Profesor Jamaluddin Resmi Dikukuhkan jadi Guru Besar UIN Mataram

PROSESI : Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Mutawalli, saat prosesi memindahan tali toga kepada Prof. Dr. H. Jamaluddin, MA sebagai Guru Besar seusai dikukuhkan. (Faisal Haris/radarlombok)

MATARAM – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram resmi menggukuhkan Prof Dr H Jamaluddin, MA sebagai guru besar bidang Sejarah dan Pradaban Islam di gedung auditorium pada Sabtu (4/9/2020).

Hadir dalam pengukuhan, civitas akademik UIN Mataram, mulai dari pimpinan hingga para dosen serta beberapa tokoh di NTB. Diantaranya, mantan Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), Rois Syuriah PWNU NTB TGH Lalu M turmuzi Badaruddin, TGH Ruslan Zain dan tokoh lainnya.

Selepas mengukuhkan Prof Dr H Jamaluddin, MA, Rektor UIN Mataram, Prof Dr H Mutawalli, M.Ag mengatakan atas ridho yang maha kuasa dan dukungan masyarakat NTB bahwa sampai saat guru besar di UIN Mataram sudah mencapai 11 orang. “Insya Allah dalam waktu dekat, mudah-mudahan akan lahir guru besar baru di UIN. Karena kami memiliki program akselerasi guru besar, sehingga yang berproses waltaqron di kepala bagian kepengawaian sekarang ini untuk guru besar sudah mencapai 18 orang untuk tahun 2020,”ungkap saat memberikan sambutan.

Prof Dr H Jamaluddin, lahir di Kembang Kerang, Lombok Timur pada 23 Juli 1974. Sejak tahun 2000, ia menjadi dosen di UIN Mataram (waktu itu masih STAIN Mataram), dan mengajar juga di program pascasarjana dan beberapa perguruan tinggi swasta. la mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Ia pernah menjabat sebagai Pembatu Ketua I bidang Akademik pada STAI Darul Kamal NW Lombok Timur dari tahun 2007-2015. Sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Mataram (2011-2015). “Saya sangat senang, karena apa?. Karena ini menjadi energi bagi lembaga perguruan tinggi UIN Mataram dan tentu sajak ini akan berkontribusi positif bagi peningkatan pendidikan di Nusa Tenggara Barat,”tambahnya

“Saya juga bangga, karena yang saya tahu baru kali ini ada guru besar dalam bidang sejarah. Padahal sejarah itu memiliki peran dan makna yang signifikan bagi kehidupan manusia,”sambungnya.

Prof Mutawalli mengatakan dengan semakin banyak lahirnya guru besar di UIN Mataram sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kampus ke arah yang lebih baik. “Satu hal yang ingin saya katakan dalam kesempatan ini, kami hari ini sedang membangun jambatan bukan membangun tembok di UIN Mataram ini. Mari kita bangun jambatan sehingga silaturahmi kita terus bisa berbuat. Jangan kita bangun tembok karena tembok itu membuat kita berpisah antara satu dengan yang lainnya,”tutupnya.

Prof Jamaluddin saat menyampaikan pidato ilmiahnya, mengaku sesungguhnya peristiwa pengukuhan guru besar kepada dirinnya merupakan anugerah Allah SWT. “Saya mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan orasi ilmiah di depan forum terhormat senat UIN Mataram,”ucapnya.

Ia teringat saat masih di kampung, ketika di Pondok Pesantren Darul Kamal bersama TGH Ruslan Zain. Dirinya pernah bercita-cita menjadi tentara, berdakwah melalui institusi tentara. Maka ketika menginjakkan kaki di IAIN Sunan Ampel Mataram, dirinya mulai berdoa dan berusaha untuk mengejar cita-cita menjadi tentara, bukan berdoa ingin jadi guru besar. Bahkan selama enam tahun ia terus berdoa ingin menjadi tantara. “Ketika saya semester tiga saya bertemu dengan seorang dosen IAIN ketika itu yang mengatakan kepada saya kamu cocok menjadi dosen. Maka pada saaat itu saya juga mulai menambah doa, kalau jadi tentara itu tidak baik buat saya maka buat saya menjadi dosen. Saya berdoa seperti ini hampir lima tahun,”ucapnya sambil mengingat kenangan waktu itu.

Bahkan dirinya pernah ikut tes tentara, tapi sayang nasib belum berpihak padanya. Ia pun tidak lulus karena fostur tubuh yang tidak memungkinkan untuk menjadi tentara. “Pada saat yang sama saya juga ikut tes dosen di STAIN Mataram dengan formasi Perencanaan Sistem Pendidikan Islam dan ternyata Allah memilihkan jalan yang terbaik yaitu sebagai dosen. Bukan jadi tantara,”tuturnya.

Tidak berhenti sampai disitu, ia juga melanjutkan program studi S2 mengambil Studi Islam, konsentrasi Sejarah dan Peradaban Islam. Saat itu Prof Badri Yatim (Sejarah Peradaban Islam) sebagai ketua program studinya. Di sinilah ia bertemu dengan ilmuan-ilmuan hebat di bidangnya, Uka Tjandra Sasmita (dosen Arkeologi Islam pertama di Indonesia), Hasan Muarif Ambari (Arkeologi Islam), Dick van der Meij (Dosen tamu Filolog dari Belanda/ahli Naskah Jawa dan Lombok), Oman Fathurrahman (Filolog Islam) dan Azyumardi Azra (Sejarah Sosial dan Intelektual Muslim). “Berguru kepada mereka ini, telah merubah saya bukan hanya menjadi orang yang senang belajar sejarah, tetapi telah menumbuhkan akar yang kuat, semangat yang kuat untuk tetap istiqamah dalam meneliti, mengkaji dan menulis sejarah,”sambungnya.

Dari sana juga dirinya, merasa menemukan sesuatu yang baru selalu menjadi tujuan dalam hidupnya. Ingin mengungkap masa lalu untuk melihat masa depan. “Inilah yang membuat saya bisa berdiri di hadapan hadirin yang terhormat,”ucapannya. (sal)