BI Gelar Bedah Buku Maqashid Bisnis dan Keuangan Syariah

MATARAM—Menyambut pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-XXVI, dimana Provinsi NTB sebagai tuan rumah yang dilaksanakan dari tanggal 29 Juli – 7 Agustus 2016, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB menggelar bedah buku keuangan syariah, Selasa kemarin (26/7).

Buku karya Ir Adiwarman Azwar Karim, dan Dr Oni Sahroni berjudul “Maqashid Bisnis dan Keuangan Syariah” itu dihadiri langsung Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi, Kepala Perwakilan BI NTB, Prijono, dan sekitar 300 orang tamu undangan yang berasal dari pengasuh pondok pesantren dan unsur perbankan, serta masyarakat umum.

Prijono mengatakan, buku yang dipilih BI NTB untuk bedah dan menjadi fokus utama berjudul Maqhasid Bisnis dan Keuangan Islam karya Adiwarman Azwar Karim, dan Dr Oni Sharoni memberikan gambaran tentang landasan filosofis dari pelaksanaan praktik bsinis keuangan ditinjau dari kacamata Islam.

Dari sudut pandang umum, pelaksanaan praktik bisnis dan keuangan akan mengarah kepada pembentukan sebuah sistem ekonomi. “BI NTB berharap pembahasan mengenai landasan bisnis dan keuangan dari sudut pandang syariah akan menjadi awal terbentuknya sistem ekonomi syariah di NTB,” harap Prijono, Selasa kemarin (26/7).

Penulis buku, Adiwarman Azwar Karim dikenal sebagai ikon dan praktisi yang tidak asing lagi, dan telah lama berperan di dunia ekonomi syariah. Pernah menjadi salah satu jajaran manajemen di Bank Muamalat Indonesia, dan pernah menjadi wakil ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional di Majelis Ulama Indonesia.

BACA JUGA :  NTB Diyakini Jadi Pusat Ekonomi Syariah

Sementara itu, hadir sebagai moderator adalah Ali Sakti, salah satu aktivis ekonomi syariah dari Bank Indonesia. Sementara untuk panelis adalah Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, IAIN Mataram, Dr H. Musyawar, Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Mataram, Zaidi Abdad, dan TGH Mustamiudin selaku Ketua Bidang Fatwa MUI NTB.

Prijono menambahkan, ekonomi syariah di Provinsi NTB saat ini berpotensi untuk berkembang. Namun ada beberapa faktor yang menjadi kendala, dan perlu diperhitungkan, serta diantisipasi untuk meningkatkan pertumbuhan tersebut.

Faktor utama yang menjadi kendala dalam pengembangan penerapan ekonomi syariah adalah pemahaman masyarakat mengenai konsep ekonomi dan perbankan syariah yang belum komprehensif. “Pemahaman tentu tidak bisa dibangun dalam satu malam saja, tetapi melalui sebuah proses yang lama, dan diperlukan pioner-pioner yang memahami suatu konsep secara menyeluruh,” pungkas Prijono. (luk)