Pemprov NTB Ajukan Permintaan Dua Mesin PCR

Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah (Faisal Haris/radarlombok.co.id)

MATARAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB merespon apa yang menjadi keluhan kota Bima mengenai kendala hasil swab yang memakan waktu hingga sepuluh hari baru keluar.

Selama ini pemeriksaan spesimen masih dilakukan di Laboratorium Sumbawa Technopark. Wakil Gubernur NTB yang juga ketua Gugus Tugas Provinsi NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah menyadari apa yang menjadi keluhan dari Pemerintah Kota Bima yang belum memiliki mesin PCR sehingga harus menunggu lama baru mengetahui hasil ketika dilakukan pemeriksaan swab. “Oya kita lagi minta, kita lagi usahakan supaya Bima ada PCR,”ungkapnya.

Dikatakan, kabupaten lain yang sudah memiliki mesin PCR karena memang pemerintah daerah mengganggarkan anggaran sendiri, seperti Mataram, Lombok Timur dan Lombok Tengah. Tapi ia sangat menyadari kalau di Bima mungkin ada masalah sehingga belum bisa mengganggarkan dana untuk pegadaan mesin PCR. “Ya mungkin Bima masih punya masalah gitu kan. Makanya kita ajukan ke pusat untuk NTB supaya cepat ada (mesin PCR), karena kasihan juga kan kalau di Bima, Sumbawa yang cukup lama menunggu hasil swab-nya keluar. Lamanya hasil itu cukup mempengaruhi juga proses tracing,”akuinya.

Jumlah mesin PRC yang sudah diajukan ke pemerintah pusat sebanyak dua unit.
Meski sudah diajukan, Wagub belum bisa memastikan kapan bisa terealisasi, mengingat baru kemarin diajukan. “Ya kita bersabar lah baru kemarin kita ajukan, mudah-mudahan bisa segara kita diberikan,”sambungnya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Provinsi NTB, mencatat beberapa hari terakhir ini lonjakan kasus masih didominasi pasien asal pulau Sumbawa. Bahkan Kota Bima pada Minggu (15/11) kemarin kembali menjadi zona merah (risiko tinggi). Sementara sembilan kabupaten/kota lainnya berubah menjadi zona oranye (risiko sedang).

Wagub sempat menyinggung soal vaksin yang dianggap sebagai salah satu harapan guna bisa mengendalikan penularan Covid-19. Dia mengingatkan, meski vaksin sudah ada tapi upaya pencegan terus dilakukan.”Tetapi jangan sampai menyadarkan diri hanya kepada vaksin. Artinya dengan adanya vaksi jangan kemudian kita lengah, kita tidak peduli protokol Covid, kita anggap sebenar lagi obat datang. Jangan sampai seperti itu,”katanya.(Sal)