Keluh Kesah Petani Garam Berjibaku Dengan Harga

Dibeli Tengkulak atau Dijajak Sendiri Sama Murahnya

Petani Garam
GARAM: Tampak salah seorang garam di Kecamatan Jerowaru sedang berjibaku dengan terik matahari meski harga melorot drastis hingga Rp 150 per karung.(JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Persoalan petani garam seakan tidak ada habisnya. Bukan hanya persoalan rendahnya harga garam, tapi juga persoalan lainnya yang terus mengnatam. Sehingga petani garam belum bisa bangkit dari kubangan kemiskinan.


JANWARI IRWAN – SELONG


MUJI berjibaku dengan terik matahari siang itu. Tampak dia sedang semangat menjemur garamnya. Maklum, musim panas menjadikan semua petani garam semangat. Sebab, hasil garam mereka biasanya akan melimpah karena kondisi cuaca yang menguntungkan.

Namun, melimpahkanya hasil produksi tak pernah menjamin tingkat kesejahteraan ekonomi petani garam. Rendahnya harga menjadi salah satu penyebab belum bisa terangkatnya perekonomian petani garam. Apalagi, belakangan ini harga turun drastis.

BACA JUGA: Reva Marsela Aziza, Siswa Peraih Medali Kejuaraan Karate Internasional

Per karungnya hanya dihargakan Rp 200 ribu. Parahnya, harga itu menyusut sejak bulan ini menjadi Rp 150 per karung. Melorotnya harga ini seakan menghapus senyum manis para petani garam, khususnya di wilayah selatan Lombok Timur. “Mau tidak mau kita harus jual pada orang yang datang. Kalau tidak kita jual, kita kawatir tidak ada yang beli,’’ keluh Muji kepada Radar Lombok, akhir pekan kemarin.

Petani asal Jerowaru ini mengaku, para petani garam hanya bisa memproduksi selama ini. Mereka tak tahu persis soal pasar. Sehingga mereka terpaksa menjual hasil produksinya ke tengkulak selama ini. Tentunya dengan harga yang relatif murah. “Kalau bicara rugi ya kita rugi. Tapi mau bagaimana lagi, kita tidak tahu harus menjualnya kemana selain kepada tengkulak. Makanya tengkulak selalu untung,’’ cetusnya.

Petani lainnya, Mardan lantas merinci, dengan menyusutnya harga garam hingga Rp 150 ribu per karung, maka para petani hanya mampu mengantongi penghasilan sekitar Rp 600-700 per bulan. Karena petani hanya mampu memproduksi 10-15 karung per bulannya. ‘’Produksi kita musim panas ini memang cukup tinggi, tapi harganya sangat rendah,’’ timpal Mardan.

Karenanya, kata dia, sejumlah petani memilih alternatif lain dengan menjajakan garamnya di pinggir jalan. Namun demikian, nilai jual garam tetap saja lesu jika dibandingkan dengan kebutuhan lain. Mengingat kebutuhan penyedap rasa yang satu ini tak dibutuhkan banyak dalam setiap penggunaanya. “Kalau sudah numpuk di pinggir jalan seperti ini, itu tandanya garam lagi banyak tetapi masih belum laku,” keluhnya.

BACA JUGA: Beroperasinya Gembok Dishub Setelah 3 Tahun Mangkrak

Pemerintah Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru tak bisa banyak membantu petani garam soal urusan harga. Mereka hanya bisa membina dan berharap kepada pemerintah agar bisa meningkatkan nilai jual garam. Sehingga pendapatan petani garam bisa meningkat. ‘’Kita hanya bisa memberikan pelatihan agar petani garam bisa menghasilkan garam berkualitas. Dengan demikian, mereka berinovasi dan bersaing dengan produksi garam luar,’’ ujar Sekretaris Desa Pemongkong, Mukmin.

Mukmin mengaku, ada 200 petani garam di wilayah desanya. Jika diberdayakan maksimal, dia yakin para petani ini bisa mengangkat perekonomiannya ke depan. Tentunya dengan membuat kelompok dan memperbanyak pelatihan, meningkatkan produksi agar bisa menyesuaikan permintaan pasar. ‘’Kalau hasil produksi kita sudah memadai, maka kita bisa kirim ke luar daerah atau ke luar pulau Lombok,’’ harapnya.

Mukmin juga tak menafikan persoalan harga masih persoalan klasik yang tak berkesudahan. Beberapa waktu lalu, pihaknya pernah melakukan pertemuan dengan Dinas Perikanan. Dari hasil itu, petani disarankan agar bisa mandiri memasarkan hasil produksinya dengan membuat kelompok. “Dari kelompok ini tentunya kita akan buat koperasi yang kemudian dipasarkan hasilnya, sehingga harga bisa bersaing,” jelasnya.

Kepala Dinas Koperasi Lombok Timur, Hj Rasmiah mengaku belum ada satu pun petani garam memiliki koperasi. Karenanya, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada lima desa yang belum memiliki koperasi. “Kita berikan penyuluhan pra dan pasca adanya koperasi,  agar kami bisa berikan apa dan bagaimana manfaat membuat koperasi,” ujarnya.

BACA JUGA: Mengenal Komunitas Lombok Plastic Free

Untuk koperasi yang bergerak di sektor garam, tambah Rasmiah, ada dua koperasi yang sebelumnya begerak. Yakni koperasi di wilayah Kedome Kecamatan Keruak dan satunya lagi di Kecamatan Jerowaru. Cuma saja, kedua koperasi ini belum berjalan normal. ‘’Kalau koperasi yang membeli garam petani kita ini, saya rasa bisa memutuskan matai rantai adanya keuntungan atau mafia-mafia garam ini,” ujarnya.

Karenanya, Rasmiah mengimbau kepada petani untuk membuat koperasi. Bukan hanya petani garam, tetapi para peternak dan yang lainnya juga diimbau untuk membuat koperasi. Sehingga usaha yang dijalankan ini bisa menguntungkan bagi anggotanya. “Syarat koperasi ini berdiri cukup mudah, yaitu ada anggota minimal sebanyak 20 dengan modal awal minimal Rp 15 juta. Kalau sudah ada ini, maka silakan bentuk koperasi,” ujarnya.(wan)