Pasir Pantai Kolo Makin Terkikis

TAMBANG PASIR: Inilah satu dari sekian kelompok warga Kolo yang menambang pasir laut. Tanpa disadari, potensi abrasi dan kerusakan lingkungan masa depan warga Kolo.

KOTA BIMA-Aktivitas penambangan pasir laut kembali terlihat di sepanjang pantai Kolo Kota Bima.

Warga mengambil pasir yang berada di bibir pantai, menggunakan peralatan sederhana. Pasir-pasir ini disimpan di sepanjang jalan raya menuju Kolo. Pantaun Radar Tambora (Lombok Post Group) Sabtu (7/1), terlihat beberapa gundukan pasir disimpan di tepi jalan raya Kolo. Sedangkan di bibir pantai, terlihat beberapa kelompok ibu dan bapak menggali pasir dan mengangkatnya menggunakan ember hitam ukuran sedang.

Saat Radar Tambora hendak mengambil foto, tatapan tidak suka terlihat dari para ibu-ibu yang sedang menjunjung pasir di kepalanya. Mereka terkesan tidak suka jika aktivitasnya diabadikan. Namun koran ini berhasil memperoleh keterangan dari seorang gadis, yang sedang duduk menjajal gundukan pasirnya. "Iya kami jual. Mau beli pasirnya?" ujar gadis ini polos yang enggan disebutkan  namanya.

Saat ditanya harga pasir, dia mengaku tidak mengetahuinya. "Saya panggil ibu saya dulu, kalau saya nggak tau harganya hanya disuruh jaga saja," akunya sambil menunjuk ke arah sang ibu yang sibuk menyisihkan batu menutupi pasir.

[postingan number=3 tag=”pantai”]

Setelah diamati, ternyata sang ibu tidak sendiri. Setidaknya ada empat hingga lima orang yang sedang menambang pasir. Lokasinya yang tertutupi badan jembatan kecil, membuat aktifitas ini tidak nampak dari jalan raya.

Pengakuan berbeda terlontar dari Arifin, juga warga Kolo. Arifin beralibi, menambang pasir bukan untuk dijual tapi untuk membangun berugak. "Kalau saya tidak jual, hanya untuk bangun berugak menggantikan serambi kayu yang sudah rusak," katanya.

Ditanya aktivitas warga lain, Arifin mengaku, jika penambangan pasir dilakukan untuk keperluan pasir. Seperti, membangun rumah pribadi warga. "Tidak ada yang jual kok," kilahnya untuk kali kedua.

Menurut Arifin, tidak ada pembeli yang ingin menggunkan pasir laut. Apalagi, untuk membangun rumah karena bisa merusak bangunan secara perlahan. Sehingga, tidak mungkin warga Kolo menambang pasir untuk dikomersilkan. "Mana ada yang mau beli pasir laut, apalagi untuk bangun rumah," tandasnya.

Sebelumnya, penambangan pasir juga terjadi di pantai Kalaki Kabupaten Bima. Awalnya pun warga sekitar mengaku, penambangan tersebut tidak untuk dijual. Tapi secara perlahan, justru pasir-pasir tersebut diperjual belikan. Meski diketahui pasir laut tidak bagus untuk sebuah bangunan, namun penggunaannya tetap dipilih karena langkanya pasir sungai. Harga miring, membuat sebagian orang memilih pasir laut untuk keperluan bangunan. (tin)