Saat Perpustakaan Desa Rempung Juara Satu Tingkat Nasional

Kado Indah HUT RI, Diapresiasi Warga

Perpustakaan Desa Rempung
JUARA : Kepala Perpustakaan Desa Rempung, M Irawadi bersama Kades Rempung Umar Ubaid saat di Jakarta menerima penghargaan. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Salah satu kado terindah pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI) ke-74 bagi Provinsi NTB, yaitu terpilihnya perpustakaan Desa Rempung Kecamatan Pringgasela Lombok Timur sebagai juara satu tingkat nasional.


AZWAR ZAMHURI – LOMBOK TIMUR


Pengumuman pemenang lomba perpustakaan desa tingkat nasional diumumkan tepat pada malam kemerdekaan Indonesia, Jum’at malam (16/8). Perwakilan Provinsi NTB, perpustakaan desa Rempung berhasil menjadi yang terbaik dan dinobatkan sebagai juara satu tingkat nasional. Tahun 2018 lalu, perwakilan Provinsi NTB gagal menjadi juara. Bahkan hanya terpilih sebagai juara harapan saja. Begitu pula dengan tahun 2017, tidak ada prestasi membanggakan. 

Untuk tahun ini, Provinsi NTB menatap lomba perpustakaan desa tingkat nasional penuh optimisme. Berbagai rangkaian telah dilakukan hingga akhirnya memilih perpustakaan desa Rempung untuk tampil di tingkat nasional. 

Asri dan nyaman. Itulah gambaran pertama yang akan dirasakan Radar Lombok ketika berkunjung ke perpustakaan desa Rempung, Minggu sore (18/8). Suasana yang diberikan sangat cocok untuk segala usia, baik anak-anak, remaja maupun bagi orang dewasa. 

Lokasi perpustakaan berada di lingkungan kantor desa. Sebuah bangunan sederhana di samping musholla yang didesain kekinian. Berhadapan dengan panggung seni budaya Rempung. 

Di depan pintu perpustakaan, terpampang majalah dinding (Mading). Berbagai kegiatan yang pernah dilakukan terdokumentasi disana. Begitu pula dengan beberapa pengumuman penting tentang perpustakaan, ada di Mading tersebut. 

Untuk semakin menyejukkan suasana, beberapa gambar terpampang di tembok dekat perpustakaan. Kata-kata cinta buku dan memakmurkan perpustakaan, dapat dengan mudah dibaca. 

Era digital yang semakin menguasai saat ini, perpustakaan sering ditinggalkan. Untuk mengetahui sesuatu, masyarakat tinggal membuka internet. Kondisi tersebut mengharuskan pengelola perpustakaan bisa berinovasi agar tidak ketinggalan zaman.  Prestasi membanggakan yang diraih perpustakaan desa Rempung, disambut gembira oleh para pejabat hingga rakyat.

Terutama masyarakat Desa Rempung, yang baru pertama kali mewakili Provinsi NTB dalam lomba desa dan langsung menjadi juara satu. “Alhamdulillah kita juara satu. Tadi malam pengumumannya,” tutur Kepala Perpustakaan Desa Rempung, M Irawadi kepada Radar Lombok, Sabtu (17/8) lalu.

Dituturkan Irawadi, prestasi membanggakan tersebut sangat luar biasa baginya. Apalagi, baru tahun lalu perpustakaan memiliki gedung sendiri. Sejak berdiri hingga 2017, perpustakaan desa menyatu dengan kantor pemerintah desa setempat.

Perpustakaan Rempung berdiri sejak tahun 2010. Namun kurang representatif, bahkan hingga tahun 2017 perpustakaan Rempung berada satu atap dengan kantor desa Rempung. “Di tahun anggaran APBDes tahun 2017, perpustakaan desa Rempung disetujui untuk pembangunan gedung terpisah dari kantor desa untuk pengoptimalan pelayanan,” ucapnya. 

Pada awal tahun 2018, perpustakaan desa Rempung sudah memiliki gedung sendiri. Berbagai pembenahan dilakukan, inovasi terus ditingkatkan tanpa harapan apapun. 

Tahun 2018 itu juga, perpustakaan desa Rempung mengikuti lomba Perpustakaan Desa (Perpusdes) tingkat kabupaten. “Tapi kita juara dua tingkat kabupaten, karena memang kita belum target ke nasional,” katanya. 

