Kegirangan Petani Tembakau Rajang Menyambut Musim Panen

Tersenyum Sumringah karena Harga Cukup Menjanjikan

petani-tembakau
PANEN: Para petani tembakau rajang di Kecamatan Suela sudah mulai panen. (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

Panen tembakau rajang di Lombok Timur telah tiba. Bahkan para petani telah mulai produksi. Para petani pun kini mulai dibayang-bayangi dengan untung besar mengingat harga penjualan tembakau cukup tinggi.


MUHAMAD GAZALI – SELONG


SALAH satu wilayah yang sebagian besar telah mulai panen tembakau adalah Kecamatan Suela dan Pringgabaya. Mengigat dua wilayah ini telah  cukup lama dikenal sebagai penghasil tembakau rajang dengan kualitas sangat baik di Lotim. Bahkan produksinya sampai ke luar daerah. ‘’Kita baru mulai pertama panen untuk daun yang paling bawah. Kalau harganya cukup mahal, mudahan kita bisa dapatkan untung besar,‘’ tutur Ahyar, petani tembakau asal Desa Ketangga Kecamatan Suela dengan nada sumringah.

Untuk harga penjualan, sebut dia, disesuaikan dengan kualitas tembakau. Jika dilihat dari penjualan awal sejumlah patani setempat yang telah lebih dulu panen memang tidak mengecewakan. Bahkan bisa dibilang lebih mahal dari tahun lalu. Untuk tembakau dengan kualitas paling jelek untuk daun paling bawah  dijual dengan harga Rp 300 ribu per bal.

BACA JUGA: Wagub NTB Hadiri Peringatan Hari Tanpa Tembakau

Sedangkan untuk daun atas dengan kualitas paling baik dijual dengan kisaran harga antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bal. ‘’Kalau kita kan petani swadaya, kita tidak terikat dengan perusahaan. Tembakau kita jual ke para pengusaha yang datang langsung beli ke sini. Paling banyak yang datang beli dari Masbagik. Soalnya mereka menjualnya sampai ke luar daerah,‘’ lanjut dia.

Dia mengakui, tembakau rajang yang diproduksi para petani di Kecamatan Suela sudah diakui kualitasnya. Daerah itu dikenal sebagai penghasil tembakau rajang Kasturi,  meski selama ini yang paling dikenal adalah tembakau Senang. Padahal semua jenis tembakau yang ditanam di tempat itu semuannya hampir sama. Tapi yang membedakan adalah kualitas tanah di wilayah itu beda dengan yang lainnya. Warna tanah yang hitam merupakan faktor utama produksi tembakau yang dihasilkan sangat baik. ‘’Tapi orang kenalnya tembakau Senang. Padahal itu nama desa saja, Kalau tembakau sama jenis Kasturi,‘’ imbuh Ahyar.

Luas lahan tanaman tembakau milik Ahyar yaitu 1,5 hektare. Disebutnya, meski harga tembakau mahal, namun keuntungan yang diperoleh para petani tentunya tidak sama. Semuannya itu tergantung ketelatenan petani merawat tembakaunya itu. Mulai pembibitan,  panen hingga produksi. Bahkan juga terkadang para petani yang memiliki lahan pertanian tembaku yang luas terang, dia belum juga bisa  mendapatkan untung besar. ‘’Kalau bicara masalah untung, tergantung nasib. Kalau cara merawat hingga produksinya bagus, pasti untung besar. Terkadang ada petani luas lahanya sedikit  bisa untung besar. Soalnya dia sudah paham bagaimana cara perawatannya,‘’ lanjut dia.

Namun kalau melihat harga penjualan saat ini, paling tidak hasil produksi tembakau rajang di wilayah itu akan bisa memberikan keuntungan bagi para petani. Besaran keuntungan yang diperoleha biasa mencapai puluhan juta. Harga untuk tembakau dengan kualitas terbaik dipatok sampai Rp 2 juta per bal. Jika petani tersebut mampu menghasilkan 50 bal, maka hasil penjualanya bisa mencapai Rp 100 juta. Sementara biaya yang dihabiskan perhektarenya mulai dari proses pembibitan di luar biaya produksi sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. ‘’Saya sendiri yang luas lahan sekitar 1,5 hektare kalau biaya yang telah saya habiskan sekitar Rp 10 juta. Tapi kualitas tembakau yang kita hasilkan bagus, insyallah untungnya akan lebih besar. Meski pun ketika harga murah, petani di sini lebih baik tanam tembakau ketimbang yang lain. Soalnya kita yang kelola sendiri, tidak terikat dengan perusahaan,’’ singkat dia.

Hal sama juga diakui Sofyan, petani tembakau rajang asal Pringgabaya. Kata dia, dari dua hektare lebih lahan tembakaunya, sebagiannya telah panen. Bahkan proses panen sendiri sudah masuk tahap kedua yaitu tinggal memetik daun tengah. Setelah itu dilanjutkan panen daun paling atas. Disebutnya, harga penjualan cukup bagus. Untuk daun bawah dijual dengan harga sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu per bal. ‘’Kalau harga tidak mengecewakan,‘’ timpalnya. (lie)