Hafal 30 Juz,Naswan Hadi Termotivasi Perkataan Ayahnya

Naswan Hadi Hafal 30 Juz
JADI GURU: Naswan Hadi saat memberikan pembelajaran Fitrah Islamic World Academy di Bogor. (Naswan for Radar Lombok)

Naswan Hadi tidak pernah menyangka dirinya bisa menjadi salah satu  pengajar di Fitrah Islamic Word Academy(FIWA). Sebab perjuangannya  untuk menjadi seorang  hafidz pada awalnya cukup berat.


ZULFAHMI—MATARAM


Naswan Hadi, lelaki kelahiran Trengan   Kecamatan  Pemenang Lombok Utara tahun 1992 ini menjadi kebanggaan dari orangtuanya. Sebab sejak awal  kedua orangtuanya sudah menghendaki Naswan agar bisa menjadi orang yang berilmu dan bisa menjadi seorang hafidz bahkan  kalau bisa langsung bisa menjadi seorang ahli tafsir Alquran.

Keinginan orangtuanya itulah yang menjadi motivasi besar dari Naswan untuk menjadi seorang hafidz. Apalagi  dengan  menjadi seorang hafidz akan mendapatkan kemulian disisi Allah SWT dan manusia.“ Nak kita orang  yang gak punya apa apa di dunia ini (miskin ) tapi kita akan menjadi orang yang kaya apabila kamu jadi penghafal Alquran,” kata Naswan mengulang perkataan yang sering disampaikan ayahnya. Perkataan itu, masih diingat sampai sekarang.

[postingan number=5 tag=”hafidz”]

Ayahnya tidak hanya berharap Naswan  bisa menjadi seorang hafidz, tetapi  kalau bisa dirinya bisa menjadi ahli tafsir Alquran baik dalam bahasa Indonesia  maupun dalam bahasa Arab dan  Inggris. “ Bapak saya juga berharap saya  juga bisa menafsirkan,” imbuhnya.

Naswan lalu  mulai belajar  menghafal Alquran  saat masih duduk  di bangku  MTs di Lombok Utara. Saat itu, dia masih duduk di kelas IX. Naswan awalnya belajar pada seorang guru ngaji di kampungnya.

Motivasi Naswan untuk menjadi hafidz semakin besar. Lulus dari MTs, dia lalu melanjutkan pendidikannya ke Majelis Qur’an dan Hadist di Pondok Pesantren (Ponpes) Al –Aziziyah Kapek Gunung Sari, Lombok Barat tahun 2010.  Selama berada di ponpes ini ia  secara serius menghafal Alquran.  Setelah tiga tahun, Naswan akhirnya bisa menghafal 30 juz Alquran.

BACA JUGA :  Terapkan Tiga Metode, Target Khatam Tidak Ditentukan

” Saya  butuh 3 tahun untuk lebih untuk bisa menghafal 30 juz,” ujarnya.

Bagi Naswan menghafal Alquran dianggapnya tidaklah terlalu sulit. Rintangan yang paling berat yakni biaya masuk dan biaya hidup selama menempuh  pendidikan di Ponpes Al Aziziyah yang dijalani selama 6 tahun. Maklum, Nazwan dari keluarga tidak mampu. ” Menghafal itu tidak berat yang berat itu biaya pendidikan selama di pesantren,”  ujarnya.

Selain biaya, yang paling berat ketika sudah menghafal yakni mempertahankan hafalan yang sudah dihafal. Baginya seorang hafidz mempertahankan hafalan ayat-ayat Alquran itu jauh lebih berat dari pada menghafal dari awal. Untuk mempertahankan hafalan yang selama ini sudah dikuasai, Naswan rutin melakukan ” muroja’ah.” Agar hafalan tidak hilang. Selain itu tentunya setelah menghafal tidak hanya dihafal tetapi bagaimana setiap ayat yang dihafal bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,”  ujarnya.

Selain menjadi seorang hafidz, ia juga terus meningkatkan pengetahuannya terhadap ilmu Alquran. Ia kemudian  meneruskan pendidikannya untuk  belajar ilmu tafsir Alquran. Tahun 2013, Naswan memutuskan melanjutkan pendidikannya  ke Ponpes Al Halimi Sesela  yang dipimpin  TGH Munajib Khalid.  Bersamaan,  Naswan juga sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.” Alhamdulillah   sekarang tidak hanya menjadi penghafal tetapi juga bisa menafsirkan Alquran,” tegasnya.

Dalam perjalanannya,  Naswan terpilih menjadi   tenaga pengajar di FIWA (Fitrah Islamic World Academy) di Bogor.

Prestasinya bisa masuk ke program ini setelah ia mengikuti sleksi penerimaan tenaga pendidik di FIWA yang pendaftarannya dilakukan secara online. “Aktivitas saya mengajar ini baru beberapa bulan saja setelah lulus kuliah awal tahun 2017 lalu,” tuturnya.(*)