Anjar Siswara, ASN Yang Nyambi Jadi Pemilah Sampah

Pagi Hitung Uang, Sore Pilah Sampah

MEMILAH: Anjar Siswara saat memilah sampah di lingkungannya di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya. (Istimewa/radar Lombok)

Menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN) tidak membuat Anjar Siswara, warga Kelurahan Leneng Kecamatan Praya ini, hanya menghabiskan waktu di kantor. Usai melaksanakan aktivitasnya sebagai ASN, ia memilih mendedikasikan hidupnya untuk memilah sampah yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

ANJAR, sapaan akrab pria yang kini berusia 40 tahun ini sehari-hari bekerja sebagai ASN di Pemkab Lombok Tengah. Kesehariannya banyak dihabiskan untuk menghitung uang kalau di kantor. Maklum, posisinya di pemkab sebagai bendahara di Bagian Humas dan Protokol Setda Lombok Tengah. Namun meski sehari-hari berkutat dengan uang, tidak menyurutkan kepeduliannya dengan kebersihan.

Bahkan sebagai bentuk kepedulian terhadap terhadap lingkungan, ia memanfaatkan waktu luang untuk memilah sampah. Dirinya yang saat ini  menjabat juga sebagai Direktur Bank Sampah Bumi Sejahtera ini mungkin bagi sebagian masyarakat sampah suatu hal yang menjijikan. Namun baginya bahwa permasalahan sampah yang selama ini terus terjadi harus diberikan solusi.

Sehingga ia membuat inovasi dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Bahkan saat ini, nasabah bank sampah yang dikelolanya ada 294 orang. Mereka yang dijadikan nasabah merupakan ibu rumah tangga. Karena di nasabah sampah inilah, nantinya Anjar mengambil sampah. “Pengambilan sampah dilakukan dari rumah ke rumah menggunakan mobil operasional khusus. Warga tinggal mengumpulkan sampah menggunakan karung yang disiapkan bank sampah,” ungkap Anjar Siswara kepada Radar Lombok, Minggu (31/7).

Baca Juga :  Meratapi Derita AGUSTINA SINTA NINGSIH Melawan Penyakit Kaki Gajah

Ayah lima anak itu mengaku, sementara ini fokusnya hanya untuk kebersihan lingkungan dan memberikan manfaat untuk masyarakat. Bahkan sebagai bentuk dedikasinya, pihaknya mengaku sampah yang di kumpulkan belum mengarah ke bisnis. “Sementara ini fokus menimbang dan memilah sampah yang dikumpulkan warga,” tegasnya.

Nantinya sampah yang sudah dipilah ini akan dijual dan hasil penjualan sampah yang dipilah, dikumpulkan Anjar untuk nantinya dibagikan kepada nasabah. Karena memang ia bersama dengan nasabah sudah ada kesepakatan untuk mencairkan dana dari penjualan saat waktu tertentu. Seperti memasuki bulan puas, hari raya, maulid dan untuk kebutuhan pendidikan. “Bank sampah yang saya kelola ini berdiri pada Juli 2020 lalu dan bekerja sama dengan Bank Sampah Bintang Sejahtera di Kecamatan Pujut. Makanya sampah yang kami pilah ini langsung dikirim ke Bank Sampah Bintang Sejahtera dan mereka yang membayar,” tegasnya.

Baca Juga :  Ashghar Azizi Altlet e-Sport NTB yang Wakili Asia di Kejuaraan Dunia e-Football

Hanya saja memang tidak semua sampah yang mereka bisa jual. Jenis sampah yang dijual adalah non organik seperti plastik, logam dan sejenisnya. Sementara, sampah organik sementara ini dimasukkan ke lubang biopori untuk dijadikan pupuk nantinya. Ia mengaku dalam satu kali pencairan, satu nasabah bisa mendapatkan uang dari Rp 600.000 sampai Rp 1.000.000. “Memang sih, untuk penanganan sampah organik ini belum maksimal. Rencananya ke depan kami akan melatih para nasabah ini  untuk mengelola langsung sampah organik menjadi pupuk organik cair (POC) dan eko enzim,” tambahnya. ( M Haeruddin – Lombok Tengah)