Telur Paling Sering Sumbang Inflasi NTB

TELUR : Tampak sejumlah buruh menurunkan telur yang akan di sebar ke pasaran. (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Komoditas beras menjadi penyumbang terbesar inflasi Oktober 2023 berdasarkan data BPS NTB. Meski begitu, menurut data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB, komoditas yang sering menyumbang inflasi selama 2020-2023 adalah telur ayam ras.

Kepala Perwakilan BI NTB Berry A Harahap mengatakan, data tiga tahun terakhir menyatakan ada 15 komoditas penyumbang inflasi di NTB, urutan lima besarnya adalah telur ayam ras, disusul tomat, minyak goreng, daging ayam ras, dan bawang merah. Sedangkan untuk beras, berada di urutan keenam.

“Seperti yang kita lihat, sebenarnya bukan beras yang sering naik sebagai penyumbang inflasi, tetapi telur ayam ras,” ujarnya.

Telur ayam ras memiliki frekuensi yang lebih sering menyumbang inflasi, dengan bobot inflasi lebih kecil selama tiga tahun terakhir. Sedangkan untuk beras, frekuensinya tidak sering namun dengan bobot inflasi lebih besar.

Baca Juga :  Waspadai Tawaran Investasi Bodong Janjikan Keuntungan Tidak Realistis

“Beras ini tidak sering naik harganya, tapi dampaknya besar, kalau dia naik maka intlasi juga cakup besar naiknya,” sambungnya.

Menurut Berry, bobot beras di dalam nilai konsumsi rumah tangga cukup besar. Sebab beras merupakan makanan pokok masyarakat sehari-hari. Hal ini membuat tantangan masyarakat untuk membeli beras lebih besar dibandingkan komoditas lainnya. Namun melihat data tiga tahun terakhir, itu menunjukkan bahwa pengendalian inflasi di NTB tidak selalu soal beras. Pihak terkait harus memperhatikan komoditas telur ayam ras. Sebab meski sekarang harganya sedang turun, namun sering juga naik.

Baca Juga :  PLN Terus Dorong Pemanfaatan FABA PLTU

“Makanya ini harus dipantau terus telur, minyak goreng, tomat, bawang merah, dan daging ayam. Jadi lima besar inilah yang terus dipantau begitu sehingga inflasi itu bisa aman,” jelasnya.

Saat ini, BI NTB bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tengah memantau sejumlah komoditas yang harganya mulai tinggi. Seperti cabai rawit, cabai merah besar, bawang merah, dan lainnya. Untuk mengendalikan harga, pihaknya bekerjasama dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar dengan SPHP.

“Bulog menyedikan berasnya dan mengoper ke pasar untuk menjualnya dengan harga yang sudah ditetapkan sama pemerintah,” jelasnya. (rie)

Komentar Anda