Bangkitkan Kebudayaan Tradisional dari Mati Suri

Bangkitkan Kebudayaan Tradisional dari Mati Suri
PEMUDA PELOPOR : Andre Kurniawan (lima dari kanan) merupakan pemuda pelopor tahun 2019 tingkat Provinsi NTB bidang agama, sosial dan budaya.( ISTIMEWA/RADAR LOMBOK )

ANDRE KURNIAWAN, PEMUDA PELOPOR NTB TAHUN 2019

Pada hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, Pemprov NTB memberikan penghargaan kepada para pemuda pelopor yang telah berkontribusi besar bagi masyarakat. Salah satu nama yang paling bersinar, yaitu Andre Kurniawan asal Desa Kesik Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur. 

NAMA Andre Kurniawan tahun ini ditetapkan sebagai juara satu pemuda pelopor bidang agama, sosial dan budaya. Sebelumnya peringkat pertama di tingkat Kabupaten Lombok Timur dan awal bulan ini mewakili Provinsi NTB di tingkat nasional. 

Provinsi NTB tidak hanya dianugerahi keindahan alam. Namun juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Kebudayaan yang ada beraneka ragam, berbeda-beda antar suku. Warisan tradisi dari nenek moyang itulah yang semakin jarang ditemukan saat ini. Bahkan kebudayaan tradisional dibiarkan mati suri. Anak-anak muda di desa tidak tertarik sama sekali. Apalagi modernisasi sudah semakin mengokohkan diri di kampung-kampung. 

Hal itu pula yang terjadi di Desa Kesik, tempat tinggal Andre Kurniawan beberapa tahun lalu. Kebudayaan tradisional dianggap sudah tidak zamannya lagi. Menurut pria kelahiran 1 April 1990 ini, apabila kebudayaan daerah dilestarikan dan dikembangkan, bisa menjadi salah satu aset yang memiliki nilai jual tinggi. Bahkan berpotensi untuk dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan bagi para seniman, menjaga nilai-nilai luhur dan memberikan kontribusi perekonomian Bagi masyarakat. 

Keberadaan kebudayaan tradisional di Kabupaten Lombok Timur pada umumnya, cukup lama seperti mati suri. “Aktivitas berkebudayaan tradisional jarang ditemukan. Lebih-lebih pada generasi muda. Tapi kalau masyarakat di Desa Kesik dan Kecamatan Masbagik yang sekarang, sudah menempatkan kembali bahwa kebudayaan tidak dapat dilepaskan begitu saja,” kata Andre yang merupakan sarjana sejarah. 

Perubahan drastis tersebut diwujudkan dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Andre mulai bergerak membangkitkan kebudayaan tradisional sejak dirinya menjadi mahasiswa. Melihat kenyataan tentang keberadaan kebudayaan tradisional yang sangat memprihatinkan, setelah wisuda tahun 2011, Andre semakin fokus berjuang membangkitkan kebudayaan tradisional. “Dengan perjuangan yang cukup berat, saya mencoba untuk mengajak teman-teman para pemuda untuk berlatih demi mengangkat  kembali kebudayaan tradisional yang merupakan pusaka nenek moyang kami. Tapi memang tidak mudah,” tutur suami dari Linda Ayu Lestari ini. 

Perjalanan Andre dalam membangkitkan budaya tradisional, tidak semudah yang dipikirkan. Selama 5 tahun ikhtiar yang dilakukan, tidak juga mendapatkan respons positif dari masyarakat. Semangat Andre bahkan sempat memudar. Namun kecintaan terhadap budaya dan cita-cita mulia, menjadi penyemangat yang cukup ampuh untuk tetap bertahan. 

Introspeksi pun dilakukan. Andre memulai dengan memetakan penyebab hilangnya beberapa bentuk kebudayaan tradisional dan melemahnya minat masyarakat. “Ada pemikiran pada generasi kami bahwa kebudayaan tradisional itu sudah lawas, sudah tidak laku, tidak layak lagi dikembangkan. Makanya tidak ada yang mau melestarikannya,” ucap Andre yang juga aktif di Karang Taruna Desa. 

