Sempat Timbul Tenggelam, Kini Dilestarikan Bersama Wisata Desa

Kini Dilestarikan Bersama Wisata Desa
MEMAOS: Kegiatan sekolah budaya memaos di balai desa Dusun Kelanjuh Desa Barabali Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

BELAJAR MEMAOS BAHASA LONTAR DAN SERAT MENAK DI SEKOLAH BUDAYA BARABALI

Salah satu kekayaan potensi budaya di Kabupaten Lombok Tengah terselit di Dusun Kelanjuh Desa Barabali Kecamatan Batukliang. Budaya itu tak hanya hadir sekarang ini, namun sudah turun temurun dan menjadi warisan nenek moyang masyarakat setempat. Salah satunya memaos atau memace atau membaca lontar bertuliskan huruf hanacaraka.

 ‘’Jawangsitam cinarine mangkin… Handika Wong Agung  Jayangrane…  Amir Hamzah pare polak bangkil paseban… Ngadep Khalifah maring bumi Arab Negare… Cinarine mangkin Wong Menak Agung Jayangrane…’’

Sayup-sayup suara tembang pewayangan itu terdengar dari balik gubuk reyot itu. Sekumpulan lelaki tua dan paruh baya sedang melantunkan tembang itu dengan merdunya. Mereka beriringan saling sambut memaos dari sebuah dedaunan yang tampak lapuk.

Satu persatu dedaunan itu dipilah. Kemudian ditimbun lagi dalam satu tumpukan. Tiupan angin sepoi mendayu-dayu mengibaskan nyala lampu teplok minyak jarak. Penerang itu membuat mata penembangnya semakin jeli membaca kalimat demi kalimat. Di balik dinding gedek gubuk reyot itu, seorang bocah menyimak setiap alunan tembang itu.

Bocah bertelanjang dada itu seakan tak berani melihat ke arah lain. Telinganya seakan ditempelkan pada setiap alunan tembang yang keluar dari para tetua di kampung itu. Terus menerus, bocah itu melakukan hal serupa mendengarkan pepaosan para tetuanya. 

Tembang-tembang itu membuat sang bocah berkulit putih itu penasaran saban hari. Ia kemudian mulai memberanikan diri belajar lontar itu sendiri, memahaminya sendiri, hingga kemudian paham bacaanya, kalimatnya, dan artinya. Apa yang tak diketahuinya ia tanyakan kepada sang tetua kampung.

Dari sana, ia terus memaos dan menembang. Membawakan sejumlah kisah yang tersurat dalam lontar maupun serat menak. Suara bocah itu kini sudah berubah menjadi lebih parau namun masih merdu. Suaranya masih terdengar jelas di sela-sela giginya yang ompong.

Suara itu bahkan rutin didengar warga Dusun Kelanjuh Desa Barabali. Di sebuah balai desa setempat, warga bisa mendengar suara merdu itu dua kali dalam seminggu. Setiap malam Jumat dan Sabtu. ‘’Saya lebih banyak belajar secara otodidak. Saya baca-baca sendiri dan mencoba mamahami artinya sampai saya bisa,’’ ucap lelaki tua itu.

Iya, itulah awal perjalanan Mamiq Sadiadi membaca lontar dan serat menak. Kisah itu dialaminya sekitar tahun 1944. Tepatnya ketika Sadiadi kecil berumur 10 atau 11 tahun. Tahun itu tak persis diingatnya. Ia hanya mengingat, bahwa ia lahir tahun 1937.

Kemudian ia masuk sekolah rakyat (SR). Waktu itu ia baru menginjak kelas 5 SR. Mamiq Sadiadi kini dipercaya sebagai pembina para pemaos lontar dan serat menak di kampungnya. Bahkan, rutinitasnya itu dalam waktu akan disulap menjadi sebuah sekolah budaya. Semua itu tak terlepas atas inisiatif pemerintah desa setempat.

