Imbas Corona, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Terjun Bebas

Pertumbuhan Ekonomi
MALL TUTUP : Suasana pusat perbelanjaan terbesar di NTB Lombok Epicentrum Mall (LEM) sempat buka pada 22 April, dan kembali ditutup, pada Senin (27/4).

MATARAM – Pemerintah mengambil langkah mengatasi penyebaran virus Corona (Covid-19) agar tidak semakin meluas, yakni menutup akses keluar masuk bandara dan pelabuhan khususnya yang mengangkut penumpang orang (mudik). Namun, untuk logistik masih tetap berjalan.

Menurut pengamat ekonomi Universitas Mataram (Unram) Dr Firmansyah, pelabuhan dan bandara salah satu instrumen penting dalam bisnis, khususnya untuk mobilitas orang dan barang. Bila ditutup tentu akan mengganggu dari sisi pengusaha transportasi. Namun, bila untuk kebutuhan transportasi logistik tetap jalan, diperkiran dampak buruknya dapat ditekan.

“Iya pasti berdampak (pengusaha transportasi). Namun kita bukan dalam kondisi normal, dari banyak sisi ekonomi kita anjlok karena wabah ini,” ujar Firmansyah kepada Radar Lombok, Minggu (26/4).

Ditengah kondisi saat ini, Firmansyah berujar, idealnya perlu ada paket kebijakan terhadap usaha transportasi, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Tetapi upaya memutus rantai Covid-19 harus segera dan disiplin, sehingga transaksi ekonomi dapat bergairah lagi.

“Dengan masih jalannya tranportasi logistik juga meminimalisir kerugian sektor transportasi. Karena, tidak semua logistik daerah bisa dipasok secara mandiri. Mereka (transportasi) tetap jalan walau tidak sesering saat kondisi normal,” katanya.

Meski demikian, posisi pertumbuhan ekonomi pun juga akan terpengaruh. Bahkan, kondisi ini akan berada diposisi terendah.  Lantaran dihantam Covid-19 ditambah dengan adanya kebijakan penutupan pelabuhan dan bandara.

“Saya kira posisi (pertumbuhan ekonomi) paling rendah sekitar 2-3 persen,” sebutnya.

Rendahnya posisi perkiraan pertumbuhan ekonomi NTB diprediksi karena dampak dari situasi saat ini. Sehingga, nantinya NTB akan sulit untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi yang sudah direvisi menjadi 3,3-3,7 persen.

“Sulit (tercapai) karena mesin ekonomi macet. Tapi kalau wabah ini bisa diatasi cepat, maka recovery-nya bisa lebih cepat, sehingga bisa tercapai,” ujarnya.

Ia menilai, masa recovery virus Corona berbeda dengan masa recovery pascagempa 2018 lalu. Di mana kondisi pascagempa lebih sulit, karena gempa menyebabkan sebagian alat produksi rusak dan aset fisik banyak rusak, saat pendemi, hanya terhenti aktifitas. Apabila pandemi ini selesai, NTB akan kembali ke sediakala.  Karena NTB masih ditopang sektor primer pemasok kebutuhan pokok, seperti pertanian, perikanan dan lainnya. Selain itu juga sektor pariwisata, bila pandemi ini selesai, maka orang akan berkunjung ke lokasi-lokasi wisata.

Untuk itu, kunci dari perbaikan ekonomi adalah berupaya mempercepat memutus mata rantai penyebaran Covid 19 ini, salah satunya langkah yang diambil oleh pemerintah pusat.

“Sehingga perlu kedisiplinan, semakin berlarut-larut akan berlarut-larut pula persoalan ekonomi tidak terselesaikan. Semakin lama akan sulit diurai masalah ekonomi,” pungkasnya. (dev)