Sifat dan bentuk kebudayaan tradisional tidak lagi diminati, juga karena terlalu kaku. Masyarakat lebih menyukai beralih kebudayaan kreasi baru. Diperparah lagi dengan rendahnya kualitas sumber daya para seniman. 

Inovasi, menjadi keharusan apabila kebudayaan tradisional ingin dibangkitkan. Andre memanfaatkan momentum Maulid Nabi dengan sentuhan kebudayaan. “Kita buat acara Maulid Adat, begawe beleq yang diikuti oleh semua tokoh adat dan tokoh agama yang ada di Pulau Lombok. Itu tahun 2016, kita adakan acara penyucian benda-benda pusaka, pengambilan air di mata air Tojang Desa Lendang Nangka,  pencucian benda pusaka peninggalan Putra Mahkota Selaparang Raden Mas Panji Tilar Negara,” cerita alumni STKIP ini. 

Setiap ada pemuda yang menikah, diupayakan juga agar kebudayaan diterapkan. Misalnya dalam proses sorong serah, nyongkolan, dan lain-lain. “Kita hidupkan juga budaya serakalan, peresean, budaya bubur poteq, budaya bubur beaq dan lain sebagainya,” tambah Andre. 

Adanya sambutan baik dari masyarakat, membuat Andre semakin semangat. Andre mulai melatih musik tradisional untuk para pelajar SD maupun SMK. “Pada tahun 2017 terbentuk sebuah wadah organisasi yang kami sepakati dengan nama Ikrar Toes, dengan jumlah anggota binaan saya mencapai 30 orang saat itu,” katanya.

Melalui wadah Ikrar Toes, kebudayaan tradisional semakin digalakkan. Setelah cukup dikenal, pemerintah dan juga para pelaku wisata bersama tamu-tamu mancanegara datang sendiri. “Sambutan berbagai pihak ini terbukti dengan tetap dipergunakannya budaya dan musik tradisional kami oleh masyarakat. Di samping itu, bentuk-bentuk kebudayaan tradisional seperti budaya dan musik tradisional sering diminta untuk mengisi acara-acara pemerintah,” ucap Andre. 

Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTB, Harun Al Rasyid mengaku sangat bangga dengan Andre Kurniawan. Begitu pula dengan pemuda lainnya yang memiliki semangat pengabdian tinggi kepada masyarakat. Pemuda Pelopor tahun 2019, terdiri dari 5 orang yang menjadi peringkat satu.

Untuk pemuda pelopor bidang pendidikan, diraih oleh Dipati asal Kabupaten Bima. Kemudian bidang pangan diraih oleh Adellia Rizkiana asal Lombok Utara, bidang Inovasi teknologi diraih Robby Sahrullah asal Sumbawa, dan bidang pengelolaan sumber daya alam, lingkungan dan pariwisata diraih oleh Ramlin asal Dompu. 

Dipati yang menjadi pemuda pelopor bidang pendidikan, karena mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang malas belajar. “Orang tua siswa juga dilibatkan. Semua diajar anak-anak di desanya dengan gaya menarik, seperti mengajak ke pantai, pungut sampah plastik. Malam Jumat keliling di desa bagi surat yasin, lakukan yasinan bersama. Dipati itu semangat daya juangnya hebat,” tutur Harun. 

Lain lagi dengan Ramlin asal Dompu. Pemuda tersebut mampu merubah desa yang kumuh menjadi desa percontohan. Desa yang dulu terbelakang dan jorok, kini sudah tertata rapi. 

Selanjutnya Robby pada bidang inovasi teknologi, telah meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pupuk yang diciptakan begitu luar biasa untuk produksi padi dan ikan. “Adellia Rizkiana yang dapat penghargaan juara satu bidang pangan, itu anak kelas 2 SMA. Dia tanam sayur, menghimpun teman-teman sekolahnya juga untuk berwirausaha. Biasanya siswa itu minta uang jajan, kalau mereka di sana itu mereka yang kasih orang tua uang. Malah bisa nyumbang juga saat gempa tahun lalu,” ucap Harun penuh bangga. (**)