Melihat Peluang Bisnis Maggot Hasil Budidaya Arifudin

PERLIHATKAN: Arifudin Nurrahmatullah menunjukkan produk dari pengembangan maggot yang dikembangkan menjadi pakan ternak. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

Maggot adalah baby larva lalat atau black soldier fly yang mampu menguraikan sampah organik dengan cepat dalam jumlah besar. Pengembangbiakannya mampu mengurangi sampah, terutama di NTB. Bahkan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.


MELIHAT kondisi terjadinya penumpukan sampah di NTB menjadi persoalan saat ini. Meskipun telah dilakukan dengan mengolahnya agar dapat mengurangi, namum masih belum bisa. Lantaran kondisi tersebut, Arifudin Nurrahmatullah, alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang ini mengusung konsep pengembangan maggot skala rumah tangga sebagai langkah mengurangi sampah. “Maggot ini memang serapan sampahnya banyak dan ini sangat efektif membantu menanggulangi sampah. Makanya dari situ saya insiatif mengusung konsep budidaya maggot di rumah tangga,” kata Arifudin Nurrahmatullah kepada Radar Lombok saat ditemui kandang belatungnya di Dusun Bangket Dalem Desa Kediri Selatan Kecamatan Kediri Lombok Barat, kemarin.

Konsep yang usung olehnya memang tidak banyak dilakukan. Padahal tidak hanya sebatas pada pengurangi sampah saja. Tetapi dapat membantu perekonomian masyarakat yang berpenghasilan rendah, terutama pada petani. Hal tersebut menjadi motivasi untuk bisa mengembangkan konsep maggot tersebut ditengah masyarakat. “Kebetulan basis saya kuliah merupakan pertanian. Jadi saya itu bergelut bersama petani-petani yang penghasilannya di bawah. Itu yang menjadi motivasi saya. Jadi dengan ada konsep ini bisa saya terapkan, konsepnya ternyata bagus dan terus kita kembangkan,” paparnya.

Ia bercerita, untuk bisa menerapkan kepada masyarakat konsep pengembang maggot ini memang tidaklah mudah. Ada tantangan harus dilewati, terlebih pada kepercayaan masyarakat bahwa maggot dapat memberikan keuntungan. Mulai dari mensosialisasi melalui media sosial hingga turun langsung ke masyarakat. “Setelah saya coba untuk memberikan buktinya dengan video saya upload di facebook, akhirnya banyak yang tertarik. Ke depannya ini sangat bagus apalagi dijadikan sebagai ikon bisnis di samping kita menangani peluang sampah di situ ada peluang bisnisnya,” tuturnya.

Dengan begitu masyarakat juga akan mendapatkan hasilnya. Apalagi jika diterapkan di seluruh masyarakat NTB akan lebih bagus lagi. Karena peluang bisnisnya cukup menjanjikan dengan banyaknya target pemsarannya. Yakni sebagai pakan ternak untuk ayam, bebek, ikan dan burung. Di mana keempat pangsa pasar tersebut berbeda, produknya pun berbeda. “Produk dihasilkan oleh maggot ini yang ada telurnya, itu bisa dijual. Kemudian baby magotnya bisa dijual. Baby maggotnya bisa kita jual untuk makan burung sama ikan-ikan kecil. Maggot desawa itu ada dua produk, kering dan hidup. Estimasi untuk maggot kering itu menengah ke atas,” ujar pemuda 23 tahun ini.

Dikatakan, konsepnya yang diusungnya ini baru berjalan selama dua tahun lebih. Tidak hanya menerapkan di NTB saja, tetapi ia juga menerapkan kepada masyarakat di Malang Jawa Timur selama satu tahun. Kemudian di tempat tinggalnya Lombok Barat sudah satu tahun dan kini sedang bekerja sama dengan LAZ Dasi NTB untuk mengembangkan maggot. “Bersama dengan LAZ dasi baru lima bulan. Kita didukung program pemberdayaan, disiapakn operasioanal dan lainnya. Kemudian kita aksi di masyarakat dengan mengajak pelatihan. Di situ kita suplai bibit maggot kepada para masyarakat untuk dikembangkan dengan memberi makan pada sampah rumah tangga mereka dan nanti hasilnya dijual ke kita,” jelasnya.

Meskipun kebanyakan kasusnya ketika masyarakat sudah berbudiya, mereka enggan menjual ke tempatnya. Karena meraka masih mengenal dan hasilnya maggot yang diberikan itu mayoritas langsung dijual ke peternaknya. Namun tidak dipersoalakan hal tersebut. “Pengenalannya baru pertama dan sekarang peluangnya besar mau kita kembangkan di masyarakat juga bisa. Sekarang ini sudah ada peternak yang meminta kami menyuplai Rp 500 kilo maggot untuk pakan ternak bebeknya,” katanya.
Sementara itu, di tanah seluas 50 are tersebut terdapat 104 kotak yang nantinya akan menjadi lokasi pertumbuhan baby maggot. Dari sini, ada lima potensi produk yang bisa dijual-belikan. Mulai dari maggot segar, maggot kering, tepung maggot, telur dari lalat, serta pupuk organik.

Dijelaskan Arif, maggot segar dijual seharga Rp 6-7 ribu per kilogram. Maggot kering atau yang sudah mati dihargai Rp 20 ribu ukuran 100 gram dan Rp 30 ribu untuk 200 gram. Potongan harga masing-masing Rp 2 ribu untuk reseller. Telurnya bahkan lebih mahal Rp 6-10 ribu per gram.

Satu biji telur bisa menghasilkan 3-5 kilogram maggot segar. Ketiga produk menyasar para peternak ikan hias dan unggas. Sedangkan tepung maggot menyasar produsen pakan ternak sebagai campuran kandungan pakannya.

Arufudin biasa menghasilkan 20 kilogram maggot segar per hari. Penghasilan berkisar Rp 3,6 juta per bulan. Belum ditambah penjualan ketiga produk lainnya. Untuk mengejar penjualan skala industri, diperlukan bantuan masyarakat. Sehingga dilakukan penyebaran kelompok pembudidaya di sejumlah kecamatan untuk mengenalkannya secara masif. ‘’Seperti di Narmada, Bertais, Lingsar, Banyu Urip, dan Monjok. Nanti pasti banyak yang minat jika sudah lihat sendiri hasilnya,” katanya. (devi handayani)