Sejarah Bahasa Sasak Halus di Lombok

Ahmad Ripa'i Ayatullah, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024. (IST FOR RADAR LOMBOK)

Ahmad Ripa’i Ayatullah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024

Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics

Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A

———————————————————- 

Bahasa Sasak halus merupakan salah satu dialek Bahasa Sasak yang digunakan oleh masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Banyak orang yang tidak tahu asal-usul dan sejarah dari Bahasa Sasak halus, bahkan orang Sasak asli banyak yang masih awam terhadap Bahasa Sasak halus itu sendiri. Bahasa Sasak halus memiliki tata bahasa yang lebih kompleks dan halus daripada Bahasa Sasak biasa. Digunakan dalam upacara adat, pergaulan antar sesama bangsawan dan dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau yang dihormati. Pada esai ini, kita akan mengupas sejarah Bahasa Sasak halus di Lombok.

Jika dilihat dari perkembangan bahasa, khususnya pada bahasa halus di Lombok, bahasa halus mulai menjadi sebuah identitas per orang, di mana tidak semua orang Sasak bisa menggunakannya, bahkan bahasa ini sering kali digunakan pada situasi tertentu. Misalnya pada acara sorong serah, menyilaq (mengundang orang) dan acara adat lainnya.

Bahasa Sasak halus juga bisa menjadi identitas bagi orang yang menggunakannya. Pada umumnya, orang yang bergelar atau berketurunan Raden, Lalu, Baiq, dan Yeq menggunakan bahasa halus untuk berkomunikasi sesama keturunannya. Bahkan tidak hanya dari garis keturunan, bahasa halus di Lombok juga bisa dibilang wajib bagi orang yang telah melakukan ibadah haji dan bergelar Haji secara resmi.

Sejarah Bahasa Sasak halus dapat ditelusuri kembali ke masa kerajaan Hindu-Buddha di Lombok. Pada masa itu, Bahasa Sasak digunakan sebagai bahasa resmi kerajaan. Para bangsawan dan pejabat kerajaan menggunakan Bahasa Sasak yang lebih halus dan sopan untuk menunjukkan status sosial mereka.

Setelah masuknya agama Islam ke Lombok pada abad ke-16, Bahasa Sasak halus tetap digunakan oleh masyarakat Sasak. Bahasa Sasak halus digunakan dalam berbagai konteks, termasuk dalam pengajian, khutbah dan ceramah agama.

Pada masa penjajahan Belanda, Bahasa Sasak halus mengalami pergeseran penggunaan. Bahasa Indonesia mulai digunakan sebagai bahasa resmi pemerintahan. Akibatnya, penggunaan bahasa Sasak halus semakin terbatas, terutama dalam kalangan masyarakat umum.

Pada masa kemerdekaan, Bahasa Sasak halus mulai dipelajari dan dilestarikan kembali. Hal ini dilakukan oleh para akademisi dan tokoh adat yang diaplikasikan dalam berbagai kegiatan, seperti dalam pendidikan, acara adat dan seni budaya.

Bahasa Sasak halus hari ini dijadikan sebagai identitas, meski seiring berjalannya waktu mangalami pergeseran, sehingga tidak banyak orang yang menggunakannya, hal ini tidak terlepas dari sifat bahasa yang berubah-ubah. Kalian dapat melihat bukti peninggalan sejarah tentang bahasa Sasak halus pada kitab Aksare Sasak dan tradisi sorong serah aji krame yang masih dilestarikan sampai sekarang. (*)

Komentar Anda