Zainuddin Mahasiswa Tuna Rungu Dengan Segudang Prestasi

SABET JUARA I: Zainudin mengalungi meladi yang didapatkan sebagai juara I kompetisi TIK tingkat Nasional untuk disabilitas. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

Anak berkebutuhan khusus (ABK) biasanya dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Padahal diantaranya memiliki keterampilan dan bakat masing-masing. Salah satunya seperti yang ditunjukkan oleh Zainuddin, ABK tuna rungu berhasil meraih juara 1 untuk Kompetisi TIK tingkat nasional basic desain tahun 2020 lalu.

Keterbatasan yang dimilikinya bukan menjadi hambatan bagi untuk menujukkan kemampuannya. Bahkan sejak kecil sudah ia telah menujukkan bakatnya pada dunia Teknologi Informatika (IT) yakni dengan mengotak-atik tombol keyboard pada komputer. “Dari kecil sudah dikasih mainin keryboard di komputer waktu lagi makan supaya diam. Terus sering main juga di warnet (warung internet) buat desain-desain sama bantu install komputer yang bermasalah,” kata Zainuddin melalui kakaknya Baiq Agustina Widyawati sebagai penerjemah bahasa isyarat disampaikan Zainuddin kepada Radar Lombok saat ditemui belum lama ini.

Dibantu dengan kakaknya, Zainuddin menceritakan memasuki SMA ia sudah gemar terhadap pelajaran komputer. Bahkan gurunya selalu menujukkan dirinya jika terjadi permasalahan pada sistem komputer. Lantaran hanya dirinya yang memahami beberapa sistem kerja IT-nya. Namun, terkadang jika ia tidak memahami informasi atau petujuk yang disampaikan setiap ada materi pembelajaran. Sehingga para guru SMA-nya harus menyampaikan dengan cara yang benar-benar dipahami olehnya. “Kadang itu sulitnya paham sama pentujuknya bagaimana, kalau tidak paham ya tidak kerjain. Begitu juga sebaliknya, kalau sudah paham pasti dikerjakan sampai selesai,” katanya.

Meski demikian, minatnya menggeluti bidang IT memang cukup besar, karena memang keinginan menjadi seorang desain grafis. Hal tersebut itu mampu mengantarkan sebagai jembolan juara 1 dalam setiap perlombaan yang dikutinya. Sampai saat ini saja sudah ada 3 perlombaan di ikuti sejak SMA, diantaranya juara 1 tingkat nasional FSL2N 2010, juara 1 tingkat nasional Pantomim 2010 dan juara 1 kompotisi TIK tingkat nasional 2020. “Setelah ikut FSL2N 2010, itu coba-coba ikut Pantomim dan baru sekali ikut keluar jadi juara 1 sebenarnya tidak nyangka bisa menang,” tutur laki-laki 27 tahun ini.

Sebelum mengikuti lomba dirinya berlatih dengan menonton beberapa acara komedi salah satunya seperti Mr Bean. Sehingga memudahkannya lebih cepat belajar mengeskpresikan mimik wajahnya untuk berpantomim. Kendati, saat mengikuti perlombaan pantomime para gurunya sempat tidak menyakini bahwa Zaenuddin bisa menang lomba. “Pertama waktu ikut pantomim guru-guru di SMA tidak yakin, setelah diberikan latihan bisa juga. Pertama kali ikut pantomim di Surabaya itu masih pemula dan dapat juara 1 nasional,” terang warga Jalan Bung Karno komplek BPD blok c 12, Pagutan, Mataram.

Tak sampai di situ saja, ia kembali mengikuti perlombaan yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yakni Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional untuk Disabilitas 2020 secara daring. Kompetisi ini menjadi langkah afirmatif untuk mengajak kalangan difabel turut andil mewujudkan Transformasi Digital Indonesia. Dari 1600 peserta dari penjuru nusantara, Zainudin berhasil menyabet juara 1 kategori basic design. “Saya senang sekali bisa membawa nama baik NTB di kancah nasional kemarin itu,” kata salah satu Mahasiswa S1 Informastika STMIK Bumi Gora Mataram ini.

Karena begitu banyak bakat yang dimiliki olehnya, ia ditunjuk sebagai pelatih pantomim di sekolahnya di SMA dan spesialis IT. Lantaran fokusnya terhadap IT ia telah menempuh D3 di salah satu unversitas di Jogjakarta. Kini menjadi salah satu mahasiswa semester 6 di STMIKA Bumi Gora. “Sekarang lagi ngurus skripsi biar cepat lulus kuliah, mau lanjut juga ke S2 lagi,” ucapnya.

Ia berharap kondisi disabilitas tidak lagi dipandang sebagai suatu keterbatasan fungsi. Mereka juga bisa berprestasi dan punya keahlian khusus di bidangnya masing-masing. Karena itu, mereka harus mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan dan berpartisipasi. Karena banyaknya bakat dimiliki mendapat perhatian khusus oleh gubernur NTB Zulkieflimansyah dan kini ia bercita-cita bertemu dengan Menteri Kominfo Tik Johnny G. Plate. “Kemarin sudah ketemu sama Gubernur, mudah-mudaha bisa ketemu sama menteri kominfo,” imbuhnya. (**)