Kondisi Santriwati Masih Koma, Ponpes Al-Aziziyah Bantah Ada Penganiayaan

BANTAH : Ponpes Al-Aziziyah membantah adanya dugaan penganiayaan yang terjadi di lingkungan ponpes.(ROSYID/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG – Pihak Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapel Gunung Sari mengaku terkejut dengan kondisi NI (13), salah satu santriwati asal Desa Rukun Lima Kecamatan Ende Selatan Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang koma di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Raden Soedjono, Selong. Ia diduga jadi korban kekerasan oleh temannya di pondok. “Kami juga kaget, tiba-tiba santriwati kami ini sakit dalam keadaan parah. Kami cek juga sedang dirawat di rumah sakit,” kata Herman Surenggana, kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah, Kamis (27/6).

Santriwati kelas 11 ini koma setelah diduga telah dianiaya sesama santriwati setempat menggunakan balok kayu dan sajadah di bagian mata. Dugaan tersebut dibantah pihak ponpes. Pihak ponpes juga saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit untuk mengetahui penyebab sakitnya NI.  “Kami juga ingin tahu kejelasannya,” sebutnya.

NI pada tanggal 12-14 Juli mengalami sakit. Jumat sore (14/6) NI dijemput oleh walinya, yang mengaku sebagai pamannya. NI dijemput, lanjutnya, karena pihak ponpes menginformasikan kepada orang tua NI bahwa NI dalam keadaan kurang sehat.  “Selama rentan waktu tertanggal 12-14 itu, secara intens dirawat di klinik dan petugas kesehatan juga selalu mengontrol kesehatan santriwati kita ini,” ungkapnya.

Kondisi tiga hari itu (tanggal 12-15), diakui NI ada bengkak dan   ada bisul atau jerawat di bagian hidung NI. Namun NI masih bisa beraktivitas atau berjalan. “Pada dijemput juga (NI masih berjalan), tapi kondisinya begini (koma) sekarang kami juga kaget. Tiba-tiba santriwati kami ini sakit dalam keadaan parah. Kami cek juga sedang dirawat di rumah sakit. Keadaan santriwati tiga hari itu sangat berbeda dengan kondisi pada saat dirawat,” katanya.

Apa yang menyebabkan kondisi NI koma saat ini belum diketahui pasti. Apakah akibat penyakit yang sebelumnya diderita atau benda tumpul akibat dugaan dipukul belum dipastikan. “Kalau hasil benda tumpul, siapa yang pukul. Itu yg mau kita tahu,” unglapnya.

Baca Juga :  Awal Tahun, ASN Telat Terima Gaji

Ponpes Al-Aziziyah membantah ada dugaan perkelahian, pemukulan yang menggunakan balok kayu dan sajadah yang terjadi di lingkungan ponpes tersebut. “Jadi, dari hasil cek kami di pondok, semua ustazah, santriwati teman NI ini sekamar, bibi dapur tempat dia sering cerita, CCTV yang ada di sini juga sudah kami periksa semua. Itu tidak pernah ada kejadian. Kami juga bingung dengan kejadian seperti itu,” ucap dia.

Apabila ada keributan atau perkelahian sesama santri maupun dengan tenaga pengajar dan pengasuh asrama, pihak ponpes pasti mengetahui hal tersebut. “Jadi, memang bukti adanya dugaan penganiayaan itu tidak ada, kalau pun ada, pihak pondok pasti mengetahuinya,” ujar dia.

Dia turut menceritakan bahwa pihak ponpes sudah menelusuri aktivitas santriwati NI sebelum akhirnya menjalani perawatan medis di RSUD dr. Raden Soedjono di Kabupaten Lombok Timur. “Kami telusuri aktivitasnya dari tanggal 12 sampai 14 Juni 2024,” ucapnya.

Pada 12 Juni 2024 itu santriwati mengeluhkan benjolan nanah seperti jerawat pada bagian hidung. Rekan NI sempat menyarankan untuk berobat ke klinik. “Tetapi, saran itu tidak dihiraukan, malah santriwati kami ini dilihat temannya menusuk benjolan itu dengan jarum pentul,” ungkapnya.

Kemudian, esok harinya, Kamis sore (13/6), santriwati NI mengeluh sakit demam dan benjolan nanah pada hidungnya tersebut sudah nampak pecah dan berlubang. “Dokter kami waktu itu langsung cek, santriwati NI dibawa ke klinik kami, dikasih obat sesuai keluhan sakit. Keluhannya itu demam dan bengkak di bawah mata,” kata Herman.

Baca Juga :  Bengkaung akan Punya Taman Trigona

Karena kondisinya tidak kunjung membaik, kata dia, pihak ponpes kemudian menghubungi orang tua NI yang berdomisili di NTT. “Jadi, setelah hubungi keluarganya beri tahu kondisi kesehatan NI, pamannya atau wali dari santriwati kami ini menjemputnya, Jumat sore (14/6),” ungkapnya.

Isu yang beredar mengenai NI menjadi korban penganiayaan dari sesama santriwati justru membuatnya semakin khawatir. Takutnya isu tersebut semakin liar.

Kendati ditengah ramai kondisi yang kurang sedap menimpa Ponpes Al-Aziziyah, dipastikan proses belajar mengajar berjalan normal seperti biasanya.”Permasalahan yang terjadi itu, kami jadikan semangat untuk menonjolkan kualitas,” katanya.

Dikatakan, pihak pondok beberapa kali menjenguk ke rumah sakit maupun sebelum masuk rumah sakit. Sudah ada perwakilan pondok yang menjenguk. “Kami sangat sedih melihat kondisi santriwati ini, dan kami tetap mendoakan supaya cepat pulih dan sehat kembali. Dengan harapan kesembuhannya itu bisa kembali lagi ke ponpes,” katanya.

Persoalan ini sudah ditangani Satreskrim Polresta Mataram sejak diadukan orang tua NI, Sabtu (22/6) lalu. Sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan.

Sementara itu Kantor Kemenag Lobar Lombok Barat melakukan pengecekan lapangan terkait dugaan penganiayaan yang dialami oleh salah satu santriwati yang ada di Ponpes Al-Aziziyah Kapek. Kepala Sub Tata Usaha (Kasubbag TU) Kemenag Lobar, Muliarta, mengatakan pihaknya sudah langsung turun ke Ponpes Al-Aziziyah bersama Kepala Kantor Kemenag Lobar.  Saat datang ke pondok pada 24/2) lalu, Pihak Kemenag diterima oleh pengurus pondok dan dilakukan pertemuan dengan kepala pondok asrama putri. Hasilnya, hngga saat in pihaknya belum ada yang membuktikan untuk isu yang mengatakan adanya penganiayaan kepada santriwati tersebut.” Kan ini baru isu, kita sudah turun cek bersama Pak Kepala,” kata Muliarta, Kamis (27/6).(sid/ami)

Komentar Anda