Pentingkah Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini?

Elsa Dwi Marlani, Mahasiswi UIN Mataram Jurusan PIAUD. (IST/RADAR LOMBOK)

Oleh Elsa Dwi Marlani, Mahasiswi UIN Mataram Jurusan PIAUD

Indonesia menjadi salah satu negara yang masih menganggap pendidikan seks adalah hal tabu. Di mana para orang tua masih paranoid, enggan atau canggung jika membahasnya dengan anak usia dini. Kebanyakan mereka berpikir bahwa hal-hal yang berhubungan dengan seks adalah negatif dan perlu dihindari oleh anak. Hal ini lah yang menjadi salah satu penyebab dari kurangnya pengetahuan anak untuk menjaga diri terutama pada bagian-bagian badan yang sensitif.

Jika dikaitkan dengan pelecehan maupun kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini, kurang adanya inisiatif untuk mengajarkan pendidikan seks sejak dini menjadi salah satu penyebabnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat, sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021, terdapat 426 kasus kekerasan seksual dari total 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ali Khasan, seorang Asisten Deputi Perumusan Kebijakan Perlindungan Hak Perempuan juga menegaskan, data tersebut berdasarkan hasil pelaporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak. Dapat dilihat bahwa tingkat kekerasan seksual terhadap anak bukanlah hal yang jarang terjadi di Indonesia, melainkan hal yang terus meningkat dan membuat kekhawatiran orang tua semakin tinggi. Dan bukan hanya itu, anak yang tidak diberikan pendidikan mengenai seks juga dapat menjadi seperti predator seks di masa depan, di mana ia dapat merugikan dirinya, korban dan keluarga.

Hal tersebut dapat membawa orang tua seharusnya lebih memperhatikan kembali pendidikan seks untuk anaknya. Sayangnya, sudah menjadi hal yang wajar bahkan seperti budaya jika pendidikan seks atau hal-hal yang berbau seksualitas itu tabu dan adanya perasaan tidak nyaman saat membahas atau mempelajarinya walaupun dengan orang-orang terdekat. Orang tua pun masih banyak yang menganggap pendidikan seks sebagai hal negatif dan susah dijelaskan, maka dari itu kebanyakan dari mereka memilih untuk menjauhi dan tidak menjelaskan mengapa hal itu dilarang saat anak mulai bertanya.

BACA JUGA :  Pola Pengasuhan Orang Tua terhadap Anak

Pendidikan seks untuk anak pada umumnya merupakan suatu kegiatan di mana orang dewasa lebih tepatnya orang tua mengajarkan anak mengenai kesehatan reproduksi. Kegiatan ini sendiri adalah untuk menyadarkan betapa pentingnya menjaga dan melindungi  reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual, kekerasan seksual, pemerkosaan, seks di luar nikah maupun penyakit menular dapat dicegah sedini mungkin. Agar lebih bersahabat, pendidikan seks dapat disebut dengan Pendidikan Kesehatan Keluarga atau Pendidikan Kesehatan Reproduksi.

Menurut Pakar Psikologis Klinis Anak, Violetta Hasan Noon, M. Clin, Psych., Grad (Cert) PT & ET, pendidikan seks anak merupakan suatu kegiatan pemberitahuan informasi kepada anak untuk mengajarkan daerah-daerah privasi mereka.  Ia juga menambahkan, bahwa kebanyakan anak usia dini mengalami pelecehan seksual itu dikarenakan mereka tidak memiliki background pendidikan seksual mengenai bagian-bagian privasi atau vital tersebut. Dalam pendidikan seksual, orang tua sangat dapat mengenalkan bagian-bagian vital pada tubuh dengan jujur tanpa diberi sebutan lucu, juga anak dapat diajari empat bagian penting tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain kecuali orang tuanya, yaitu bagian bibir, dada, kemaluan, dan pantat. Orang tua dapat memberitahukan kepada anak, jika bagian-bagian itu disentuh oleh orang lain apalagi orang yang tidak anak kenali, anak haruslah berteriak dengan kencang juga memberitahukan hal itu kepada orang tuanya.

BACA JUGA :  Cara Memarahi Anak dengan Kasih Sayang

Sayangnya, orang dewasa masih berpikir negatif untuk dampak yang ditimbulkan dari pendidikan seks, karena minimnya pengetahuan mengenai hal itu. Pendidikan seks sendiri dapat menimbulkan rasa malu, perlindungan diri dan mawas diri pada anak serta karena orang tua tidak bisa memprediksi suatu lingkungan yang akan ditempati anak, maka sangat baik memberikan hal itu sedini mungkin. Bahanya, jika tidak membahas pendidikan seks dan hanya marah atau mencari topik lain ketika anak bertanya mengenai hal itu, sangat memungkinkan untuk anak-anak semakin penasaran dan belajar dari orang yang tidak bertanggung jawab serta kelak akan mencari tahu sendiri melalui internet di mana semua orang tahu bahwa internet dapat mengakses apapun dari hal positif maupun negatif.

Memberikan pendidikan seks juga tidak bisa secara semena-mena kepada anak. Pemberian pendidikan ini haruslah disesuaikan dengan usia anak serta memiliki porsinya masing-masing dan bukan pembahasan yang melampaui kapasitas pikiran anak. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang simpel dan mudah dipahami oleh anak, usahakan setiap larangan memiliki alasan yang masuk akal bagi anak serta berdampak mudah diingat sampai ia dewasa nanti.

Untuk ke depannya, penulis sangat berharap agar orang dewasa terutama orang tua dapat lebih peduli terhadap pendidikan seks kepada anak, karena salah satu bentuk kepedulian orang tua ke anak adalah dengan mencegah hal-hal yang dapat menimbulkan pelecehan serta kekerasan seksual berakibat efek trauma pada anak. Sebagai pengingat, orang tua tidak dapat memgontrol lingkungan anak, tetapi mereka dapat mencegah hal-hal buruk terjadi dengan memberikan pendidikan yang pantas untuk anaknya, seperti pendidikan seksual ini. (**)