Menko Airlangga Dorong Basis Pengembangan Teknologi di Masa Depan

Airlangga Hartarto

JAKARTA–Di depan Sidang Tahunan MPR, DPD, dan DPR tanggal 16 Agustus 2021, Presiden Joko Widodo menyampaikan 4 hal penting mencakup konsolidasi kekuatan riset nasional sejalan dengan agenda pembangunan nasional, memperkuat perkembangan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi ke arah ekonomi hijau dan ekonomi biru yang berkelanjutan, transformasi menuju energi baru dan terbarukan, dan akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau. Hal-hal tersebut tentunya perlu didukung dengan riset, inovasi, serta teknologi yang maju.

“Jika pada awalnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dibangun untuk mendorong basis mekatronika dengan industri dirgantara, maka saat ini perlu digeser ke digital mulai dari Artificial Intelligence (AI), Coding dan Bio Science. Dengan adanya Covid-19, bio teknologi ini yang harus didorong ke depan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam puncak acara ulang tahun BPPT, Senin (23/8).

Di tengah usaha Pemerintah untuk mendorong berbagai sektor yang terdampak pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 lalu, terdapat beberapa sektor yang menunjukkan capaian pertumbuhan yang positif dan cukup tinggi serta menunjukkan resiliensinya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga berhasil mencapai 7,07% (yoy) pada kuartal kedua 2021, yaitu sektor Informasi dan Komunikasi, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, serta subsektor Industri Kimia, Farmasi, dan Obat Tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang memiliki tingkat teknologi yang tinggi mampu bertahan pada masa pandemi.

“Di sini back up inovasi dan teknologinya menjadi penting dan sektornya sudah sangat jelas. Terbukti dari sektor-sektor yang resilience. Tentu sustainability menjadi penting dan target-target mulai dari Paris, COP, apalagi dalam tahun depan di 2022 sebagai Presidensi-nya (G20) ada di Indonesia dan pada 2023 Presidensi ada di memimpin ASEAN. Di COP Glassgow tahun ini, Indonesia menjadi co-chair pre dan post COP, sehingga adanya keberlanjutan sustainable economy development menjadi penting dan salah satu yang menjadi tantangan adalah persiapan untuk carbon trading,” tutur Menko Airlangga.

BACA JUGA :  Pemerintah Tingkatkan Kapasitas RS Hingga 40 Persen di Daerah Zona Merah dan BOR Tinggi

Untuk transformasi menuju energi baru dan terbarukan, salah satu yang perlu terus didorong adalah yang berbasis metan. Kemudian juga terkait dengan recycle dan renewable energi berbasis kepada sampah dan juga yang berbasis kepada solar panel, solar farm, baik yang di darat maupun floating solar dan roof solar ini beberapa yang perlu diakselerasi karena kita mempunyai target bauran daripada energi.

Dalam mendorong pengembangan riset dan inovasi, Pemerintah juga telah memberikan insentif pajak super tax deduction untuk lembaga penelitian serta dunia usaha pada riset dan pengembangan.

“Pemanfaatannya selama ini belum maksimal, sehingga tentu butuh sosialisasi yang lebih erat. Tools yang sebetulnya alat untuk mendorong kerjasama antara privat industri dan akademik itu sudah ada. Insentifnya sudah ada, tinggal ini dikapitalisasi dan dimanfaatkan. Diharapkan kita bisa memperdalam struktur perkonomian berbasis ilmu pengetahuan dan teknolgi,” lanjut Menko Airlangga.

Selanjutnya, Menko Airlangga berharap bahwa pertumbuhan riset menuju ekonomi hijau, ekonomi berkelanjutan mengurangi polusi, menggunakan sumber daya yang lebih efisien dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berbasis kepada bahan bakar hijau atau green fuel.

BACA JUGA :  Cegah Kenaikan Kasus Covid-19, Pemerintah Pantau Mobilitas Masyarakat Pascalibur Lebaran

“Kita sudah punya success story B30 yang mana dengan B30, harga kelapa sawit sudah mencapai harga tertinggi atau kita sebut super cycle. Ini perlu terus didorong untuk terus mendorong ekspor kita. Dengan demikian kebijakan B30 mendorong kekuatan kita di sektor energi dan tentu walaupun sekarang B30 sudah dikatakan membuat Indonesia menjadi negara bio diesel terbesar di dunia, lebih besar dari Brazil, namun kita dari segi inovasi harus tetap satu langkah ke depan dengan mempersiapkan B100,” kata Menko Airlangga.

Kemudian, terkait dengan digitalisasi atau industry 4.0, di tahun 2018 Presiden Joko Widodo telah meluncurkan “Making Indonesia 4.0” yang diharapkan sudah terakselerasi.

Adanya pandemi Covid-19, mau tidak mau Indonesia masuk di era digitalisasi. Menko Airlangga mengatakan bahwa big data dan data center pada era ini merupakan “new petrochemical”.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga mengharapkan sumbangsih dari BRIN maupun BPPT dalam penanganan pandemi Covid-19, terutama dalam pengembangan Vaksin Merah Putih dan adaptasi teknologi lainnya yang diharapkan di tahun 2022 bisa dipanen.

“Karena kita berharap ketergantungan terhadap impor vaksin bisa berkurang dan biaya yang selama ini digunakan untuk impor vaksin ke depannya bisa digunakan penuh untuk mendorong kemampuan teknologi dan bio science Indonesia,” pungkas Menko Airlangga. (*/gt)