MENGENAL ALWI AGUSTO, FOUNDER LEMBAGA PELATIHAN BAHASA ASING HORISON

Dibayar Sukarela, Lahirkan Ratusan Anak-anak Mahir Berbahasa Asing

MENGAJAR: Founder Lembaga Pelatihan Bahasa Asing "HORISON" Lombok Utara, Alwi Agusto ketika sedang memberikan pembelajaran di ruang terbuka. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK

Alwi Agusto, adalah founder atau pendiri lembaga pelatihan bahasa asing “HORISON” yang berlokasi di Dusun Lendang Bagian, Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Lembaganya ini telah berjalan 20 tahun, dan sudah melahirkan ratusan anak-anak yang mahir berbahasa asing, dan diserap lapangan kerja, hingga menerima beasiswa ke perguruan tinggi. Seperti apa kiprahnya?


HERY MAHARDIKA – LOMBOK UTARA


PANCARAN raut wajah yang ikhlas dari Alwi Agusto, ketika memberikan ilmu pengetahuan Bahasa asing kepada anak-anak didiknya, menjadi modal utama lembaganya mampu bertahan selama hampir 20 tahun ini.

Lembaga pendidikan Bahasa asing yang didirikan pada 1 Agustus 2001 silam, atau lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan di Kabupaten Lombok Utara, telah berhasil menelurkan alumni-alumni yang kini banyak terserap di dunia kerja, atau bahkan menerima beasiswa di perguruan-perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, lembaga yang kami bentuk ini sekarang sudah berusia 20 tahunan,” kata Alwi kepada Radar Lombok yang menemui di sela memberikan pembelajaran bahasa asing di tempatnya.

Dikisahkan, awal mula terbentuknya lembaga pendidikan ini mulai dilakukan dengan meminjam ruangan belajar di sekolah SDN 4 Prawira (dulu di Karang Seme) pertigaan Tanjung. Waktu itu ia mengadakan ujian nasional dengan peserta kursus 21 orang, dengan yang lulus ujian nasional sebanyak 5 orang.

Karena gedung yang dipakai mengajar masih meminjam, dan tentu terbatas kapasitasnya. Maka seiring perkembangan, ketika anak-anak yang hendak belajar Bahasa Inggris atau Jepang bertambah banyak, seperti para remaja masjid atau organisasi kemasyarakatan. Maka dia yang kemudian aktif mendatangi langsung siswanya di lokasi.

“Saya yang ke tempat itu untuk mengajar. Kadang saya ke Mushalla Lading-Lading, mengajar disana dan juga di Tanak Song. Kami mengajar itu kurang lebih 7 tahun dari satu tempat ke tempat lainnya. Alhamdulillah pada 1 Agustus 2008, kami mendapatkan tempat yang sekarang,” terangnya.

BACA JUGA :  Desa Setanggor, Juara I Desa Inovasi Pengembangan Pariwisata di Lombok Tengah

Di tempat sekarang ini, dahulu memiliki gedung yang sederhana, namun hancur akibat gempa 2018. Sehingga sekarang ini pola belajar dilakukan terbuka, yang setiap tahunnya dibuka satu kali, biasanya dari bulan Juli sampai bulan oktober.

Siswa belajar Bahasa asing, biasanya pada momentum seperti ketika ada pembelajaran baru di sekolah-sekolah. Rata-rata siswa yang belajar Bahasa asing sebanyak 27 orang, namun pernah juga sampai 72 orang dengan berbagai tingkatan, mulai SD, SMP, Umum, dan Bahasa Jepang.

“Namun ada juga masa ketika tahun 2006-2007, kita terpaksa tidak buka kelas sama sekali karena tidak adanya tempat. Jika dihitung hingga sekarang sudah diajar 558 siswa yang diluluskan (Bahasa Inggris), termasuk 20 siswa Bahasa Jepang,” ungkapnya.

Pembelajaran di HORISON yang dirancangnya, memang untuk mereka yang siap kerja, dengan pola percakapan 80 persen dan 20 persen grammar dan reading. Seperti mulai dari cara menerima tamu, cara melayani tamu di restauran, cara mengantar tamu ketika jadi guide ke destinasi wisata dan lainnya.

Sehingga begitu lulus, mereka rata-rata langsung bekerja ke Gili, atau di Sira Pemenang, bahkan sampai ke Senggigi. “Sebagai tambahan, Ibu Nurun Hidayati juga membantu mengajar, yang dulunya dia adalah tamatan HORISON tahun 2008. Alhamdulillah terinspirasi dari HORISON sehingga melanjutkan studi S2 bahasa inggrisnya di Semarang, di Universitas Diponegoro,” jelas Alwi yang juga Kabag Kesra Setda Lombok Utara ini.

Alwi juga mengingat kenangannya ketika masih menjadi seorang guru honorer di SMAN 1 Tanjung. Dia melihat kemampuan siswa-siswa berbahasa Inggris masih sangat minim. Hal ini juga mengukur dari pengalamannya saat bekerja di Gili Trawangan tahun 1991, dan di Bali waktu kuliah pada tahun 1992-1999. Untuk itu, dia bertekad membuat kursus bahasa Inggris dan Bahasa Jepang.

BACA JUGA :  Kedai Kopi Ala Repvblik Syruput, Tersedia Kopi Asli Afrika, Hingga Donasi untuk Literasi

Nama HORISON sendiri sebenarnya diambil dari nama majalah sastra Indonesia ternama, yang selalu dia baca di Perpustakaan SMAN 1 Tanjung. Secara harfiah artinya batas terjauh pandangan. “Saya ingin lembaga ini memiliki pandangan terjauh akan masa depan untuk menjadi masyarakat dunia nantinya. Sehingga pemuda-pemudanya meskipun tinggal di kampung kecil, namun memiliki wawasan global dan fikiran yang mendunia. Tentu selama saya mendirikan kursus ini tidak sendiri. Saat mengajar saya dibantu oleh beberapa teman,” terangnya.

Ia juga menghajatkan untuk membantu masyarakat luas. Untuk itu, butuh pengorbanan dan keikhlasan. Karena dengan biaya yang sudah ditetapkan, misalnya Rp 300 ribu selama 2,5 bulan. Maka terkadang siswa hanya mampu membayar Rp 150 ribu saja, bahkan ada yang cuma Rp 100 ribu, atau bahkan ada yang tidak membayar karena tidak mampu.

“Meskipun dalam kondisi pembayaran seadanya seperti itu, namun HORISON tetap berjalan. Karena kami tidak saklek membayar diawal. Sehingga masyarakat yang dalam kondisi kesusahan, mereka bisa membayar sambil jalan,” sambung mantan Kasi Promosi Pariwisata, Disbudpar Lombok Utara ini.

Baginya, mengajar bahasa asing bukan sebagai pendapatan utama, namun lebih pada sebuah pengabdian. Karena dia juga berprofesi sebagai PNS, yang sudah tentu memiliki penghasilan untuk kebutuhan hidup keluarganya.

“Beruntung saya sudah PNS, jadi bisa bertahan dengan keadaan. Demikian bersyukur teman-teman instruktur di HORISON faham akan kondisi, sehingga mereka juga sudah kebal menghadapi keadaan. Prinsip kami yang penting lembaga HORISON harus tetap eksis untuk membangkitkan rasa percaya diri masyarakat Lombok Utara, bahawa di daerahnya ada lembaga bahasa asing yang sudah sangat di kenal dan selalu eksis,” imbuhnya. (*)