23.549 Pendaki Gunung Rinjani Masuk Daftar Hitam TNGR

Budi Soesmardi (RATNA/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mencatat ada sekitar 23.549 pendaki Gunung Rinjani yang masuk dalam blacklist atau daftar hitam sepanjang tahun 2023. Jumlah ini meningkat sebanyak 11.915 orang, dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya 11.634 pendaki.

Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGR, Budi Soesmardi mengatakan penyebab para pendaki ini di blacklis oleh pihak TNGR, pertama karena tidak menaati SOP pendakian yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Salah satunya karena overtime atau melebihi waktu saat melakukan pendakian sebanyak 23.531 pendaki. Kedua karena pendaki tidak membawa turun sampah usai mendaki sebanyak 18 orang. “Yang tidak membuang sampah ada 18 orang dan yang sisanya (23.531 pemdaki,red) tidak chek out,” ungkap Budi, saat ditemui di Mataram, Rabu (17/6).

Dari puluhan ribu pendaki yang masuk daftar hitam TNGR, sebagian besar didominasi oleh wisatawan mancanegara. Tercatat sebanyak 83,77 persen atau sekitar 19.726 adalah warga negara asing (WNA). Sedangkan 16,23 persen atau 3.823 orang adalah pendaki domestik dan warga lokal. Konsekuensi pendaki yang ter-blacklist ini adalah tidak bisa mendaki di TNGR selama 2 tahun.

Namun Budi menjelaskan ada sedikit keringanan bagi para pendaki yang sudah masuk daftar blacklist TNGR, tapi ingin melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Mereka hendaknya mendatangi ke Balai TNGR untuk mengkonfirmasi syarat pembukaan blacklist.

Baca Juga :  Ditaksir Rugikan Negara Rp 29,9 Miliar, Kejati Kantongi 2 Calon Tersangka KUR Fiktif

“Iya dua tahun diblacklistnya, tapi itu bisa dibuka mana kala sudah konfirmasi, dan dimintai keterangan dulu sama satgas penindakan dan pelanggaran pendakian alasanya kenapa tidak chek out. Apakah karena sakit, cedera atau sengaja. Baru nanti dianalisa baru dibuka blacklistnya,” jelas Budi.

Adapun terkait pendaki ilegal, ada beberapa konsekuensi lain yang diterima jika terbukti, yakni tidak tercover asuransi bila terjadi kecelakaan serta tidak terlacak bila terjadi lost contact.

Budi mengungakapkan per 1 April 2024 enam jalur pendakian di pendakian Gunung Rinjani telah resmi dibuka. Total kuota yang disiapkan sebanyak 700 pengunjung per hari. Rinciannya jalur Jebak Gawah Senaru-Pelawangan Senaru-Danau Segara Anak-Jalur Pendakian Senaru/Torean dengan kuota maksimal 150 pengunjung per hari.

Kedua jalur pintu masuk jalur pendakian Sembalun-Pelawangan, Sembalun-Puncak Gunung Rinjani/Danau Segara Anak-jalur pendakian Sembalun/Torean/Senaru dengan kuota maksimal 150 pengunjung per hari.

Selanjutnya pintu masuk jalur pendakian Torean-Pelawangan Puncak Gunung Rinjani/Danau Segara Anak-Jalur Pendakian Torean/Senaru dengan kuota maksimal 100 pengunjung per hari.

Berikutnya jalur pendakian Jebak Gawah Aik Berik – Pelawangan Aik Berik dengan kuota maksimal 100 orang pengunjung per hari. Jalur pendakian Timbanuh – Pelawangan Timbanuh dengan kuota maksimal 100 orang pengunjung per hari.  Terakhir jalur pendakian Tete Batu – Pelawangan Tete Batu dengan kuota maksimal 100 orang pengunjung per hari.

Baca Juga :  Kasus Baru Positif Covid-19 Melonjak, Sehari 119 Kasus

Lebih detail disebutkan Budi, jumlah pengunjung yang melakukan pendakian Gunung Rinjani lewat sembalun sebanyak 1.510 pendaki lokal dan 2.234 WNA. Sedangkan pendakian jalur Senaru sebanyak 28 orang warga lokal dan 116 WNA, lewat jalur Torean dan Timbanuh masing-masing sekitar 253 dan 59 warga lokal.

Sementara untuk jalur Tetebatu ada sebanyak 67 warga lokal dan 32 WNA. Kemudian jalur pemdakian Aikberik sekitar 51 orang warga lokal dan 5 orang WNA. “Jumlah pengunjung pendakian TNGR tanggal 1-16 April 2024 sebanyak 4.350 orang,” sebut Budi.

Sedangkan Kepala Balai TNGR Dedy Asriady menimpali, bahwa kuota pendakian yang diberikan tahun ini 100 persen untuk semua jalur pendakian. Sementara lama menginap yang diizinkan yaitu empat hari tiga malam. “Kuota pendakian kita sama saja tahun depan, tidak ada penambahan,” ucapnya.

Dedi memastikan keamanan pada pendakian di Gunung Rinjani semakin terjamin. Terbukti berdasarkan data yang ada, jumlah kecelakaan di Taman Nasional makin berkurang meski ada peningkatan jumlah pendakian.

“Semua kecelakaan dicover. Saya pikir evaluasinya semakin bagus. Saya berpesan nikmati gunungnya bawa turun sampahnya,” tutup Dedy. (rat)

Komentar Anda