Mengenal Komunitas Lombok Plastic Free

Perlu Perda Batasi Penggunaan Sampah Plastik

Lombok Plastic Free
PLASTIK : Salah kegiatan kampanye pengurangan penggunaan sampah plastik oleh komunitas Lombok Plastic Free belum lama ini. (IST For Radar Lombok)

Sampah plastis sudah menjadi persoalan global saat ini, tidak terkecuali di NTB. Nah, di Lombok ada salah satu komunitas yang selama ini fokus mengkampanyekan dan melakukan gerakan pengurangan sampah plastik. Lombok Plastic Free namanya.


ALI MA’SHUM-MATARAM


Kampanye pengurangan sampah plastik terus disuarakan komunitas ini. Terbentuk sejak tiga minggu lalu, komunitas ini bergerak dan kepedulian lingkungan, utamanya pada persoalan sampah plastik. Berawal dari diskusi, harus ada langkah bersama yang diwujudkan. Pengurus dan anggota komunitas ini didominiasi oleh pelaku wisata, terutama di daerah Kuta Lombok Tengah. Orientasinya kemudian diarahkan menjadi gerakan bersama yang harus menyentuh aspek lebih luas. “ Makanya kita namakan Lombok Plastic Free. Gerakan kepedulian ini akan banyak menyelenggarakan event-event creatif kampanye. Kami juga menjalin komunikasi dengan komunitas lain untuk menyusun program bersama,” ungkap M. Tantowi, ketua Lombok Plastic Free kepada Radar Lombok kemarin.

Sampah plastik sudah menjadi kekhawatiran global. Setiap tahun ada sekitar 311 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia dan mengalami peningkatan sekitar 8 persen setiap tahun. Setengahnya adalah produk plastik sekali pakai. Dari data yang diolah dari beberapa sumber, Indonesia adalah runner up setelah Cina dalam menghasilkan sampah. Sementara 3,22 juta ton sampah plastik itu dibuang ke perairan Indonesia setiap tahun. Tidak hanya mencemari laut, tapi sungai-sungai yang ada.

Lombok yang merupakan aset trategis wisata dunia juga terkena imbas dengan banyaknya sampah. Dengan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa, Pulau Lombok menghasilkan 3.500 ton sampa per hari. Persentasenya adalah 0,7 ton per orang. Dari jumlah ini hanya 18 persen yang masuk pengolahan. “Sebagian besar akan berakhir di aliran sungai, lahan penduduk dan laut. Itu juga bisa dibakar secara sporadik oleh penduduk. Bahkan tempat-tempat wisata yang kita banggakan sudah terlihat kotor dengan banyaknya sampa plastik,” katanya.

Program Zero Waste Pemprov NTB disebutnya upaya yang baik. Karena bisa meningkatkan upaya penanganan sampah lebih efektif dan ramah lingkungan serta berkelanjutan. Hanya saja perlu ada sebuah langkah strategis di bidang regulasi dan kebijakan. Regulasi ini agar lebih menyentuh aspek persoalan. Petisi pun disuarakan agar Pemprov NTB segera mengeluarkan Perda untuk membatasi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Terutama di supermarket, mall dan ritel modern. “Kami membuat langkah bersama. Antara lain sebagai individu dan beberapa kelompok membuat sebua petisi. Penting perda pembatasan penggunaan sampah plastik itu dikeluarkan,” ungkapnya.

Dengan perda tersebut, maka angka plastik dapat ditekan lebih rendah. Ini juga bisa mendongkrak industri kreatif kecil dan menengah. Karena potensi pasar untuk produk sedotan bambu, gelas kayu, sendok bambu dan lainnya.” Itu kan produknya berbahan dasar lebih ramah lingkungan dapat terserap dengan baik. Terutama untuk kebutuhan industri wisata,” terangnya.

Beberapa daerah di Indoensia sudah ada yang mengeluarkan perda tentang pengurangan penggunaan sampah plastik. Untuk itu, upaya tersebut perlu diterapkan di NTB. “Realistis ya memang tingkat konsumsinya yang harus dikurangi dengan membatasi penggunaan. Di sisi lain kan bagus untuk industri kecil menengah untuk beragam yang lebih ramah lingkungan. Tujuannya agar lebih terserap pasar domestik,” jelasnya.

Gerakan ini juga perlu didukung oleh masyarakat. Asal ada tujuan jelas, mengajak masyarakat tidak sulit.”Sejauh ini tidak sulit saya rasa. Persoalan kita ini kan habit yang kemudian membudaya dalam pola tingkah laku. Memang butuh proses. Tapi harus ada yang memulai menjadi gerakan kesadaran bersama,” kata pria yang akrab disapa Anton ini.(*)