Industrialisasi Gurindam Kemodong Aur: Implementasi Nilai-Nilai Filosofis Berbasis Kearifan Lokal

Oleh: Wahyu Adi Guna, S.TP (Mahasiswa Pascasarjana IPB Asal NTB)

Industrialisasi adalah suatu keniscayaan. Tidak lebih jika dikatakan demikian, apabila indutrialisasi mampu memberikan nilai tambah dan mendongkrak ekonomi, menjaga keberlanjutan ekologi, serta menghidupkan kekayaan adat dan sosial budaya masyarakat setempat. Industrialsasi semacam ini berarti ialah agenda yang tidak menggilas dan melahirkan bencana, melainkan menjaga dan memberdaya.

Sejak resmi dilantik pada bulan September 2018 sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur NTB, Zul-Rohmi dengan visinya “NTB Gemilang” menjadikan program industrialisasi sebagai salah satu program unggulan dari 5 program lainnya. Program tersebut termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD NTB tahun 2019-2023.

Dilansir dari beberapa media massa, industrialisasi yang dimaksud oleh dua Doktor Pimpinan NTB ini bukanlah industri yang menghadirkan pabrik dan mesin yang besar-besar. Melainkan disederhanakan menjadi segala upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk. Yaitu dengan penyimpanan, konversi bentuk, pengolahan, distribusi maupun sentuhan penanganan lainnya terhadap seluruh bahan baku yang tersedia dan melimpah di NTB. Muara tujuannya ialah mewujudkan masyarakat NTB yang sejahtera dan mandiri.

Namun, setelah hampir lima tahun wacana program industrialisasi ini digaungkan oleh Pemprov NTB Gemilang, dampaknya belum dapat dirasakan secara signifikan dan universal. Baik oleh pelaku IKM, sumbangan untuk kas daerah, maupun bagi masyarakat di akar rumput selaku faktor kunci dari program ini. Padahal jika mengingat tenggat akhir periodesasi, tinggal menghitung hari pasangan Zul-Rohmi akan purna menahkodai provinsi “Gumi Gogo Rancah”.

Hal ini dapat dilihat dari besaran sumbangan industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB yang masih sangat minim. Berdasarkan data BPS (2022), nilai share sektor industri sebesar 4% ditahun 2020 dan 2021. Selain itu, data dari dinas koperasi UMKM provinsi NTB pada tahun 2021 menunjukkan bahwa dari total 103.284 jumlah UMKM, 84,16% diantaranya berupa usaha mikro, 14,6% berbentuk usaha kecil dan hanya sebesar 1,2% berupa usaha menengah.

Dari data diatas, dapat dianalisis dan dipetik suatu konklusi bahwa jika UMKM di NTB masih didominansi oleh usaha mikro dan kecil serta ditambah dengan nilai sumbangan PDRB yang sangat kecil dari sektor industri, maka cita-cita besar dari program industrialisasi sampai saat ini belum bisa terealisasi dan manfaatnya belum dapat dirasakan secara maksimal dan mengakar.

Melihat problem yang terjadi, tentunya akan memantik nalar kritis dari orang-orang yang memiliki atensi lebih terhadap persoalan ini. Apa yang terjadi, kenapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana solusinya?, akan menjadi rumusan masalah yang tajam dan membutuhkan jawaban serta tindakan yang tepat nan cermat.

Menurut hipotesis penulis, terdapat aspek-aspek prinsipil yang dilupakan dan tidak disertakan dalam suksesi program ini, lalu bertransformasi menjadi problem yang menghambat suksesi dari program industrialisasi. Oleh karenanya, untuk mempercepat kesuksesan dan tercapainya tujuan dari program unggulan ini, maka menjadikan aspek-aspek prinsipil tersebut sebagai ruh dan instrumen utama dalam pelaksanaannya adalah solusi konkret dari persoalan yang terjadi.
Perlu diingat bahwa NTB merupakan provinsi yang memiliki tiga suku bangsa besar yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo atau biasa disingkat dengan akronim SASAMBO.

Baca Juga :  Pentingnya Menjaga Akhlak Terpuji

Ketiga suku tersebut masing-masing diantaranya kaya akan kearifan lokal dan petuah yang sarat dengan nilai-nilai filosofis serta hidup dan mengakar ditengah peradaban masyarakat dari sejak tempo dulu.
Oleh sebab itu, perangkat atau instrumen yang paling tepat digunakan dalam melaksanakan program industrialisasi ialah perangkat yang berupa kearifan lokal dan nilai-nilai filosofis tersebut.

Tinggal tugas kita sekarang yakni merelevansikan nilai-nilai prinsipil ini untuk dapat diintegrasikan kedalam agenda suksesi program industrialisasi.
Industrialisasi Gurindam Kemodong Aur
Suku Sasak sebagai suku yang dominan menduduki pulau Lombok memiliki beragam petuah dan kearifan lokal. Salah satu yang familiar dikalangan tokoh adat Sasak ialah “sesenggak” Gurindam Kemodong Aur. Dalam sebuah buku “Membedah Misteri Politik NTB” karya Badrun A.M., Gurindam Kemodong Aur adalah cerita yang dimiliki oleh masyarakat Sasak tempo dulu yang didalamnya terkandung makna dan pesan moral yang sangat sarat.

Sebenarnya, gurindam Kemodong Aur merupakan suatu cerita yang menjadi basis tradisi politik lokal sebagai sebuah ekspresi cara memilih pemimpin yang disimbolkan dalam bentuk dialog antar binatang. Dalam gurindam tersebut, Kemodong Aur menjadi subjek penanda atas eksistensi seekor mahluk yang cerdik, cerdas, berwawasan dan dapat memahami semua kepentingan yang disimbolkan dengan kemampuannya mengikuti semua suara binatang.
Mengutip dari buku diatas bahwa cerita Kemodong Aur bermula ketika terjadi suatu “Sangkep Beleq” dalam dunia binatang. Sangkep ini dimaksudkan untuk memilih seorang pemimpin.

