Muhammad Jibran, Calon Jemaah Haji Termuda 2022 di NTB

Muhammad Jibran Janwannajihi (BUDI RATNASARI/RADAR LOMBOK)

Ada banyak cerita di balik keberangkataan calon jemaah haji tahun 2022 ini. Salah satunya adalah yang dialami oleh pemuda kelahiran Dusun Bilasundung, Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Muhammad Jibran Janwannajihi.

(BUDI RATNASARI -LOMBOK TIMUR)

JIBRAN sapaan akrab calon mahasiswa kedokteran Unram ini mengaku, hingga kini masih tidak percaya, bahwa dirinya bisa menjadi tamu Allah di usia yang sangat muda yakni 18 tahun.

Bahkan tidak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran Jibran menjadi satu di antara puluhan ribu calon jemaah haji yang berangkat tahun 2022 ini. Tetapi takdir Allah berkata lain, ia berkesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima mendampingi ibu tercintanya pada 22 Juni 2022 mendatang.

BACA JUGA :  Sempat Berjaya, Kini Sepi Pembeli

Jibran berkesempatan menunaikan ibadah haji karena menggantikan sang ayah yang sudah meninggal dunia karena covid-19 pada Maret 2021 lalu.

Jibran mengaku bersyukur sekaligus bangga bisa menunaikan ibadah haji di usia semuda ini. Namun bercampur sedih lantaran keberangkatan haji kali ini harus menggantikan posisi ayahnya yang lebih dulu dipanggil Yang Mahakuasa.

“Awalnya tidak menyangka bisa berangkat haji pada usia 18 tahun. Karena kan haji itu identik dengan orang tua. Tapi senangnya bisa berangkat sama ibu, walaupun agak sedih karena ditinggal bapak. Yang berangkat harusnya bapak, tapi bapak sudah lebih dulu meninggal tahun 2021,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Melihat Aktivitas di Kampung Kertas atau BaleAde Dusun Medas

Jibran menuturkan, keputusan dirinya yang berangkat mendampingi ibunya ke tanah suci Makkah diinisiasi oleh sang paman yang mendengar bahwa Jibran baru saja menginjak usia ke 18 tahun pada awal 2022 lalu.

Sementara adik-adik Jibran masih terlalu kecil sehingga tidak mampu. Oleh karena itu, Jibran kemudian disarankan untuk berangkat haji menggantikan sang Ayah daripada harus menarik kembali biaya keberangkatan haji yang sudah disetor orang tuanya hampir 10 tahun lamanya. “Kebetulan bapak nakes di Puskesmas Masbagik dan meninggal karena kena covid-19 tahun 2021. Saya sendiri yang temani beliau selama 12 hari di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal,” tuturnya. (*)