Cerita Keluarga PMI Korban Kapal Tenggelam Di Perairan Pulau Putri Batam

BERKUMPUL: Maryati, istri Amat bersama keluarganya saat berkumpul di kampung di Desa Batujai Kecamatan Praya Barat, Sabtu kemarin. (M Haeruddin/Radar Lombok)

Keluarga para pekerja migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban kapal tenggelam pada Kamis (16/6) di sekitar perairan Pulau Putri Batam, Kepulauan Riau tidak pernah membayangkan rencana keluarga mereka mengadu nasib untuk memperbaiki perekonomian keluarga kini malah berakhir duka. Seperti yang dirasakan keluarga korban yang berasal dari Dusun Mengelok Desa Batujai Kecamatan Praya Barat.

DI Dusun Mengelok Desa Batujai setidaknya ada empat orang yang menumpangi kapal yang tenggelam tersebut. Empat orang ini semuanya masih ada hubungan keluarga dan rumah mereka juga berdekatan. Dari empat orang yang tenggelam tersebut ternyata satu orang belum ditemukan. Sementara tiga orang lainnya ditemukan selamat meski satu orang yang selamat ini harus dilarikan ke rumah sakit (RS) di Batam untuk mendapatkan perawatan karena mengalami sesak akibat terlalu banyak minum air laut.

Empat orang ini di antaranya Muhammad Zohir Abbas, Amat dan Arum, meski Amat yang juga selamat saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Namun nahas bagi Muhammad Rahim karena korban yang satu ini sudah dipastikan ikut berangkat dalam kapal yang tenggelam tersebut belum ditemukan.

Saat Radar Lombok pada Sabtu (18/6) menyambangi kediaman para korban, tampak keluarga dan warga begitu ramai menunggu kedatangan korban yang selamat dan menunggu kabar nasib keluarga yang belum ditemukan. Maryati, istri Amat juga sangat tenang, namun berbeda dengan Jumisah yang merupakan isteri Muhammad Rahim yang saat ini belum ditemukan tampak histeris dan tidak menyangka apa yang dialami suaminya.

BACA JUGA :  Kapal Pengangkut TKI Ilegal Asal NTB Tenggelam di Batam, Baru 23 Orang Berhasil Diselamatkan

Maryati menceritakan, bahwa suaminya berangkat dari Lombok menuju Batam pada Rabu lalu. Ia sendiri mengetahui jika suaminya akan berangkat menuju Malaysia menggunakan jalur ilegal melalui pelabuhan di Batam. Karena suaminya bukan kali ini saja pergi ke Malaysia, tapi sudah tiga kali ini. “Ini yang ketiga kalinya suami saya berangkat dan mereka berangkat melalui jalur ilegal,” ungkap Maryati kepada Radar Lombok, Sabtu kemarin.

Ia sendiri tidak memiliki pirasat apapun sebelum kejadian. Terlebih sebelum berangkat suaminya memberi kabar dengan menelepon dirinya dan menyampaikan akan naik kapal bersama rekan-rekannya. Saat itu, suaminya yang kini sedang terbaring di rumah sakit meminta untuk didoakan agar selamat sampai tujuan. “Jadi sebelum naik kapal dia (Amat, red) nelepon saya dan biasa tidak ada firasat apapun, karena bukan kali ini saja ke Malaysia melalui jalur ilegal,” terangnya.

Namun dirinya merasa kaget karena ternyata ada petugas rumah sakit yang menghubunginya dan memberi kabar jika suaminya sedang sakit dan sedang menjalani perawatan. Ia sebelumnya belum mengetahui jika suaminya sakit karena kecelakaan kapal yang ditumpanginya tersebut. “Saya kira sakit sesak suami saya kambuh. Tapi ternyata kapalnya tenggelam, tapi beruntung suami saya bisa selamat,” ucapnya.

BACA JUGA :  Semua Korban Kapal Tenggelam dari Lombok

Ia berjanji bahwa ini yang terakhir kalinya memberikan suaminya izin berangkat ke Malaysia. Terlebih dirinya menyadari bahwa suaminya ini berangkat melalui jalur ilegal. Namun karena terbentur kebutuhan ekonomi membuat dirinya tak kuasa menolak keinginan suami untuk pergi ke Malaysia mengadu nasib. “Saya berharap agar suami saya segera dipulangkan,” tambahnya.

Namun beda halnya dengan Maryati yang suaminya selamat, Jumisah yang merupakan isteri Muhammad Rahim tidak kuasa menahan kepedihan. Ia tak henti-hentinya histeris karena suaminya belum juga ketemu. Pihak keluarga tampak terus menenangkan dirinya agar tetap tabah hingga terpaksa berulang kali harus dibopong. “Sabar dan tenang, semoga Rahim bisa kembali dalam keadaan selamat,” ungkap Halid yang merupakan keluarga Muhammad Rahim.

Halid menceritakan bahwa saudaranya memang berangkat melalui jalur ilegal juga bersama keluarga lainnya. Sehingga pihak keluarga juga mengaku ikhlas jika nantinya Muhammad Rahim ditemukan sudah tidak bernyawa. “Saya ucapkan terima kasih kepada para petugas yang terus membantu mencari keluarga saya. Mudahan ditemukan dalam keadaan selamat dan kalaupun sudah tiada maka kami ikhlas yang penting jasadnya bisa dibawa pulang,” terangnya. (M HAERUDDIN-LOMBOK TENGAH)