Wayang Sasak Media Merawat Keberagaman di Lombok

WAYANG-SASAK
WAYANG BOTOL: Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, Abdul Latif Apriaman (kanan) menunjukkan beberapa bentuk wayang botol sebagai sarana untuk mendidik anak-anak menyukai wayang Sasak. Tony/Radar Lombok

INDONESIA saat ini menghadapi ancaman di berbagai dimensi yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Salah satu ancaman krusial adalah penyebaran paham radikal. Derasnya arus informasi di dunia maya berdampak pada pesatnya penyebaran paham radikal di Indonesia karena selama ini banyak sekali informasi radikal dari dunia maya yang mudah diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak.

Hasil riset  yang dilakukan  Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi  menunjukkan, paham radikalisme sudah menyerap secara menyeramkan di sekolah. Dia menyebutkan, 21 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila sudah tidak lagi relevan digunakan bangsa karena 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru lebih setuju dengan penerapan syariat Islam. Selain itu 52,3 persen siswa setuju kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 persen membenarkan aksi pemboman yang dilakukan kalangan radikal.

Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Letkol Laut Setyo Pranowo, mengatakan bahwa radikalisme dan terorisme gaya baru mulai  merekrut anggotanya secara terbuka melalui media sosial, website dan social messenger. Cara ini digunakan dengan pertimbangan mudah diakses, audiens yang luas, kecepatan informasi, tidak ada control dan regulasi. Ini berbeda dengan terorisme gaya lama yang merekrut anggotanya secara tertutup dengan memanfaatkan keluarga, pertemanan, ketokohan dan lembaga keagamaan.

‘’Saya berharap semua pihak mewaspadai merebaknya paham radikalisme yang menjurus ke terorisme. Saat ini dinamika propaganda dan rekrutmen terorisme terus terjadi. Pencegahan harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk melibatkan kalangan generasi muda, masyarakat sampai lingkungan keluarga,’’ kata Setyo Pranowo di Mataram, Senin (2/9) lalu.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTB, Dr H Lalu  Syafi’i, MM meminta semua harus memikirkan dan mengambil langkah strategis dan solusi alternatif atas kebutuhan bangsa akan persatuan dan kesatuan serta karakter dan intelektualitas pemuda/pelajar untuk menjamin masa depan bangsa ini

‘’Perlu kita ingat bahwa penyebaran paham radikal (radikalisme-terorisme) tidak hanya melalui face to face. Akan tetapi juga melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram dan lain-lain. Oleh Karena itu semua tidak boleh lengah terhadap berkembangnya paham radikal yang ada dewasa ini. Radikalisme yang telah  mengancam keberagaman adat istiadat dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di negeri ini,’’ katanya.

Berbicara masalah kearifan lokal, toleransi dan keberagaman, pemerhati budaya Sasak, Drs H Lalu Anggawa Nuraksi mengatakan,  perjalanan dan sejarah peradaban suku Sasak di Lombok telah memiliki budaya dalam dunia seni di tengah kehidupan mereka. Menurutnya, seni akan menghasilkan  kehalusan perasaan yang dapat digunakan  sebagai sarana atau media membangun akhlak, etika dan moral bangsa menjadi bangsa yang berkarakter dan berjatidiri. Kearifan budaya lokal wajib hukumnya untuk dilestarikan. Generasi baru harus memahami nilai-nilai kearifan budaya lokal yang terkandung di dalamnya, karena mereka merupakan pewaris dari tradisi budaya Sasak

Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, Abdul Latif Apriaman mengapresiasi  pelestarian seni pertunjukkan rakyat  sebagai kearifan lokal di pulau Lombok. Salah satu seni pertunjukan yang digemari masyarakat Lombok hingga saat ini  yaitu wayang Sasak. Wayang menjadi salah satu sarana mengembangkan seni budaya  untuk membangun akhlak dan moral bangsa.

 Wayang memberikan gambaran lakon perikehidupan manusia dengan segala masalahnya yang menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitan. Dalam wayang selain tersimpan moral dan estetika, terdapat nilai-nilai pandangan hidup masyarakat setempat. Cerita dalam lakon wayang memberikan gambaran lakon peri kehidupan manusia dengan segala masalahnya yang menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitan.