Prestasi 2018, menjadi motivasi besar untuk lebih baik tahun 2019. Kembali, pembenahan dan berbagai inovasi dilakukan demi menjadi yang terbaik. Ikhtiar itu terbukti tidak sia-sia. 

Irawadi mampu membawa perpustakaan desa Rempung menjadi yang terbaik alias juara satu tingkat kabupaten. Pihaknya berhasil mengalahkan desa Labuan Lombok yang juara dua dan perpustakaan Masbagik baru juara tiga. “Terus lanjut di tingkat Provinsi, kita juara satu lagi. Juara dua perpustakaan dari kabupaten Dompu, juara tiga dari Kabupaten Bima. Makanya kita yang mewakili NTB di tingkat nasional,” cerita Irawadi.

Banyak hal yang membuat perpustakaan desa Rempung akhirnya dinobatkan sebagai juara satu tingkat nasional. Terutama pengembangan inklusi sosial dan desain perpustakaan. 

Irawadi bersama pengurus lainnya dengan dukungan pemerintah desa setempat, menjadikan perpustakaan bukan sekedar tempat membaca atau meminjam buku. Paradigma tersebut dirubah dengan menjadikan perpustakaan multi fungsi. 

Kondisi perpustakaan juga sangat nyaman bagi anak-anak, remaja maupun orangtua. Buku-buku tertata rapi. “Besok tanggal 5 September diundang lagi ke acara Perpusnas di Jakarta. Lumayan lama NTB puasa juara, alhamdulillah kita bisa memberikan juara,” ujar Irawadi bangga. 

Irawadi bersama pengurus yang lain, sangat menyadari tidak mudah mengelola perpustakaan pada era saat ini. Namun di tangan 12 orang pengurus perpustakaan yang masih muda, berbagai inovasi dapat diwujudkan. 

Terdapat 12 orang pengurus perpustakaan. Sebanyak 8 orang merupakan sarjana dan 4 orang lulusan SMA. Mereka adalah anak-anak muda yang dipercaya mengembangkan perpustakaan. Bahkan, beberapa pengurus perpustakaan merupakan kepala urusan (Kaur) hingga staf kantor desa yang berusia muda. 

Banyak hal yang sudah dilakukan perpustakaan sehingga terpilih menjadi perpustakaan terbaik tingkat nasional. Diantaranya pelatihan komputer 1000 peserta. Kemudian mengupayakan koleksi buku memadai, disiapkan Berugak baca, ada areal anak dan lain sebagainya. “Untuk pelatihan komputer itu sudah 323 peserta dengan 23 tamatan. Sistem peminjaman buku juga kita tidak hanya manual, tapi juga komputerisasi,” papar Irawadi. 

Untuk mendekatkan masyarakat dengan buku, pengelola perpustakaan bahkan keliling desa. Kegiatan posyandu dimanfaatkan untuk membiasakan masyarakat membaca. Bahkan lomba mewarnai juga diselenggarakan. Tujuannya hanya satu, mendekatkan masyarakat dengan buku dan memakmurkan perpustakaan. 

Rasa bangga diutarakan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi (DPKP) Provinsi NTB, Manggaukang Raba. “Kita sudah lama tidak pernah dapat jadi juara. Alhamdulillah sekarang, begitu masuk langsung juara. Makanya luar biasa perpustakaan Rempung itu,” ucapnya. 

Keunggulan utama perpustakaan desa Rempung, kata Manggaukang, karena berbasis inklusi sosial. Artinya, orang yang datang tidak hanya membaca buku saja. Namun juga melakukan praktik dari hasil bacaan. 

Melalui perpustakaan, dilakukan berbagai jenis pembinaan kepada masyarakat. “Perpustakaan desa Rempung, sudah berbasis inklusi sosial. Itu jadi keunggulannya. Orang datang ke perpustakaan tidak hanya membaca, tapi juga hasil membaca ada praktik. melakukan pembinaan komputer, kerajinan, industri, kelompok wanita tani, dan lain-lain. Itu yang jadi unggulan. Saya sudah dua kali datang kesana. Memang luar biasa perpustakaannya,” kata Manggaukang.(*)