Menyimak Suara Hati Anak-anak Korban Pernikahan Dini

Sangat Menyesal, Ingin Sekolah Lagi

Menyimak Suara Hati Anak-anak Korban Pernikahan Dini
TESTIMONI : Inaq Renah saat menyampaikan testimoni berupa penyesalannya menikahkan anaknya di usia muda. (Fahmy/Radar Lombok)

Tanggal 10 Desember lalu NTB mendeklarasikan “Stop Perkawinan Anak” yang dipelopori oleh Koalisi Perempuan Indonesia. Pada kesempatan ini anak-anak korban pernikahan dini menyampaikan pengelaman mereka menjadi korban.


ZULFAHMI-MATARAM


Sebagaimana data yang ada, NTB masuk urutan kelima angka perkawinan anak tertinggi setelah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Pada saat deklarasi stop pernikahan anak, para peremuan yang menikah di usia masih belasan tahun. Mereka sengaja didatangkan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) NTB untuk memberikan testimoni dan berbagi cerita kepada para remaja di daerah ini. Kegiatan berlangsung di Taman Budaya.

Dini asal Lombok Tengah bercerita menikah pada  usia 16 tahun. Saat ini ia bercerai dengan suaminya. Kasusnya diketahui oleh KPI. Ia pun mendapat pendampingan. Dini kini berani tampil dan tetap semangat menjalani  aktivitas sehari-hari meski berstatus ibu muda.” Saya sangat menyesal karena sudah menikah pada usia muda,” katanya di hadapan anak-anak NTB yang hadir.

BACA JUGA :  Desa Setanggor, Juara I Desa Inovasi Pengembangan Pariwisata di Lombok Tengah

Saat menikah ia berusia 16 tahun dan sedang menempuh pendidikan SMA. Ia berani menikah karena tergoda ajakan sang pacar. Ia mengakui setelah menikah bukannya bahagia yang didapat. Justru penyesalan yang ada. Karena setelah menikah dan  memiliki anak, justru suaminya meninggalkannya.

Masalah utama yang dihadapinya adalah masalah ekonomi. Suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap membuat kondisi keluarga tidak stabil sehingga membuat rumah tangganya tidak harmonis. “Jangan pernah menikah di usia muda karena kalian akan menyesal,” imbuhnya.

Setelah bercerai, untuk menghidupi diri dan anaknya, Dini bekerja sebagai pramuniaga. Anaknya ia titip di orangtuanya.

Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia akan memilih tetap sekolah dan tidak sudi menikah muda. Meski sekarang sudah bestatus seorang ibu, niat Dini untuk bersekolah masih tinggi. Ia berharap bisa mendapat ijazah sebagai bekal hidup.” Kami butuh ijazah bukan buku nikah,” katanya.

Ia berharap kepada pemerintah bisa memberikan ruang kepada para anak-anak yang saat ini sudah berstatus istri atau anak yang masih ingin sekolah untuk difasilitasi  dan bisa mendapatkan ijazah pendidikan yang lebih tinggi. “ Kami masih ingin sekolah  lagi, karena kami ingin mendapatkan ijazah bukan buku nikah,” ungkapnya lagi.

BACA JUGA :  Fathurahman, Angkat Batok Kelapa Lombok Tembus Pasar Eropa

Tidak hanya anak-anak para orang tua yang anaknya menikah muda juga dihadirkan. Inaq Renah menyampaikan bagaimana menyesalnya dirinya memberi izin anak perempuannya menikah pada usia muda. Setelah anaknya menikah bukan bahagia yang didapat. Sebaliknya justru menambah masalah baru. Anaknya melahirkan, tetapi diceraikan suaminya. Sekarang sang cucu di bawah pemeliharaannya.” Saya sangat menyesal sudah memberikan anak saya menikah diusia muda,” sebutnya.

Ia bepesan kepada anak-anak dan para orang tua  untuk menjaga anak-anak mereka. Jangan sampai tergoda atau termakan rayuan lelaki untuk menikah pada usia muda, apapun kondisi dan bagaimanapun keadaan keluarga.” Jaga anak-anak kita, agar tidak menikah di usia muda,” imbuhnya.(*)