Sadiadi mengaku, memaos adalah warisan leluhur kampungnya. Para tetuanya dulu banyak yang bisa memaos. Terutama bahasa lontar dan serat menak. Bahasa ini menggunakan bahasa hanacaraka dengan empat jenis sastra. Yakni sastra kejawen atau sastra berbahasa jawa kuno. Kemudian sastra balingan atau sastra berbahasa Bali. Ketiga sastra Sasakan atau sastra berbahasa Sasak. Kemudian yang terakhir adalah sastra pedalangan atau sastra yang digunakan dalang saat pentas wayang. ‘’Sebenarnya ada juga sastra saje (jamak-jamak) atau sastra yang menggunakan bahasa biasa atau pasaran yang lazim digunakan masyarakat,’’ terang Sadiadi.

Menurut lelaki 82 tahun itu, bahasa lontar dan serat menak memang tak jauh beda. Namun, bahasa lontar lebih longgar dibandingkan bahasa serat menak. Basaha lontar mencakup bahasa Jawa Kuno, Bali, dan Sasak. Semuanya bercampur menjadi satu karena sejatinya bahasa asli ketiganya sangat mirip atau bahkan mirip sekali.

Cuma saja, yang sulit dimengerti adalah makna di balik kalimat bahasa itu. Karena bahasa lontar sejatinya menggunakan bahasa simbingan atau sindiran. ‘’Kalau bahasanya tidak terlalu sulit. Yang sulit itu maknanya,’’ ucapnya.

Seperti, sambung dia, bahasa lontar lebih banyak bercerita tentang kisah-kisah seperti Putri Cilinaya, Monyeh, Gagak Ngarem, Gagak Puteq, Anak Jawak, Indar Jaye, Jumarsah, dan sejumlah kisah terkenal lontar lainnya. Nyaris semua bahasa dalam kisah itu seperti tampak lurus-lurus saja. Namun tidak demikian pada maknanya. Terdapat makna pelajaran hidup yang sangat dalam yang terpatri dalam setiap kisah itu. ‘’Semisal anak jawak. Kalau diartinya secara harfiah itu artinya anak biawak. Namun sesungguhnya bermakna jagaq awak atau jaga diri,’’ terang Mamiq Sadiadi.

Begitu juga dengan serat menak. Kisahnya lebih kepada menuturkan kisah raja-raja zaman dahulu. Seperti Raja Medayin bernama Raja Nursiwan. Dilanjutkan dengan kisah anak-anaknya, Raden Urunus, Raden Semakun, Raden Irman, Ni Diah Munigarim, dan Ni Diah Marpinjun.

Kisah itu kemudian berlanjut kepada Raja Jayangrane yang  merupakan menantu dari Raja Medayin karena mengawini salah satu anaknya bernama Ni Diah Ayu Munigarim. ‘’Banyak sekali kisah hingga beberapa serat,’’ ujarnya sembari menjelaskan bahwa serat itu sendiri berarti cerita dan serat menak berarti cerita raja-raja.

Menurut dia, jika sastra ini tak dilestarikan, maka tak menutup kemungkinan akan punah. Mengingat, sedikit sekali orang tua yang bisa membaca lontar. Ditambah lagi dengan minimnya anak muda yang mau belajar bahasa lontar. ‘’Makanya kita rencananya mau lestarikan. Salah satunya dengan menghidupkan kembali budaya memaos ini. Kita mau ajarkan kepada generasi sekarang agar berkelanjutan,’’ tandasnya.

Kepala Desa Barabali, Lalu Junaidi Ali menambahkan, budaya memaos ini sempat timbul tenggelam. Dulunya, budaya ini sangat dilestarikan leluhurnya dengan rutin membacara membuat pagelaran namun sempat tenggelam. Dihidupkan kembali sekitar tahun 1990-an tapi sempat tenggelam lagi. ‘’Makanya sekarang kita mau hidupkan kembali,’’ katanya.

Junaidi mengaku, pemdes berencana menyatukan budaya dengan pariwisata. Artinya, wisata desa yang akan dikembangkan didesanya akan ‘menjual’ budaya, sejarah, keunikan, dan potensinya di desanya. Mengingat Desa Barabali tak hanya ditumbuhi potensi infrastruktur hari ini. Lebih dari itu, potensi budaya dan sejarah sudah mengakar di desa itu sejak zaman leluhurnya. ‘’Ini yang mau kita bangkitkan kembali di Desa Barabali. Dan kita juga sudah sepekat menerima murid dari luar yang mau belajar memaos,’’ timpalnya. (**)