Awalnya Jadi Mimpi Buruk, Kini Tak Ingin Dipindah

Awalnya Jadi Mimpi Buruk
MENGURUS JENAZAH: Tiga dari empat orang perempuan petugas pengurus jenazah IPJ RSUD Kota Mataram yang bekerja sepenuh hati.(ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

PENUTURAN PARA WANITA PENGURUS RUANG JENAZAH RSUD KOTA MATARM

Bertugas sebagai petugas pemulasaran (pengurus) jenazah terdengar mencekam. Tidak hanya membutuhkan nyali yang besar Tapi juga keberanian yang cukup. Inilah yang dilakoni empat wanita penjaga ruang jenazah RSUD Kota Mataram selama ini.

PETUGAS penjaga ruang jenazah biasanya dilakoni oleh kaum lelaki. Tapi berbeda dengan petugas di Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) RSUD Kota Mataram. Dari tujuh petugas yang ditempatkan, empat di antaranya adalah perempuan muda. Keempat srikandi ini memiliki nyali dan keberanian kuat. Karena sudah cukup lama bekerja mengurus jenazah. Bukannya ingin menjauh, keempatnya mengaku tidak ingin dipindah sebagai petugas pemulasar jenazah.

Mereka menikmati pekerjaan mereka yang penuh tantangan itu. Hingga tak terasa, tiga tahun sudah empat petugas perempuan ini bertugas di IPJ RSUD. Saat koran ini bertandang ke IPJ RSUD, ada tiga dari empat petugas IPJ sedang bertugas. Ketiganya adalah Yati Nurhati, Kadek Lia dan Heni Rahmayanti.

Mereka bercerita, saat memasukkan lamaran di RSUD, tak terbersit sedikit pun untuk bertugas sebagai penjaga ruang jenazah. Saat diterima sebagai petugas jenazah, kengerian langsung terbayang. Situasi seram dan angker juga terngiang. Selembar surat penugasan dianggap mimpi buruk. ‘’Saya langsung ditugaskan di sini. Ya langsung terbayang ngerinya bagaimana. Saya membayangkan ruangan yang gelap seperti di film-film,’’ kenang Yati Nurhayati saat pertama kali ditugaskan sebagai penjara ruang jenazah.

Namun apa yang dibayangkan tidak seburuk yang diperkirakan. Ruangan jenazah RSUD Kota Mataram berbeda. Ruangannya terang dan tidak seseram yang dibayangkan. Ruangan yang terletak di belakang IGD penuh dengan pengharum. TV juga disediakan untuk petugas dan keluarga pasien. Tujuannya agar perawat dan keluarga pasien menjadi betah. ‘’Ruangan harus tetap harum. Kondisinya juga harus dibuat senyaman mungkin,’’ katanya.

Setiap harinya, RSUD Kota Mataram kedatangan minimal lima jenazah. Jumlah jenazah ini menjadi lumrah karena RSUD adalah pusat rujukan di NTB. Mereka menerima bermacam jenazah. Seperti jenazah yang ditemukan di jalan dan belum diketahui keluarganya. Atau jenazah tanpa kelengkapan organ tubuh dan identitas. ‘’Itu biasanya dibawa ke sini dulu. Kita hubungi kepolisian. Sampai nanti akhirnya dibawa oleh keluarganya,’’ ungkapnya.

Petugas IPJ mempunyai tugas beragam. Mulai dari memandikan, mengkafani hingga memberikan formalin. Untuk jenazah perempuan, akan dimandikan dan dikafani oleh petugas perempuan. Begitu juga jenazah laki-laki akan diurus oleh petugas laki-laki. ‘’Tapi nanti itu sesuai dengan permintaan keluarga akan kita laksanakan. Jika dari luar daerah biasanya diinapkan dulu di sini. Setelah bersih baru dibawa. Tapi kan biasanya lebih cepat lebih baik,’’ timpal Kadek Lia.

Bekerja sebagai petugas pemulasaran jenazah tentu memiliki pengalaman menarik. Kondisi jenazah yang diurus pun beragam. Mental pun harus disiapkan petugas. Seperti jenazah yang kondisi kepalanya hancur. Kemudian organ tubuh tidak utuh yang disebabkan oleh kecelakaan. ‘’Itu kita sampai gemetar karena kita harus mengumpulkan bagian tubuh yang hancur. Isi kepala dan lainnya kita kumpulkan. Siapa sih yang tidak gemetar melihat kondisi jenazah seperti itu. Tapi karena tugas kita tiap hari, lama kelamaan kita bisa tenang,’’ terangnya.

Belum lagi jika menerima jenazah korban pembunuhan, cukup banyak kondisinya mengenaskan. Bagaimana pun kondisi jenazah yang diterima mereka pun sigap untuk mengurusnya. ‘’Kalau jenazah yang korban kasus pembunuhan, biasanya itu dititip di sini oleh RS Bhayangkara. Karena kita di sini punya dua freezer,’’ sebutnya.

Saat bertugas membersihkan jenazah, ada ritual dan cara unik yang dilakukan petugas. Walaupun sudah tidak bernyawa, petugas tetap mengajak bicara untuk meminta izin kepada jenazah. ‘’Ya kita permisi dulu ke jenazahnya seperti ajak mengobrol. Tetap kita memanusiakan walaupun sudah menjadi jenazah. Kita tetap anggap dia sebagai manusia,’’ kata Heni Rahmayanti.

Karena sudah menjadi tugas rutin, mereka sudah tidak mempersoalkan kondisi jenazah lagi. Tugas mengurus jenazah dilakukan dengan sepenuh hati. Selain itu, mereka sudah terbiasa dan nyaman bekerja sebagai pengurus jenazah. Bahkan, mereka tidak ingin dipindah tugas ke bagian lain. ‘’Kami sudah terbiasa dan nyaman. Hubungan kami sesama petugas juga akrab. Kalau bisa kami jangan dipindah dari sini,’’ ungkap Heni yang diamini rekan-rekannya.

Kini tugas mengurus jenazah dikerjakan sepenuh hati. Mereka juga mempunyai tugas mulia. Karena selain bekerja mengurus jenazah juga mendapat pahala. Seperti motto dari IPJ RSUD Kota Mataram. ‘’Bekerja untuk jenazah adalah ibadahku. Itu motto yang diberikan oleh Pak Dirut. Kami memang kerasan di sini,’’ pungkasnya. (**)