Jadi Korban Ekploitasi, Mengadu ke DPRD

EKSPLOITASI : Inilah gadis-gadis asal Lombok Tengah yang menjadi korban eksploitasi di kota Mataram (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Belasan perempuan muda mengadu ke anggota DPRD NTB, Senin kemarin (20/3).

Mereka mengaku menjadi korban eksploitasi di tempat kerjanya. Diceritakan Nurbi Susanti, dirinya bekerja di wilayah Rembiga di depot penjualan minuman. Pekerjaannya melayani orang atau pelanggan yang ingin menikmati jus. “Awalnya teman saya yang tawarin kerja, masuk kerja mulai November 2016. Tapi teman itu tiak kerja lagi, dia sudah menikah,” tuturnya.

Sejak mulai bekerja sampai bulan ini, dirinya mengaku tidak diberikan gaji yang menjadi haknya.  “Saya kerja dari Novemebr 2016 sampai Maret, malah gaji gak mau dikasi,” ungkap perempuan kelahiran 27 April 1996 ini.

Saat bekerja, ia juga mengaku diperlakukan dengan tidak seharusnya. Bukan hanya tidak digaji, tetapi tempat tidur pun sangat tidak layak. Sedangkan pengelola tidak mengizinkan dirinya pulang ke Lombok Tengah.

[postingan number=3 tag=”mataram”]

Gadis yang masih tidak tahu apa-apa ini kerap menerima perlakuan kejam juga. Hal yang lebih membuatnya selalu menangis, pengelola meminta dirinya merayu pelanggan-pelanggan. “Kami disana kerja bertiga, tidur di tempat kerja, gak digaji juga. Malah disuruh rayu-rayu pelanggan agar omset naik,” bebernya.

Eksploitasi tidak berhenti sampai disitu. Seringkali, untuk melaksanakan salat saja, Susanti harus mendapatkan omelan dan cemoohan. “Masa saya pakai mukenah selesai salat dianggap gawah (kampungan – red), bagaimana saya tidak menangis. Terus pernah ibu saya sakit keras, saya minta izin pulang tapi tidak dikasi,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Syawaludin yang mendampingi belasan perempuan ini  mengaku sangat marah atas apa yang terjadi selama ini. Keluarga korban di Lombok Tengah juga tidak bisa menerima anak-anaknya diperlakukan seenaknya.

Syawaludin sendiri mengetahui masalah ini, berawal dari salah seorang korban yang dilaporkan ke Polsek dengan tuduhan mencuri. “Ini sangat kejam, keterlaluan. Ada 12 orang korbannya, tempat usahanya juga beda-beda,” terangnya.

Disampaikan, 12 korban ini bekerja di  depot penjualan minuman dengan satu orang pemiliknya. 

Ada  4 outlet dengan nama berbeda-beda. Lokasi berada di Pagesangan, Cemare dan 2 outlet di Rembiga Kota Mataram.

Masalah ini awalnya dilaporkan ke Polres Mataram, namun diarahkan ke Disnakertrans. Syawaludin mendatangi DPRD NTB untuk meminta bantuan. “Korban yang datang hari ini 10 orang, 1 orang ada di Loteng dan 1 orang hilang sampai sekarang. Mereka cewek-cewek semua usia 17 sampai 22 tahun. Ijazah mereka juga ditahan, ada ijazah tamat SMP dan SMA,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD NTB, H MNS Kasdiono bersama sekretaris komisi, M Hadi Sulthon yang menerima kedatangan para korban tersebut sangat terkejut mendengar semuanya. Apalagi masalah seperti ini baru terdengar bagi komisi V. “Kami pastikan ini segera tuntas, keterlaluan memang,” tegasnya.

Kasdiono langsung menghubungi pihak Disnakertrans NTB untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Dalam pembicaraan via telepon, Disnakertrans juga berkomitmen agar masalah ini diselidiki dan diselesaikan secepatnya.

Ketika Radar Lombok mencoba melakukan konfirmasi dengan owner maupun pengelola usaha tersebut, sampai berita ini diturunkan, belum mendapat tanggapan. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid