Mengenal Lalu Hariyadi ,Inovator Pengelola Budidaya Bioflok

Lalu Hariyadi Inovator Pengelola Budidaya Bioflok
TEKNOLOGI : Konsep perikanan teknologi Bioflok yang saat ini sedang dikembangkan di Lombok Barat oleh Lalu Hariyadi (IST/RADAR LOMBOK)

Teknologi bioflok yang dikembangkan Lalu Hadiyadi menjadi salah satu wakil Kota Mataram dalam Gelar Teknologi Tepat Guna (GTT) Tingkat Provinsi NTB belum lama ini.


ZULFAHMI-MATARAM


Dalam pengelolaan budidaya sistem Bioflok diperlukan ketelitian dalam pengelolaan media, dalam media budidaya tersebut ada pemberian bahan-bahan penunjang bahan pembentuk gumpalan. Standar pengelolaan media mutlak diperlukan untuk menjaga kualitas media pemeliharaan dalam mengembangkan budidaya perikanan sistem Bioflock ini.

Pedoman diatas adalah kitab yang harus dipegang dalam mengembangkan teknologi perikanan sistem Bioflok yang saat ini sedang dikembangkan oleh Lalu Hariyadi. seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang setiap hari bekerja di Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Barat.

Kepada Radar Lombok, Hariyadi menuturkan bagaimana awal mula pengembangan teknologi ini saat ditemui di rumahnya di BTN Selagalas Kota Mataram. Cara-cara diadopsi oleh Hariyadi dengan menggunakan bakteri  yang sama yang dimanfaatkan di tambak  namun menggunakan air tawar dan dicoba di air tawar.

Pada awalnya, Hariyadi tidak menggunakan wadah seperti fiber atau wadah lain seperti yang dimanfaatkan saat ini melainkan menggunakan kolam terpal yang di taruh di tanah yang sudah digali. Tetapi setelah beberapa tahun dianggap kurang pas dan tidak bisa bertahan lama.” Inti dari sistem ini adalah pengelolaan media budidaya air yang dipakai,” kata Hariyadi.

Keunggulan dari teknologi ini adalah hemat, hemat tempat dan lahan. Karena di lahan yang  super sempit petani atau pelaku peternakan  bisa memproduksi. Tidak hanya lokasi keberadaan kolamnya pun bisa ditaruh di dalam ruangan maupun di luar ruangan.” Ini teknologi yang super hemat baik dari lahan maupun biaya,” ujarnya.

Selain hemat lokasi, teknologi ini juga hemat air, memelihara ikan menggunakan sistem ini tidak butuh air yang banyak setiap hari. Karena di dalam sistem bioflok ini justru tidak boleh terlalu banyak membuang air. Sebab dalam air kolam tersebut sudah ada nutrisi yang diciptakan sendiri dari kotoran yang dihasilkan.

Se lain hemat lahan, air dan juga hemat waktu, karena bisa produksi kapan saja, dimana biasanya kalau petani ikan panennya terbatas hanya pada musim hujan saja, tetapi menggunaan produksi ini bisa panen kapan saja, dan tingkat produksinya bisa lebih tinggi berkali lipat, misalnya dalam kalam bioflock dengan diameter 1.5 meter bisa menampung ikan sampai 2500 dengan ukuran ikan  Lele sekita 6 cm. Tidak hanya lele. Teknologi ini juga cocok untuk  ika jenis Nila, Gurami  lainnya. ” Tetapi kalau  petani belum mahir bisa menebar  1000 bibit.” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan kolam bias kolam dengan diameter 1.5 meter ini paling hanya bisa menampung  tidak lebih dari 1000 bibit. Kenapa hal ini bisa terjadi karna dalam pengembangan bioflock  bisa karena ada blower sebagai bisol aksigen yang dihasilkan dari  blower tersebut. Keunggulan dari  teknologi ini juga lebih higienis karena tidak ada kontaminasi lumpur. Sehingga ikan atau lele yang dihasilkan jauh dari adanya bau amis atau lumpur saat dikonsumsi karena  hasil produksi bersih dari lumpur.

Saat ini teknologi yang sudah diakui oleh Kota Mataram ini ternyata belum dimanfaatkan oleh Pemkot Mataram. Justru saat ini  teknologi ini siapkan dikembangkan di Lombok Barat dan dalam tahapan proses persiapan pengoperasiannya. ” Saat ini saya sedang persiapan diempat lokasi di Lombok Barat, kalau di Mataram belum dimanfaatkan sama sekali,” jelasnya.(*)