Triwulan II-2020, Ekonomi NTB Minus 1,41 Persen

DESTINASI WISATA : Sejumlah wisatawan domestik (lokal) tengah menikmati suasana keindahan pantai Kuta Mandalika yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)
DESTINASI WISATA : Sejumlah wisatawan domestik (lokal) tengah menikmati suasana keindahan pantai Kuta Mandalika yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Wabah virus Corona (Covid-19) yang berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga saat ini berdampak besar terhadap perekonomian nasional, termasuk NTB. Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB dampak dari pandemi Covid-19, pada triwulan II-2020 ekonomi NTB tumbuh minus 1,41 persen dibandingkan periode yang sama di triwulan II-2019.  

“Ekonomi NTB di triwulan II-2020 mengalami minus (kontraksi) sebesar 1,41 persen jika dibandingkan dengan triwulan II-2019 (y on y),” kata Kepala BPS Provinsi NTB Suntono, Rabu (5/8).

Suntono menerangkan kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB tersebut disebabkan oleh terkontraksinya berbagai kategori lapangan usaha akibat adanya pandemi Covid- 19 sepanjang triwulan II- 2020. Berdasarkan data BPS perekonomian NTB yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp 32,79 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 23,07 triliun.

Kontraksi terdalam dialami kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 58,66 persen, diikuti kategori transportasi dan pergudangan tumbuh minus 58,05 persen, dan konstruksi minus 26,71 persen. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicapai kategori pertambangan dan penggalian sebesar

47,78 persen. Pertumbuhan ekonomi NTB tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan II-2020 (y on y) mengalami kontraksi sebesar 7,97persen.

“Perkembangan ekonomi NTB secara triwulanan dari 2017-2020 tepatnya triwulan II ini, perjalanan ekonomi NTB secara triwulanan nampak kecenderungan terus melambat. Bahkan kontraksi sejak triwulanan IV- 2019 sampai triwulan II-2020,” sebutnya.

Dilihat dari penciptaan pertumbuhan, sumber pertumbuhan tertinggi pada ekonomi NTB triwulan II-2020 (y on y) diberikan oleh pertambangan dan penggalian sebesar 5,5 persen. Selanjutnya pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 1,98 persen dan kategori informasi dan komunikasi sebesar 0,44 persen.

Adapun sumber pertumbuhan penyebab minusnya ekonomi NTB yang tertinggi adalah kategori transportasi dan pergudangan sebesar -4,35 persen, diikuti kategori konstruksi sebesar -2,99 persen, dan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar -1,14 persen.

Suntono menyebut jika struktur ekonomi NTB triwulan II- 2020 di dominasi oleh pertanian, kehutanan, dan perikanan, pertambangan dan penggalian, dan kategori perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor dengan peran masing-masing sebesar 27,53 persen; 16,90 persen; dan 14,48 persen. Selanjutnya kategori konstruksi, dan kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib memiliki peran masing-masing sebesar 7,95persen dan 6,53 persen.

“Peranan kelima pangan usaha tersebut mencapai 73,39 persen terhadap total PDRB NTB,” sebutnya.

Pertumbuhan PDRB tertinggi menurut lapangan usaha triwulan II 2020 secara q to q nampak sektor pertanian kehutanan dan perikanan masih tumbuh sebesar 31,50 persen. Berikutnya adalah lapangan usaha dan informasi secara q to q tumbuh 11,92 persen dan industri pengolahan masih tumbuh 11, 81 persen dan ini merupakan dampak dari upaya penguatan IKM dan UKM.

“Terkait dengan salah satunya adalah untuk prodak-prodak penyaluran JPS gemilang tahap satu dan dua terutama, begitu juga dengan tahap tiga,” ungkapnya.

 Sementara itu, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2020 dibandingkan triwulan I-2020 tumbuh 0,52 perse berdasarkan q to q. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 31,50. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri tumbuh sebesar 24,05 persen.

“Pertumbuhan ekonomi semester I-2020 terhadap semester I-2019 tumbuh 0,75 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai pertambangan dan penggalian sebesar 31,72 persen  dan sisi pengeluaran, ekspor luar negeri tumbuh sebesar 5,40 persen,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Achris Sarwani memproyeksi pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II diperkirakan mengalami kontraksi paling dalam. Hal tersebut sangat memungkinkan, karena mulai di Maret sudah mulai menurun daya beli masyarakat.

“Kalau kita perhatikan dari data-data yang ada. Diperkiran triwulan II ini minus pertumbuhan ekonomi paling dalam,” ujarnya.

Menurutnya, dilihat dari grafiknya pada Maret mulai turun perekonomian sehingga sampai benar-benar pembatasan dihentikan harus bertahan dan masih menyesuaikan dengan kondisi sekarang.  Tetapi NTB sudah mulai merasakan lagi ada perkembangan new normal atau tananan baru. Dimana sudah bukan lagi survive tapi mulai bertahan.

“Kita mencari ide baru, agar nantinya September di triwulan IV, mudahan mengarah ke pemulihan ekonomi,” pungkasnya. (dev)