Dikira Tsunami, Warga Pesisir Ampenan Mengungsi

RUSAK : Gelombang rob menghantam pesisir pantai Ampenan dari Bintaro sampai Mapak. (SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Warga pesisir pantai Ampenan berbodong-bondong keluar rumah. Gelombang besar setinggi 3 meter datang secara tiba-tiba Sabtu (27/1) malam pukul 19.40 Wita. Air pasang tiba-tiba masuk ke halaman rumah warga mirip seperti gelombang tsunami membuat warga semakin panik.

Para nelayan juga berusaha menyelamatkan perahunya yang terkena dampak. Mereka menarik perahu ke daratan yang lebih tinggi agar tidak dihantam gelombang. Warga sekitar juga mulai panik karena beberapa kali gelombang mulai naik dan menghantam tembok rumah.

Salah satu warga Bintaro, Muhdar menceritakan, suara gemuruh dan gelombang semakin tinggi saat menjelang salat Isya. Bersama warga sekitar berduyun-duyun menyelamatkan rumah dan membuat tanggul sederhana dari karung yang diisi pasir pantai. ‘’Kita buat tanggul, sebagian anak-anak dan lansia mengungsi sementara ke rumah keluarga yang jauh dari pantai seperti di Kebon Talo,’’ katanya kepada Radar Lombok, Sabtu (27/1) malam.

Di tengah guyuran hujan tinggi, warga semakin resah karena air laut banyak masuk ke halaman rumah. Beruntung tidak ada korban jiwa. Air mulai tergenang di halaman rumah sekitar warga. Petugas BPBD juga turun langsung ke lokasi beberapa titik wilayah terdampak.

Muhdar berharap, ada perhatian serius karena aktivitas gelombang pasang setiap tahun terjadi. Namun, kali ini paling besar dan ada juga gempa yang membuat warga semakin trauma dengan gempa tahun 2018. Diketahui, Sabtu sore ada gempa 5,6 Magnitude yang mengucang Kuta Selatan Bali dan terasa sampai Mataram. ‘’Karena ada gempa sore itu membuat warga semakin panik,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Penerima BLT BBM Bertambah 475 Ribu KPM

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Mataram, Multazam mengatakan, kondisi tiga wilayah pesisir pantai Ampenan yang terkena banjir rob ada tiga Lingkungan di Kelurahan  Bintaro yang  terdampak. Selain itu, juga ada abrasi yang parah akibat air pasang. ‘’Seperti jalan  HM Ruslan hampir tertutup pasir,’’ ujarnya.

Selain itu, adanya rumah warga yang di pinggir pantai berpotensi roboh.  Dengan kejadian ini hanya bisa melakukan bendung sementara dan membuat tanggul darurat, memberikan karung di wilayah yang berpotensi masuk air laut. Khususnya di wilayah kampung Bugis, air tergengang, tingginya ombak sudah ada satu keluarga yang sudah mengungsi. Tim relawan kebecanaan sudah sama-sama turun ke Lingkungan Bintaro Jaya, Bugis dan Pondok Perasi.

Gelombang pasang juga menyasar wilayah Ampenan selatan, seperti di Lingkungan Penghulu Agung. Dari identifikasi BPBD semua wilayah sepajang pesisir pantai Ampenan, Bagek Kembar, Mapak indah, dan Pondok Kapur. ‘’Di tengah perubahan kondisi cuaca saat ini, curah hujan tinggi, angin kencang, kita memberikan imbau ke warga untuk tetap berhati-hati. Sampai sejauh ini belum ada korban jiwa dan rumah rusak,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Abdul Rachman Dilantik Jadi Wakil Ketua DPRD Kota Mataram

Kejadian hidrometeorologi (rob) dampak fenomena La Nina yang menyebabkan kenaikan peemukaan air laut dan tinggi gelombang mencapai 2,5 sampai 3 meter, dan pasang air laut yg menggenangi rumah warga yang mengakibatkan terdampak pada Lingkungan Bugis, Pondok Prasi dan Bintaro Jaya. ‘’Sampai saat ini kondisi yang ada di lapangan intensitas luapan air telah menurun.  Penyaluran logistik berupa karung 150 lembar sudah dilakukan,dan membuat tanggul penahan air dari karung berisi pasir,’’ pungkasnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD kota Mataram Ahmad Azhari Gufron mengatakan, fenomena tahunan ini  belum diatensi secara serius. Karena warga sudah lama meminta pembuatan tanggul maupun jetty pemecah gelombang. Namun belum ada realisasi. ‘’Kita harapkan ini diatensi secara serius, kalau dilihat dari garis pantai juga sudah semakin berbahaya. Kedepan ini, harus disuarakan sampai ke pemerintah pusat. Karena daerah tidak mampu untuk membangun tanggul maupun jetty, dari segi biaya sangat besar,’’ katanya. (dir)

Komentar Anda