Klaster Baru Muncul

JENGUK : Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid didampingi Ketua DPRD Hj. Nurhidayah, Sekretaris Daerah H. Baehaqi, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman H. Lalu Winengan, saat mengunjungi para nakes tersebut di sebuah hotel mewah di Kawasan Lombok Barat. (IST/RADAR LOMBOK)
JENGUK : Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid didampingi Ketua DPRD Hj. Nurhidayah, Sekretaris Daerah H. Baehaqi, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman H. Lalu Winengan, saat mengunjungi para nakes tersebut di sebuah hotel mewah di Kawasan Lombok Barat. (IST/RADAR LOMBOK)
Advertisement

GIRI MENANG-Jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Lombok Barat melonjak. Sampai saat ini sudah berada pada angka  114 orang dan pasien yang sembuh 48 orang berdasarkan data yang dikeluarkan tim gugus tugas Covid-19 Pemprov NTB tanggal 27 Mei 2020.

Meningkatnya jumlah pasien positif seiring dengan ditemukan beberapa kelompok penularan virus Corona di Kabupaten Lombok Barat, diantaranya ada dari Bali, ada petugas kesehatan dan warga Lombok Barat yang bekerja di Mataram.

Bupati Lombok Barat Barat H. Fauzan Khalid mengatakan, terkait penemuan klaster baru yang besar di Lombok Barat, dia menyebut ada  klaster Mataram yaitu orang Lombok Barat ber-KTP Lombok Barat tapi bekerja di Kota Mataram.” Klaster yang besar selanjutnya klaster Bali, Pelabuhan Lembar kecolongan dan kami mohon maaf Ada warga kami di Desa Giri Tembesi dirawat di Denpasar kemudian meninggal, tes swab-nya belum keluar dan dikasih pulang oleh pihak Rumah Sakit di Bali. Tanpa ada komunikasi antara RS dengan pelabuhan,” ungkap bupati dihadapan Forkominda NTB, saat kunjungan ke Pemkab Lobar (25).

Bupati melanjutkan, setelah jenazah sampai di Desa Giri Tembesi Kecamatan Gerung, baru petugas mendapatkan informasi bahwa hasil swab yang bersangkutan positif. Dampaknya, lanjut bupati, 8 orang yang kontak dengan janazah tersebut dinyatakan positif Covid-19. “Dan sekarang kami kembali melakukan swab kepada orang-orang yang melakukan kontak terhadap delapan orang ini,” terangnya.

Di hadapan Gubernur dan forkopimda, Bupati menyebut petugas kesehatan di Lombok Barat sekarang yang positif ada tujuh orang, dan 27 orang dikarantina di salah satu hotel di kawasan Senggigi. “Kemarin kami jenguk mereka dan kami memberi semangat kepada mereka, dan mohon ini menjadi isu yang harus kita bawa dan ceritakan kepada masyarakat,” harapnya. Dalam kesempatan itu juga bupati meminta agar pengetatan Bandara Internasional Lombok (BIL) juga harus diterapkan di Pelabuhan Lembar yang menghubungkan Bali dengan Lombok.

Saat melihat kondisi petugas medis, bupati mengaku prihatin. Bupati didampingi oleh Ketua DPRD Hj. Nurhidayah, Kapolres Bagus Satrio Wibowo, Dandim 1606 Efrijon Kroll, Sekretaris Daerah H. Baehaqi, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman H. Lalu Winengan, Kepala Dinas Kesehatan Hj. Ambaryati, dan Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan H. Ahmad Taufiq Fatoni saat mengunjungi para nakes tersebut di sebuah hotel mewah di kawasan wisata Senggigi. “Kami berusaha menghibur dan menguatkan hati mereka. Mereka ini sehat, tapi harus berpisah dari keluarga karena kontak dengan pasien. Jadi kami fasilitasi mereka mengisolasi diri sampai hasil swabnya keluar untuk kami serahkan ke RSUD atau kami pulangkan kalau hasil swab-nya yang kedua dinyatakan negatif,” terang Bupati Fauzan Khalid.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, imbuh Fauzan, mengambil kebijakan untuk mengisolasi mereka di hotel karena melindungi keluarga para nakes dari berinteraksi dengan mereka di masa 14 hari ini. Saat ini jumlah mereka yang dikarantina sebanyak 28 orang dan 7 lainnya harus dirawat di ruang isolasi di dua Rumah Sakit milik Lombok Barat.

Menyambut kedatangan rombongan, salah seorang dari nakes ini mengaku terharu dan menyambut rombongan dari jarak cukup jauh di lorong kamarnya. Mereka mengingatkan agar bupati menjaga jarak walau rombongan telah melengkapi diri dengan alat pelindung diri (ADP) yang disiapkan oleh hotel tersebut. “Mohon pak bupati dan aparat bisa membantu kami. Tolong beri pemahaman kepada Kadus, Kaling, dan masyarakat untuk menerima kami nantinya kalau kami sudah bisa pulang,” ungkap tenaga kesehatan yang tidak mau disebut namanya itu.

Pria yang telah dikarantina lebih dari dua hari itu mengaku keluarganya pun saat ini merasa dikucilkan oleh para tetangga. “Anak istri saya dijauhi dan tidak ada yang berani dekat dengan mereka,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Lombok Barat mengaku prihatin. Di tengah resiko terinfeksi, para nakes ini juga harus mengalami persoalan sosial di tempat tinggalnya masing-masing. “Masyarakat tidak semestinya memperlakukan mereka atau siapapun seperti itu (mengucilkan, red). Mereka ini sehat tapi masih menunguh hasil swab. Kalau negatif, mereka bisa pulang. Tolong masyarakat menerima karena itu artinya mereka ini sehat seperti orang lain. Sama halnya dengan orang yang sudah sembuh dan harus pulang, mereka bisa beraktivitas kembali seperti orang lain,” ujar Fauzan.

Sebenarnya, tambah Fauzan, yang penting semua orang menjalankan protokol pencegahan. Jadi masyarakat harus mengedepankan aspek pencegahan dengan tetap menjaga jarak fisik, tidak menghadiri kerumunan,tetap memakai masker, dan rajin mencuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, tegas Fauzan. Dengan begitu tidak perlu sampai mengucilkan orang-orang yang telah ditetapkan sembuh atau telah ditetapkan negatif dari Covid 19.

Di Lombok Barat, menurut Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan H. Ahmad Taufiq Fatoni sampai hari ini (Rabu, 27/5/2020) telah mencatatkan 114 orang ditetapkan positif Covid 19 dan 7 di antaranya adalah para tenaga kesehatan.” Ini salah satu resiko yang harus kami tanggung. Kami tetap ikhlas, namun kami tetap memohon agar kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan karena ini salah satu kunci keberhasilan kita menghadapi bahaya virus ini. Apalagi dengan kondisi tenaga kesehatan yang bekerja saat ini jumlahnya berkurang, tentu kami akan kesulitan memberikan pelayanan dan perawatan kepada pasien di ruang isolasi. Untuk menambah jumlah mereka di ruang isolasi, kami harus memperhitungkan rasionya untuk pelayanan ruang lainnya,” terang Fatoni.(ami)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid