Pertahankan Koleksi karena Nilai Sejarah

SEPEDA : Muhammad Abu Bakar bersama sepeda tuanya saat acara sepeda malam Kota Mataram belum lama ini (Zulfahmi/Radar Lombok)

Uang bukanlah segala-galanya. Sepeda tua zaman kemerdekaan ditawar dengan harga mahal. Namun Muhammad Abu Bakar tidak goyah. Ia mempertahankan sepedanya karena punya nilai sejarah.

 

 


ZULFAHMI-MATARAM


 

Belum lama, ribuan pesepeda berkumpul di depan Taman Sangkareang Mataram. Kebetulan mereka mengikuti event Night Ride yang digelar oleh Pemerintah Kota Mataram dalam rangka memeriahkan HUT Kota Mataram ke-23. Diantara mereka, ada satu sepeda yang menarik perhatian. Sepeda tua lengkap dengan atribur perjuangan kemerdekaan seperti bendera Merah Putih, gambar Garuda, hingga gambar proklamator Soekarno-Hatta. Sepeda ontel tersebut milik Muhammad Abu Bakar. Saat ngobrol dengan koran ini, Abu Bakar menceritakan nilai sejarah sepeda yang selama ini menemaninya itu.

Pria itu adalah Umur Abu Bakar, 47 tahun. Ia menegaskan umur sepedanya lebih tua dari umurnya. Merek sepedanya Phonix yang diproduksi sekitar tahun 1950. Sepeda ini adalah warisan turun-temurun keluarganya. Pemilik pertama adalah kakeknya yang dulu biasa dipakai saat ke masjid atau tempat-tempat pengajian pada tahun 1970. Saat itu sedang hangat-hangatnya isu PKI.

Laki-laki kelahiran Merembu Lombok Barat ini menjelaskan, sebelum meninggal sang kakek mewariskan sepeda ini ke dirinya untuk dirawat dan dipergunakan. Hingga kini sudah sekitar 13 tahun sepeda tua ini menemaninya. Ia pun akrab dipanggil Muhammmad si sepeda hias.” Ini sepeda warisan papuq tuan saya yang paling berharga," tuturnya.

Agar nilai sejarah tetap melekat, ia lalu memberikan hiasan di sepeda tersebut berupa bendera Merah Putih, burung garuda dan hiasan lainnya. Setiap memakai sepeda ini, ia juga tidak lupa berpakaian khas pejuang kemerdekaan yang hendak perang melawan penjajah. Tapi pakaian favoritnya adalah pakaian ala Presiden Soekarno.“ Saya sengaja  modif merah putih untuk mengingat sejarah bangsa Indonesia," terangnya.

Banyak kolektor sepeda yang ingin membeli sepeda milik Abu Bakar. Tidak tanggung-tanggung, calon pembeli menjanjikan harga hingga ratusan juta rupiah. Namun Abu Bakar tidak goyah. Ia tetap mempertahankan sepeda ini. Alasan utamanya, ini adalah warisan yang harus tetap dijaga." Berapapun orang minta beli saya tidak akan jual, karena ada nilai sejarah dan wasiat," terangnya.

Ia memang seorang pecinta sepeda.  Ia pernah bersepeda layanya pesepeda profesional. Misalnya menjajal Mataram-Lombok Timur dengan jarak tempuh 58 kilometer. Ia juga bersepeda dari Mataram ke Nipah KLU.

Selain berolahraga, lewat sepeda ini Abu Bakar ingin mengingatkan generasi muda tentang nilai-nilai sejarah. Misalnya, di bagian sepedanya ada mesin pemutar musik yang memutar lagu-lagu perjuangan. Ia mengaku sampai sekarang seluruh spare part belum pernah diganti sejak dulu.” Semua masih asli bahkan catnya tidak pernah diganti,” tutupnya.(*)