Hafiz Juara Provinsi tak Dapat Hadiah Memadai

H.-Syafrudin. SPd
H. Syafrudin SPd.( Lal/RADAR LOMBOK)

SELONG– Lomba tahfiz Alquran oleh Kemenag disorot lantaran pemenangnya tidak diberikan hadiah yang memadai. Padahal untuk lomba lain Kemenag baik kabupaten maupun provinsi justru mengeluarkan dana yang besar. Hal ini mendapat perhatian dari Kepala Dikbud Kecamatan Terara.“Bagaimana bisa Kemenag sebagai panitia seleksi dan lomba baik kabupaten maupun provinsi tidak memiliki anggaran dalam
pelaksanaan kegiatan lomba tahfiz Alquran, ini sangat kita sayangkan,” kata Kepala Dikbud Kecamatan Terara Lombok Timur, H. Syafrudin SPd.
Lantas ia membandingkan dengan berbagai kegiatan lomba lainnya seperti
bidang seni budaya, olimpiade, olahraga dan lain-lain yang anggarannya mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. “Kemenag itu banyak duitnya banyak proyeknya, masak menganggarkan hanya satu dua juta untuk anak penghafal firman Allah tidak bisa, ini sangat memprihatinkan sekali kalau begini,” imbuhnya.
Program tahfiz dikatakan satu-satunya program yang mampu menjawab permasalahan akhlak generasi muda. Sehingga selayaknya program ini lebih diperhatikan dandiprioritaskan. “Masak lomba Gendang Beleq yang lebih diperhatikan dengan hadiah melimpah sementara anak yang mampu menghafal firman Allah tidak diperhatikan pemerintah, saya rasa ini harus segera diubah,” tegasnya.

Mengaku mendapat pengakuan dari guru pembimbing dan kepala sekolah jika siswa yang lolos seleksi kabupaten dan mewakili Lotim dan bahkan mewakili NTB di tingkat nasional hanya mendapatkan hadiah empat buah buku, satu Alquran, piala dan piagam serta tidak ada uang pembinaan.
Parahnya lagi, di tingkat kabupaten, justru sama sekali tidak memberikan apapun sebagai hadiah atau penghargaan, meski itu secarik kertas.
Hal inilah yang membuatnya prihatian sehingga kemudian memanggil K3S Kecamatan Terara untuk berembuk dan menangani permasalahan ini segera. Atas hasil rembuk tersebut kemudian disepakati untuk memberikan bantuan kepada sang juara berupa uang pembinaan sebesar Rp 5 juta.
“Kita tidak melihat besar kecilnya, namun yang terpenting adalah hal tersebut dapat dijadikan sebagai support dan motivasi bagi anak-anak kita dan para guru serta orang tua yang bersemangat membimbing dan membina anak-anak,” terangnya,
Sementara itu Ketua panitia MHQ tingkat provinsi, Hj. Ika Mursilawati saat dimintai konfirmasi melalui kontaknya mengaku tidak ada dana dalam pelaksanaan kegiatan ini.  “Sebenarnya kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada dana sehingga kalau mau dibawa ketingkat nasional tadinya kalau hanya dicopot kita kurang yakin,” katanya
menjelaskan. Alasannya karena jika meminta pada masing-masing kebupaten/kota tidak ada jaminan kualitas lantaran sistem penunjukan.
Sementara itu beberapa pihak juga sangat menyayangkan pihak panitia dan Kemenag, dimana mestinya program tahfiz yang merupakan program kebanggaan justru tidak memperhatikan hal ini. Tak heran jika banyak pihak memudian mengecam pihak Kemenag dan bahkan pemerintah daerah yang sama sekali tidak memberikan perhatian atas
program tahfiz ini.(lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid