Ratusan Pendaki Gunung Rinjani Ditelantarkan Panitia Open Trip

PENDAKIAN MENINGKAT: Minat para pendaki ke Gunung Rinjani, baik pendaki lokal, domestik, maupun mancanegara mengalami peningkatan selama libur lebaran tahun ini. Bahkan ratusan pendaki ilegal terpaksa diminta kembali turun karena tidak mengantongi tiket masuk kawasan TNGR. (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Sebanyak 103 pendaki Gunung Rinjani diduga ditelantarkan oleh sebuah penyelenggara open trip, di Pos 2 pendakian jalur Sembalun, Minggu kemarin (15/4). Ratusan pendaki yang ditelantarkan itu pun akhirnya viral di berbagai platform media sosial (Medsos), dan ramai jadi perbincangan netizen.

“Info dari Kepala Resort Sembalun tanggal 14 april 2024, ada sebanyak 103 pendaki Gunung Rinjani yang dicegat di Pos 2 jalur (pendakian) Sembalun,” tulis akun instagram @pendakilawas.

Salah satu korban, pemilik akun @Saifullanaamm mengaku sudah membayar sejumlah uang untuk membayar TO (Tour Operator) pendakian Gunung Rinjani. Namun saat tiba di Pos 2 pendakian Gunung Rinjani untuk registrasi ulang, dia dicegat oleh petugas, karena tiket yang dicetak TO ternyata berbeda dengan yang tertera di aplikasi eRinjani.

“Kita bukan pendaki ilegal, tapi kita memang korban dari beberapa oknum TO. TO yang salah koordinasi dalam hal tiket. Kita semua sudah bayar uang tiket, dan ternyata tiket yang dicetak tiket berbeda dari TO tersebut,” katanya.

Karena tidak memiliki tiket masuk yang sesuai, atau tidak bisa menunjukkan, maka dia bersama ratusan pendaki dari berbagai daerah itu kemudian diarahkan kembali keluar kawasan TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani). “Turun lagi dengan harapan yang pupus,” ujarnya kecewa.

Belakangan diketahui, bahwa TO yang menelantarkan ratusan pendaki itu adalah agen perjalanan wisata asal Sukabumi (Jawa Barat). Sementara untuk saat ini Saifullanaamm mengatakan masih menunggu itikad baik dari TO untuk bertanggung jawab terhadap kerugian yang dialaminya. “Akan kami spill (ungkap) TO yang kami ikuti ini jika mereka tidak bertanggung jawab. Untuk saat ini pihak TO masih mengupayakan para pesertanya,” ucapnya.

Sementara Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun menambahkan jika penelantaran terhadap pendaki Gunung Rinjani bukan kali pertama terjadi sejak resmi dibuka pada Senin (1/4) lalu. Setidaknya ada sekitar 38 orang pendaki juga ditelantarkan oleh agen perjalanan Open Trip MDPL Yogya, 7 April 2024 lalu. TO asal Provinsi DI Yogyakarta ini diduga telah menipu banyak pihak.

Baca Juga :  Rumor Maju Pilkada, Lalu Gita: Lihat Perkembangan

“Tanggal 7 April ada 38 orang (pendaki) dilantarkan di Rinjani. Rencana awal trip itu 3 hari, tapi dijadikan 2 hari, sehingga para porter memutuskan turun karena hilangnya kabar keberadaan si Dimas (nama agen pemilik TO, red),” terang Royal.

Pihaknya sangat menyayangkan kejadian seperti ini (pemelantaran) terjadi kembali. Pasalnya, lagi-lagi porter lokal yang menjadi korban Agen TO yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, pihaknya menginginkan adanya aturan yang mewajibkan pihak yang ingin berbisnis di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani harus memiliki izin. Pihaknya menyarankan agar para Agen TO luar daerah ini wajib bekerjasama dengan TO lokal demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.

“Silahkan diviralkan agar tidak ada Agen TO lagi yang melakukan bisnis ilegal. Dan mohon info terkait open trip selanjutnya agar sama-sama kita jegal, karena dari tahun lalu sudah kita ingatkan agar tidak berbisnis ilegal di Rinjani,” tegas Royal.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Dedy Asriady yang dikonfirmasi terkait penelantaran ratusan pendaki di Pos 2 pendakian jalur Sembalun di Gunung Rinjani, hingga berita ini turun tidak kunjung memberikan tanggapan.

Di sisi lain, Kepala Pos TNGR Resort Sembalun, Taufikurrahman menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan yang melalukan pendakian ke Gunung Rinjani meningkat drastis selama libur lebaran, baik itu pengunjung lokal, domestik maupun mancanegara.

“Biasanya momen libur panjang dan pasca lebaran itu minat wisatawan yang hendak mendaki ke Gunung Rinjani sangat tinggi, terutama sejak libur lebaran tahun ini,” terangnya.

Taufik mengakui, membeludaknya kunjungan sejak Rabu 10 April di tiga pintu masuk jalur pendakian Gunung Rinjani penuh semua. Begitu juga dengan tiket reguler atau kuota umum ke Rinjani habis terjual. “Itu bisa dilihat dari kuota. Taman Nasional Gunung Rinjani itu kan ada kuotanya, 400 orang untuk tiga pintu yakni pintu pendakian Sembalun, Senaru dan Torean,” jelas Taufik.

Baca Juga :  Pemprov NTB Masih Putar Otak untuk Bayar Utang Rp 227,6 Miliar

Terkait dengan kuota, terang Taufik memang sudah dibatasi sebanyak 400 per hari. Selain itu, untuk jalur selatan seperti Aik Berik (Loteng) dan Timba Nuh (Lotim) itu masih ada kuota. Hanya saja jalur tersebut masih kurang peminatnya. “Kalau pun ada yang mau naik, kami arahkan lewat jalur selatan. Nah yang jalur selatan ini masih kosong, karena minatnya masih kurang,” imbuhnya.

Sementara untuk menjaga kelestarian alam dan ekosistem yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pihak TNGR mempunyai tiga SOP yakni ada SOP khusus untuk pendakian, untuk penanganan sampah dan untuk penanganan korban kecelakaan di dalam kawasan tersebut.

“Di setiap pintu masuk, kami melakukan briefing dan arahan ke pengunjung agar tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya membuat perapian menggunakan kayu bakar, apa lagi sampai menebang pohon dan membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan, selain larangan yang lain,” tegas Taufik.

Untuk itu, Taufik mengimbau kepada para wisatawan yang berkunjung ke TNGR selalu mengindahkan larangan yang tidak boleh dilakukan di dalam kawasan. Selain itu, wisatawan yang hendak mendaki ke Gunung Rinjani terlebih dahulu juga harus booking tiket Rinjani melalui eRinjani.

“Untuk wisatawan yang hendak ke Gunung Rinjani, terlebih dahulu atur manajemen waktu, dan lihat kesempatannya. Dan tidak kalah penting lihat kuota (pendakian) di e-Rinjani, agar tidak terulang lagi ada pengunjung ilegal seperti yang kami temukan kemarin,” katanya.

“Karena setiap hari kami piket di setiap jalur pintu pendakian. Bahkan di setiap pos itu ada anggota piket yang jaga, seperti di pos 2 jalur pendakian Sembalun, begitu juga di pos-pos lainnya yang ada didalam kawasan TNGR,” tutup Taufik. (rat/lie)

Komentar Anda