Upaya Mempertahankan Bisnis Gerabah

INOVASI : Berbagai inovasi dan kreasi yang dilakukan membuat bisnis Banyu Urip Artshop mampu bertahan hingga saat ini. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Kerajinan gerabah tidak lagi populer seperti dulu. Tanpa inovasi, karya gerabah terancam tinggal sejarah. Inovasi itulah yang menjadi kunci Banyu Urip Artshop mampu bertahan hingga saat ini.


AZWAR ZAMHURI – LOMBOK BARAT


SEBUAH toko seni yang menyediakan berbagai aneka jenis gerabah berdiri di Jalan Wisata Banyumulek, RT 03, Banyumulek Timur, Lombok Barat. Namanya adalah Banyu Urip Artshop.
Toko itu berawal dari usaha kecil sebuah keluarga. Pada tahun 1986 silam, hanya bermodalkan satu buah meja tempat gerabah dijajakan di depan rumah. Namun berkat strategi dan ketekunan, mampu berkembang dan bertahan hingga saat ini. Salah satu hal yang menarik dari Banyu Urip Artshop adalah desain dan motif yang diberikan pada karya gerabah. “Cuma Untuk motif ini kita terus lakukan inovasi,” ujar Fitriyatul Laely, pengelola Banyu Urip Artshop.
Memberikan motif bergaya milenial pada gerabah mulai dilakukan sejak beberapa waktu terakhir. Tuntutan zaman mengharuskan adanya inovasi. Apalagi berbagai kebijakan pemerintah dan bencana alam, berpengaruh langsung terhadap bisnis gerabah.
Perempuan yang akrab disapa Ely ini berkecimpung dalam bisnis gerabah karena harus meneruskan usaha orang tuanya. Inovasi memang lahir dari generasi muda sebagai pengganti generasi tua. “Sejak tahun 1986 dimulai usaha ini oleh umi dan bapak. Kita anak-anaknya mulai terjun membantu baru-baru ini, karena umi dan bapak kan sudah tua. Jadi ruang gerak sudah lebih sempit, tidak leluasa seperti dulu,” tuturnya.
Adanya inovasi sangat dirasakan memberikan perubahan positif terhadap bisnis gerabah. “Jelas lebih laris dengan adanya inovasi baru. Terlihat gerabah gak gitu-gitu aja. Jadi ada angin segar. Akhirnya mulai lah coba-coba ke produk lain semisal guci dan lain-lain untuk dilukis, alhamdulillah progresnya bagus ada peningkatan,” ucap perempuan kelahiran 11 April 1992 ini.
Berbagai jenis gerabah selalu mengandalkan inovasi. Mulai dari pot, hiasan dinding, alat makan, dekorasi rumah, dekorasi taman, alat mandi dan lain sebagainya. Tentu saja, modifikasi tak sembarangan dilakukan. Semua dipikirkan dengan baik. “Kita siapkan motif menyesuaikan dengan yang lagi hits di media sosial, karena kita mulai Go online juga. Jadi harus ikuti zaman. Apalagi sekarang lagi musim orang tanam kaktus, skulen dan lain-lain. Bertanam sudah jadi gaya hidup,” katanya.
Ely masih ingat bisnis gerabah sempat semakin sulit ketika terjadi bencana gempa. Setelah gempa berakhir, kembali ada kebijakan pemerintah tentang bagasi berbayar. Semua itu memberikan dampak buruk. Terlebih lagi tahun ini, pandemi Covid-19 melanda sebagian besar negara. “Setelah kita pulih dari gempa, pemerintah mengeluarkan peraturan bagasi berbayar. Efeknya besar juga itu, karena tamu asing maupun domestik jadi enggan berbelanja. Alasannya ya bagasi mahal. Belum selesai itu, datang lagi corona, makin sulit,” ungkapnya.
Meskipun begitu, Ely bersama keluarganya tidak patah semangat. Selalu saja ada jalan bagi yang benar-benar memiliki tekad. “Syukurnya ada media sosial, mau tidak mau kita Go online. Alhamdulillah karena lagi musim nanam tanaman, jadi yang laris pot dan sejenisnya,” jelas Ely.
Dulu, gerabah di Banyumulek untuk makan menyambung hidup. Sejarah tersebut tak akan terlupakan. Sesulit apapun keadaan saat ini, usaha gerabah akan terus dikembangkan. “Cuma ya itu, harus pintar-pintar cari model baru, biar gak itu-itu aja,” ujarnya.
Pada masa jayanya kerajinan gerabah dulu, omset sangat besar. Bahkan untuk pembukuan saja, menggunakan sistem komputer. Namun semua tidak seperti dulu lagi. Inovasi dan kreasi harus benar-benar dilakukan dengan baik agar bisnis gerabah tetap lancar.
Harga gerabah yang dijual bervariasi dari Rp 5 ribu hingga Rp 300 ribu per buah. Meski di tengah masa sulit, usaha Ely dan keluarganya tetap bisa mendapatkan pemasukan jutaan rupiah per hari. Semua itu berkat inovasi, modifikasi dan sentuhan kreasi yang diberikan pada karya gerabah.
Tidak hanya langsung menjual ke konsumen, Banyu Urip Artshop juga memberikan peluang bagi siapapun yang ingin menjadi penjual. “Kita bisa berikan harga lebih murah bagi yang ingin berjualan. Tinggal diambil saja produknya di sini,” kata Ely. (**)