Prosesi pemilihan terjadi dalam suasana yang demokratis, cerdas dan argumentatif tanpa ada konfrontasi fisik sekalipun diantara beragam jenis binatang tersebut juga terdapat beragam ukuran fisik dan keganasan.
Terhadap para kontestan yang tampil, diberikan masukan dan kritik kepadanya. Semua masukan dan kritik tersebut diterima dengan lapang oleh setiap kontestan. Sehingga segenap kebutuhan yang dikehendaki oleh semua binatang dapat terakomodasi pada pemimpin yang terpilih.

Lantas apa relevansinya terhadap program industrialisasi di NTB ?. Dalam konteks ini, sejak dari perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan industrialisasi harus berdasarkan pada apa yang menjadi kebutuhan masyarakat NTB secara keseluruhan.
Segala bentuk industri yang akan dikembangkan oleh pemprov NTB harus berkesesuaian dengan kehendak dan kebutuhan masyarakat. Karena dengan begitulah program ini akan dapat diterima dan berjalan secara maksimal serta menghasilkan manfaat yang signifikan bagi peningkatan taraf ekonomi masyarakat setempat.
Dalam bahasa keteknikan, istilah yang paling tepat untuk mengambarkan konsep ini ialah “requirement engineering”.

Untuk membangun suatu sistem apapun, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang engineer adalah menganalisa requirement engineering nya. Hal ini sangat penting dilakukan karena langkah pertama inilah yang menjadi tahapan paling fundamental dalam mendesain dan mengembangkan suatu sistem.

Oleh sebab itu, mensukseskan program industrialisasi di NTB tidak akan bisa dilakukan jika konsep, wujud, dan output dari industrialisasi tersebut tidak sesuai dengan apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan oleh masyarakat NTB selaku key factor dari program ini. Maka untuk merealisasikan program unggulan ini, segala aspeknya harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Caranya ialah dengan mengejawantahkan pesan moral berupa nilai-nilai prinsipil dan konsep yang terkadung dalam Gurindam Kemodong Aur.

Baca Juga :  Sadari Bahwa Orang Tua Memegang Peran Utama

Menjadi Provinsi yang Arif dan Digdaya
Memang dalam dugaan konklusi orang secara umum dewasa ini, industrialisasi akan senantiasa berbenturan dengan upaya penjagaan terhadap nilai-nilai kultural dan kearifan lokal. Kemajuan mesin dan teknologi akan selalu melumat kekayaan adat dan budaya setempat. Stigma yang bermunculan adalah dikotomi konfrontasi antar keduanya.

Namun menurut hemat penulis, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Justu jika dua aspek ini dapat diintegrasikan, maka akan bertansformasi menjadi daya tawar yang sangat besar. Industrialisasi yang menggaungkan nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai adat budaya menjadi sendi atas pelaksanaan industrialisasi. Keduanya dapat saling mengisi dan menyempurnakan demi suatu kemajuan.

Herman Malik, Ph.D. dengan bukunya yang berjudul “Bangun Industri Desa, Selamatkan Bangsa” yang terbit tahun 2015 telah menunjukkan suatu optimisme keberhasilan pembangunan lewat industri desa yang notabene kaya akan nilai-nilai kultural. Ia menjabarkan secara eksplisit dan terperinci tentang bagaimana local wisdom dapat menjadi tumpuan pembangunan.

Singkatnya, menurut Herman Malik bahwa pembangunan berbasis pada local wisdom akan menjadi solusi dari ketimpangan yang terjadi akibat kesalahan pelaksanaan industrialisasi era orde baru. Industrialisasi yang berlandaskan pada padangan barat dan tersentralisasi yang telah banyak menggerus nilai-nilai kultural yang ada menjadi industrialisasi yang membangun kesejahteraan bagi masyarakat.

Optimisme semacam itu memang harus dibangun sebagai upaya untuk mencari solusi dari persoalan yang terjadi. Lebih-lebih NTB sangat kaya akan nilai-nilai kearifan lokal. Sasak dengan sesenggaknya, Mbojo dengan petuahnya, Samawa dengan slogannya.
Jika NTB dapat melakukan integrasi antara industrialisasi dengan kearifan lokal atau melaksanakan industrialisasi yang dispiritkan oleh nilai-nilai kultural, maka bersiap-siaplah untuk menjadi provinsi yang produktif, arif dan digdaya di kancah nasional.
Sekilas Refleksi
Setelah sekian tahun program industrialisasi NTB digaungkan-gaungkan di era NTB Gemilang, namun belum nyata implementasinya. Program besar ini jangan sampai hanya menjadi slogan yang mudah ditebar di setiap tempat dan di setiap saat. Melainkan program ini harus betul-betul diwujudkan secara total serta mampu menjangkau akar rumput masyarakat NTB dengan segenap positif impact nya.

Positif impact yang dikehendaki (baca: acceptable output) antara lain: meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, mewujudkan pasar yang berkepastian dan berkeadilan bagi produk lokal, membuka lapangan pekerjaan, menjaga keberlanjutan ekologi, menghidupkan sosial budaya masyarakat setempat, mendongkrak daya saing daerah serta beberapa hal lainnya. Dan itu semua akan lebih mudah terealisasi dengan bantuan dari seperangkat tools yang kita miliki, yang dikenal dengan nilai-nilai filosofis berbasis kearifan lokal.

Komentar Anda