Pentingnya Membentuk Akhlakul Karimah Anak dalam Kehidupan Sehari-hari

Ayu Zahratul Anisa, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Mataram

Oleh Ayu Zahratul Anisa, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Mataram

Berbicara mengenai akhlak, sudah jelas di dalam hadis Nabi yang mengatakan “Bahwa aku mengutusmu wahai Muhammad untuk menyempurnakan akhlak manusia,” Dengan sebab kita mempunyai akhlak yang baik, kita akan mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Ketika seseorang mempunyai akhlak yang baik, orang itu akan mendapatkan rida dari Tuhannya. Selain itu orang yang mempunyai akhlak baik, ia kan dicintai oleh keluarganya bahkan dicintai oleh semua manusia yang ada di sekitarnya.

Anak yang memiliki akhlak al-karimah tidaklah terwujud secara tiba-tiba, akan tetapi melalui tahap dan proses kehidupan dan pendidikan agama, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sosial.

Menurut Imam Ghazali, seorang anak dapat mencapai tingkat kepribadian yang luhur dan mulia, perlu menempuh beberapa tahapan, di antaranya: memiliki kesucian jiwa dari akhlak yang rendah dan watak tercela, menanamkan akidah ketauhidan dan menjaga kehormatan orang tua.

Jadi, anak didik itu dapat mencapai tingkat akhlak al-karimah yang mulia sesuai dengan bagaimana cara dia berbakti (ubudiyah), memiliki mental yang sehat, membiasakan diri dalam berbuat kebaikan di lingkungan keluarga dan berbudi pekerti.

Anak adalah sebuah titipan terindah dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Karena itu, kita harus menjaganya dengan sebaik mungkin dan jelas bahwa di sini orang tua memilki peran yang sangat besar dan sangat penting.

Rasulullah SAW juga bersabda “Mengajarkan adab pada anak itu sungguh lebih baik bagi seseorang daripada bersedekah satu sha’ (makanan),” (HR Tirmidzi).

Maka dari itu, membentuk akhlak seorang anak sangatlah dianjurkan sesuai dengan syariat agama. Berikut adalah cara-cara terbaik bagaimana kita membentuk dan memperkuat fitrah dan adab seorang anak:

Pertama, kita bisa memberikan teladan yang baik dari orang tua. Sebab, orang tua akan menjadi contoh utama yang akan anak-anak temui setiap hari. Setelah itu, barulah guru dan teman sepermainan yang akan menjadi contoh lainnya. “Setiap anak terlahir sesuai fitrah, kemudian orang tuanya membuatnya menjadi orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi,” demikian disebutkan Suyuthi dalam Al-Jami’ash Shaghir.

Kedua, mengajak anak mumayyiz beraktivitas bersama orang tuanya. Mumayyiz menurut Imam Syafi’i adalah seorang anak yang usianya telah mencapai tujuh tahun dan bisa membedakan baik buruk dalam dirinya. Pada masa ini, seorang anak sudah bukan anak kecil. Artinya, mengajaknya beraktivitas bersama orang tua akan membantu memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang diketahuinya. Di sinilah perasaan dan tanggung jawab diuji dalam dirinya.

Ketiga, memberikan penilaian terhadap apa yang akan dilakukan. Tujuannya adalah untuk menyadarkan anak mengenai perasaan. Misalnya, jika dia bertengkar dengan saudaranya, orang tua wajib memberi tahu bahwa hal tersebut merupakan tindakan keliru.

Dari sanalah anak bisa memahami mana yang baik dan mana yang buruk untuk dia lakukan. Demikian pula ketika mereka melakukan sesuatu yang baik dan positif, orang tua bisa memberikannya penghargaan dan pujian agar mereka bangga terhadap dirinya ketika melakukan kebaikan.

Keempat, tanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah keluarga. Seperti yang kita pahami, keluarga merupakan fondasi nomor satu untuk membentuk akhlak. Oleh sebab itu, orang tua harus memberikan pemahaman kepada sang anak untuk berlaku jujur, amanat, santun dan bertanggung jawab.

Dalam hal ini orang tua bisa memberikan teladan yang baik untuk anak-anak mereka. Selain itu, arahkan mereka untuk membaca kisah-kisah teladan tentang Nabi dan Rasul, supaya anak-anak bisa memetik pelajaran dari buku-buku yang dibacanya.

Perlu kita ketahui bahwasanya manusia itu tidak memandang manusia yang lain dari segi kecantikan, kegagahan, bajunya, HP-nya bahkan tidak melihat dari banyaknya uang yang dimiliki. Akan tetapi manusia melihat manusia lain dari akhlak dan adab mereka.

Saking penting yang namanya akhlak, saya teringat dengan sebuah kalimat yang pernah disampaikan oleh guru saya. “Orang yang berilmu belum tentu mempunyai akhlak yang baik, akan tetapi orang yang sudah mempunyai akhlak baik sudah pasti mempunyai ilmu,” demikian disampaikan guru saya.

Teringat juga dengan sebuah ungkapan penyair yang mengatakan “Seorang pemuda tidak akan bermanfaat walaupun dia mempunyai wajah yang sangat tampan, uang yang sangat banyak, baju baru dan lain sebagainya. Itu semua tidak ada artinya bagi seorang pemuda yang apabila seorang pemuda itu tidak mempunyai akhlak yang baik,”

Untuk mengakhiri artikel ini, saya berharap kita bisa mengambil banyak pelajaran dan semoga kita bisa mendidik dan membentuk adab serta akhlak anak-anak kita sesuai syariat agama. Semoga kita semua bisa menerapkan bagaimana akhlak terpuji yang sudah dicontohkan oleh para Nabi dan Ulama dan semoga kita selalu bisa meneladani akhlak Nabi dan para Rasul, sehingga kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. (**)