Pernah Tidak Dikenali Mahasiswanya

BERTANI: Meskipun keseharian berprofesi sebagai guru dan dosen, namun disela waktu mengajar, Marjan tetap menekuni pekerjaan sebagai petani (MUHAMMAD HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Profesi sebagai seorang guru Biologi di MA Mu’alimat NW Pancor, dan Dosen di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Gunung Rinjani (UGR) Lombok Timur, tidak lantas membuat Jauhari Marjan, M.Pd, asal Dusun Proa, Desa Sakra, Kecamatan Sakra ini kemudian malu menjadi seorang petani.

 

 


MUHAMMAD HAERUDDIN – LOTIM


 

JAUHARI Marjan, yang menyelesaikan pasca sarjananya pada tahun 2013 lalu di Universitas Ghanesa Singaraja, Bali, sehari-hari bekerja sebagai salah seorang pendidik. Namun dengan pekerjaanya tersebut, tidak lantas membuat dia melupakan pekerjaan orang tuanya sebagai petani, yang telah membuat dia mampu mengenyam pendidikan hingga pasca sarjana diluar daerah.

Karena itu, ditengah kesibukannya bergelut dengan buku. Setiap hari setelah pulang dari sekolah dan kampus, Marjan tidak lantas beristirahat, melainkan dia pergi ke sawah untuk melihat tanaman cabe yang ditanamnya sendiri di lahan seluas sekitar 4 are. ”Saya setiap pulang ngajar, ya saya habiskan disawah,” ungkapnya ketika ditemui Radar Lombok di sawah dekat rumahnya.

Bahkan tak jarang ketika sedang berada di sawah, datang mahasiswanya untuk bimbingan skripsi, atau siswa yang mau belajar sama dia. Bahkan pernah juga mahasiswanya tidak mengenali dirinya. Karena sebagai seorang dosen yang sehari-hari datang ke kampus tentu memakai baju rapi dan sepatu pantopel. Namun kalau sudah di rumah, Marjan hanya menggunakan pakaian lusuh yang jauh dari profesinya sebagai Guru dan Dosen.

Marjan sendiri mengaku tidak pernah malu sandang status sebagai petani, bahkan dia merasa sangat bangga. Karena selain bisa mendapatkan penghasilan tambahan, sebagai dosen dia sekaligus juga dapat melakukan penelitian. Terlebih saat ini banyak para petani yang menggunakan pupuk kimia dalam bertani. “Sambil penelitian agar bisa mengajarkan petani menggunakan pupuk organik,” harapnya.

Laki-laki yang juga pernah aktip di PMII ketika masih menjadi Mahasiswa ini menambahkan, kendati hasil bertaninya tidak lebih dari gaji yang didapatkan setiap bulanya. Akan tetapi pekerjaan sampingan tersebut akan terus dilakukan.

Bahkan dari hasil bertani, setiap bulan dia bisa mendapatkan uang hingga Rp 2 juta. Selain itu, Marjan juga beternak, dimana kotoran ternaknya itulah yang kemudian dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman cabenya.

Marjan yang kini dikaruniai satu orang anak ini, selain bertani dia juga selalu memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang pola tanam menggunakan pupuk organik dari kotoran sapi. Karena selain bahan bakunya banyak, sekaligus juga bisa membersihkan lingkungan, dan tentu saja ekonomis. (*)