Perajin Berharap Kerajinan Patung Senanti Hidup Kembali

BERTAHAN: Salah seorang perajin patung Senanti asal Dusun Senanti, Desa Sukadamai, terlihat masih bertahan membuat kerajinan patung di tempat miliknya yang baru di wilayah Lombok Tengah (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Redupnya pemasaran kerajinan patung Senanti, membuat banyak perajin patung ini yang kemudian beralih profesi. Meski ada yang masih bertahan, namun kebanyakan mereka telah meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan.

 

 


JANWARI IRWAN – LOTIM


 

BERMODAL pahat dan alat tradisional lainnya seperti parang dan pisau, para perajin patung Senanti terlihat cekatan membentuk potongan kayu menjadi patung. Itu sudah sangat biasa, bahkan bayangan dan cara membentuk kayu menjadi patung berbentuk manusia seolah berada diluar kepala. Sementara sisa pahatan kayu terlihat mengotori halaman tempat kerjanya.

“Meskipun sekarang kami sudah jarang membuat patung ini. Tapi Insha Allah kemampuan itu terus melekat di benak kami. Kalau diminta buat lagi, kami siap,” kata H. Rahmatullah, salah seorang perajin ketika ditemui di kediamannya, Selasa kemarin (21/2).

Menurutnya, kerajinan Patung Senanti dulu sangat tenar dan dicari masyarakat dari berbagai pelosok nusantara. Patung ini banyak dicari karena mengandung nilai seni yang tinggi. "Bahkan dulu banyak wisawatan maupun pengusaha dari Bali dan luar daerah lainnya sengaja memesan ke sini dalam jumlah banyak," tuturnya.

Bentuk patung Senanti sendiri beraneka ragam. Mulai dari bentuk menyerupai tubuh manusia, bentuk binatang, hingga bentuk miniatur lainnya bisa dibuat oleh para perajin di Dusun Senanti, yang kini lebih banyak bermukim di Dusun Kerong, Desa Sukadamai, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

[postingan number=3 tag=”features”]

Namun, dari beberapa jenis bentuk patung yang ada, yang paling banyak dicari adalah patung dengan bentuk menyerupai tubuh manusia, karena bentuknya yang unik dan artistik.

“Harga patung dengan konsep seperti ini bisa sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi kalau yang miniatur ada juga yang harga puluhan ribu. Cukup terjangkau," ungkap H. Rahmatullah.

Dia mengaku tidak mengetahui kapan persisnya kerajinan patung Senanti ini mulai dibuat para perajin di desanya. Namun, ia memastikan bahwa patung ini sudah ada sejak dirinya lahir. Kemampuan memahat patung ini diungkapkan, merupakan warisan turun temurun dari masyarakat Dusun Senanti. “Sejak kita SD sudah bisa buat patung ini. Kami melihat orang tua kami, dan belajar dari mereka. Ya langsung bisa begitu saja,” akunya.

Dapat dikatakan kerajinan patung Senanti ini merupakan bakat alam warga Dusun Senanti. Meskipun c ara membuat terlihat sangat sederhana, namun tidak semudan yang dibayangkan. Untuk jenis patung tertentu, Kepala Desa Sukadamai, Badrin Angger, menyatakan ada ritual khusus yang harus dilakukan untuk membuatnya.

“Misalnya untuk jenis patung tertentu itu seperti Praja (menyerupai kuda, red), itu kita harus pakai ritual dulu sebelum membuatnya. Itu pun nanti harus dibuat berpasangan," bebernya.

Keunikan dan nilai seni yang ada di patung Senanti, sehingga membuatnya banyak diburu dan diincar. Karena dusun ini sejak dahulu terkenal sebagai daerah wisata penghasil patung kesenian. "Yang paling banyak mengambil barang di sini dulu itu pengusaha dari Bali. Biasanya itu dijual kepada para wisatawan, nusantara maupun mancanegara," ujarnya.

Sayang, sejak terjadi aksi Bom Bali I dan II, penjualaan patung akhirnya menurun drastis. Banyak patung yang tak lagi dicari. Akibatnya, para perajin mulai kebingungan, dan banting setir alih profesi. "Dulu banyak perajin patung ini. Kini mereka alih profesi jadi petani. Ada sih yang masih jadi perajin, tapi mereka lebih memilih menjalankan usahanya di daerah yang pariwisatanya maju, seperti Lombok Tengah dan Lombok Barat, agar mudah pemasarannya," beber Kades.

Karenanya, Angger berharap ada bantuan dan upaya pihak pemerintah, atau swasta, termasuk pelaku pariwisata, untuk membantu proses produksi hingga pemasaran kerajinan patung Senanti. Karena dari hasil komunikasinya dengan sejumlah perajin patung ini, Kades mengetahui kalau mereka (perajin) siap pulang ke Lotim, jika da garansi bahwa pemasaran patung ini bisa lancar kembali seperti dahulu di masa kejayaannya.

“Kalau kami yang sudah pasif ini sih berharapnya juga ada bantuan permodalan untuk membeli kayu. Karena terus terang kami para perajin saat ini kesulitan dalam permodalan,” timpal H. Rahmatullah seraya menyatakan, kalau pemasaran dan permodalan lancar,  diyakini kerajinan patung Senanti bisa kembali hidup, dengan nilai seni dan artistik yang tersimpan didalamnya. (*)

BACA JUGA :  Kerajinan Seni Topeng Labuapi Tetap Eksis