Lalu Sofian Muharram, Atlet Tarung Bebas One Pride MMA Asal Pancor

PETARUNG MMA: Atlet tarung bebas kelahiran Pancor, Lombok Timur, Lalu Sofian Muharram (kanan), saat memenangkan pertarungan keduanya melawan atlet asal Medan, di ajang One Pride MMA. (LALU SOFIAN FOR RADAR LOMBOK)

Ajang adu jotos gaya bebas One Pride Mix Martial Arts (MMA) di salah satu televisi (TV) nasional telah booming sejak tiga tahun terakhir. Ada salah satu atlet One Pride MMA yang kini mencuri perhatian, karena dinilai memiliki prospek cerah diajang tarung bebas tersebut. Dia adalah Lalu Sofian Muharram, pemuda Asal Pancor, Lombok Timur, yang sudah dua kali menang di ajang One Pride MMA.


ALI MA’SHUM – MATARAM


ONE Pride MMA merupakan salah satu ajang adu jotos atau tarung bebas yang cukup bergengsi di tanah air. Pesertanya tidak sembarangan, dan berdatangan dari seluruh daerah di Indonesia. Petarung yang berlaga harus lolos seleksi dan audisi, sebelum berlaga di ajang tersebut.

Salah satunya yakni Lalu Sofian Muharram, pemuda kelahiran Pancor, Kabupaten Lombok Timur. Dia memiliki riwayat cukup panjang sebelum menjadi petarung One Pride MMA, yang awalnya berlatih tinju sejak kelas 1 SMP.

“Saya dulu ikut orang tua pindah ke Jawa Tengah. Masuk SMP, saya tertarik dengan tinju, setelah melihat teman saya berantem. Koq jago dia. Tapi saya tidak suka berantem sejak kecil,” ujarnya kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (14/9).

Lama berlatih, kemampuan tinjunya semakin terasah. Sofian kemudian mulai ikut kejuaraan tinju antar pelajar SMA di Jawa Tengah. “Saya waktu itu dapat juara II,” katanya.

BACA JUGA :  Kisah Band PAGAH Meniti Jalan Menuju Sukses

Dia tidak kecewa dan semakin rajin berlatih. Tahun 2015, Sofian ikut orang tuanya pindah ke Jakarta, dan semakin serius berlatih. Dia pun bergabung ke salah satu sasana tinju di Jakarta Selatan. “Di Jakarta saya latihan tinju sambil kuliah juga. Saya juga kuliah jurusan olahraga. Di kampus juga ada klub tinjunya. Jadi saya semakin giat berlatih,” ungkap pemuda kelahiran Pancor, 19 Mei 1996 ini.

Tahun 2016, Sofian dapat informasi One Pride MMA melaksanakan audisi. Tapi dia tidak langsung mendaftarkan diri. Dirinya fokus untuk memperbanyak persiapan. Dia juga berlatih gulat sebagai amunisi tambahan ikut One Pride MMA. “Baru tahun 2017 saya ikut audisi dan diterima. Awalnya saya di kelas 52 kilogram. Tapi turun lagi di kelas 48 kilogram,” terangnya.

Dia tertarik berlaga MMA, karena banyak sahabatnya yang ikut. “Yang audisi kan banyak yang tidak lolos. Itu menambah kepercayaan diri saya. Ini juga pertarungannya disiarkan TV juga. Saya sudah izin orang tua untuk ikut MMA,” jelasnya.

Tahun 2020, pertarungan debut Sofian diajang adu jotos itu digelar. Sofian melawan salah satu petarung asal Bali. Dia sukses mengalahkan petarung asal pulau dewata itu. “Pertandingan pertama saya menang,” ujarnya.

Karena pandemi, One Pride MMA sempat terhenti. Tapi Sofian tetap rajin berlatih. Akhir Agustus 2021, Sofian kembali naik ring dan melawan petarung asal Medan. Sofian kembali sukses menaklukkan lawannya. “Saya sudah dua kali tanding di MMA. Keduanya saya menangkan,” terangnya.

BACA JUGA :  Pengabdian Dosen Unram Ni Made Andry Kartika

Ke depannya, Sofian bertekad ingin merebut sabuk juara One Pride MMA. Karena dari Lombok belum ada juara One Pride. “Saya bertekad mempersembahkan sabuk juara untuk kebanggaan masyarakat Lombok. Saya juga pasti akan kembali ke Lombok dan bisa bekerja di sana,” bebernya.

Sebagai petarung gaya bebas, Sofian mengatakan harus menjaga prinsip. Karena termasuk olahraga ekstrim yang membawa resiko. Tarung bebas juga tidak bisa dilepaskan dari resiko cidera, dan dia pun kerap mengalami. Mulai dari kepala bocor hingga bagian tubuh yang berulang kali dijahit.

“Itu sudah resiko. Saya juga punya tekad yang lebih tinggi. Saya ingin mewakili Indonesia juga di ajang internasional. Saya di MMA masih dikontrak sampai tahun 2024. Saya siap menunggu panggilan untuk pertarungan berikutnya,” ungkapnya.

Untuk bayaran yang diterima sebagai petarung MMA. Sofian menyebut sudah lebih baik dari sebelumnya. “Kalau mau jadi atlet beladiri harus dari sekarang mulainya. Pertumbuhannya juga semakin pesat dibandingkan sebelumnya. Sekarang sponsor juga sudah ada. Jadi ajang ini ke depannya memiliki prospek yang cerah,” pungkas pemuda dengan tinggi badan 168 sentimeter ini. (*)