Manisnya Budidaya Lebah Trigona Ala Samidi

BUDIDAYA: Samidi tengah mengecek lebah trigona yang ada di samping rumah makannya, Selasa (14/6). (Dery Harjan/Radar Lombok)

Budidaya lebah tringona cukup banyak digemari di wilayah Kabupaten Lombok Utara. Salah satunya Samidi, warga Dusun Kandang Kaok, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung.

DERY HARJAN-LOMBOK UTARA

SIANG itu, Samidi terlihat mondar-mandir melayani tamu yang berkunjung ke rumah makannya. Sesekali ia juga menyempatkan diri menengok lebah trigona di samping rumah makannya.

Ia tengah mengembangkan budidaya lebah trigona dan telah menjadi salah satu sumber penghasilan baginya.

Samidi menuturkan bahwa mulai budidaya lebah trigona sejak beberapa tahun lalu. “Saya tertarik melihat madu trigona di tempat teman di Sukadana. Akhirnya saya beli langsung di pemburunya dan saya budidaya. Itu kalau gak salah tahun 2016,” tuturnya.

BACA JUGA :  Berkat Budi Daya Rumput Laut, Mampu Biayai Anak Hingga Jadi Dokter

Saat itu ia coba sepuluh kotak. Lebah trigonanya ada tiga jenis. Yaitu pantat hitam, kuning dan pantat putih. Dari sepuluh kotak tersebut seiring berjalannya waktu jumlahnya terus bertambah. “Sempat kemarin ada 300 kotak tetapi banyak teman yang minta akhirnya saya kasih. Sekarang tinggal 150 kotak,” tuturnya.

Dari beberapa kotak itu Samidi mengaku panen 3 bulan sekali. Omzet yang didapat sekali panen pun cukup banyak. “Penghasilan pernah sampai 9 juta untuk 60 kotak,” ujarnya.

Samidi menuturkan bahwa budidaya lebah trigona ini sebetulnya bagi dia bukan semata untuk mendapatkan uang semata. Tetapi lebih kepada hobi dan juga kebutuhan dirinya bersama keluarga dan kerabat. “Kalau omzet tidak terlalu saya pikirkan,” tuturnya.

BACA JUGA :  Melihat Kerja Perajin Terompet di Lombok Barat Jelang Tahun Baru

Sekalipun tidak ada pembeli ia juga tidak rugi. Pasalnya budidaya lebah trigona ini tidak mengeluarkan biaya banyak. Tidak seperti hewan ternak lain, lebah trigona justru bisa dikembangbiakkan dengan cukup mudah dan cenderung murah.

Pasalnya, lebah trigona yang tidak menyengat itu hanya membutuhkan habitat yang tepat. Di antaranya lokasi pengembangbiakan yang jauh dari kebisingan, jauh dari area pembakaran sampah atau asap, hingga menyediakan bunga-bungaan untuk sumber makanannya. “Yang penting ada bunga-bunga,” tuturnya. (*)