, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara dan kabupatem Sumbawa Barat. Adapun dengan jumlah karyawan Baitul Tamkim sebanyak 33 orang.

Bahkan, pihaknya pun memiliki desa yang binaan. Dengan pemberdayaan dan  pembinaan tersebut diharapkan warga miskin di desa itu berusaha dientas dari kemiskinan secara bertahap. Salah satu desa binaanya adalah di Desa Toya, Aikmel Lotim, dan di desa Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. " Tujuan kita bagaimana meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga lemah dengan cara – cara konomi islam menuju keluarga berkah dunia akhirat, " sebutnya. Selain itu, Baitul Tamkim NTB dihajatkan sebagai koperasi syariah pertama sekaligus koperasi syariah percontohan di NTB.

Sebagai generasi muda, dia berharap pemuda itu harus kreatif dan inovatif. Banyak peluang dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan pemuda. Asalkan ada kemauan, tekad dan ikhtiar.

Pemuda tidak harus berpangku tangan dan menunggu kesempatan. Namun pemuda harus bisa menciptakan kesempatan dan lapangan pekerjaan tersebut. Baik bagi dirinya dan orang lainnya.

" Mari pemuda jemput dan ciptakan peluang ada disekitarnya. Bukan hanya pasrah menunggu peluang atau lapangan pekerjaan," pungkasnya.(yan)