Latif menceritakan bagaimana keberagaman telah dibangun di tengah masyarakat Lombok sejak zaman  dahulu dalam penyebaran agama Islam. Dalam perjalanan sejarahnya, beberapa dalang beragama Hindu memainkan lakon Serat Menak tanpa mengubah alur ceritanya. Pakem Serat Menak bertutur tentang penyebaran agama Islam di Lombok dengan tokoh protagonis Jayengrana atau Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Wayang sasak yang dimainkan dalang beragama Hindu ternyata bisa menyatukan keberagaman tanpa rasa syak wasangka

Di zaman Anak Agung Karang Asem Cakranegara,  ada dalang wayang Sasak legendaris di pulau Lombok dengan latar belakang agama yang berbeda. I Wayan Gowang beragama Hindu sementara Amaq Madim adalah seorang Muslim yang keduanya sering membawakan wayang Sasak. ‘’Wayan Gowang saat itu sering mementaskan wayang Sasak di pura Meru, sebuah pura terbesar di Lombok. Sedangkan Amaq Madim merupakan seorang dalang generasi pertama di Desa Bonjeruk, Lombok Tengah,’’ tuturnya

Antara Wayan Gowang dengan Amaq Madim terjalin persaudaran yang erat. Wayan Gowang adalah guru dari Amaq Madim. Persahabatan itu berlanjut dengan saling mengunjungi mereka di Cakranegara dan Lombok Tengah untuk  mementaskan  wayang Sasak. Kehadira Nengah Gowang penganut agama Hindu yang memainkan  wayang Sasak dengan pakem cerita Serat Menak  menjadi suatu unik.

 Dalam pagelaran wayang Sasak tidak ada alur cerita yang diubah oleh dalang-dalang beragama Hindu. Ada perbedaan sedikit dalam pementasan wayang Sasak oleh dalang beragama Hindu dan beragama Islam. Saat menonton pertunjukan wayang sasak, akan mudah dibedakan apakah dalangnya beragama Islam atau Hindu. Kalau yang main adalah dalang muslim, wayang yang pertama muncul adalah gunungan dengan pasangan Jayengrana dan Munigarim. Jika dalangnya adalah seorang Hindu, maka pertunjukan akan dibuka dengan keluarnya tokoh Rurah dan Kembung.

Saat ini masih ada dalang Hindu yang mementaskan wayang Sasak. Sebut saja dalang Made Darumbia, cucu dari  Nengah Gowang yang masih  memainkan wayang Sasak di tengah komunitas masyarakat muslim Lombok. Dalam memainkan wayang Sasak, Made Darumbia  masih memakai pakem cerita Serat Menak.

Pementasan wayang Sasak oleh dalang Hindu pernah dilakukan di Kumbung Lombok Tengah dan Karang Genteng Kota Mataram. Pada saat itu tahun 2003-an telah terjadi  perkelahian antar kampung Petemon dan Karang Genteng yang telah banyak memakan korban. Masyarakat Karang Genteng saat itu meminta cucu Nengah Gowang untuk mementaskan wayang Sasak dengan cerita Purwa Kanda. Intinya Purwa Kanda  adalah peperangan yang muncul karena kesalahpahaman. Pesan moralnya kalau ada perang saudara itu maka semua akan menderita dan rugi. Ada yang mempercayai pegaleran wayang itu merupakan syarat utama untuk bisa menjadi damai.

Di era modernisasi dan globalisasi  dimana masyarakatnya mulai kehilangan jatidiri, Abdul  Latif dan kawan-kawannya terdorong untuk mengangkat kembali seni pertunjukan wayang yang merupakan budaya adiluhung yang pantas dijadikan suluh. Ia tidak ingin wayang Sasak hilang dan hanya meninggalkan jejak di canal youtube ataupun video di VCD.

Untuk mendukung pelestarian budaya tersebut, maka sejak Maret tahun 2015 didirikanlah sekolah pedalangan wayang Sasak oleh Yayasan Pedalangan Wayang Sasak. Sebagai pendiri yayasan dipercayakan kepada Fitri Rachmawati. Sedangkan Abdul Latif Apriaman bertindak sebagai ketua yayasan. Dengan didirikannya sekolah pedalangan ini diharapkan sebagai media transfer ilmu dari dalang senior kepada generasi muda

            Gagasan mendirikan sekolah dalang bukan tanpa persoalan. Ketika  sekolah pedalangan didirikan  bisa saja akan muncul pertanyaan yang mencibir apa bisa dilakukan ketika tidak ada gedung, kurikulum yang jelas.  ‘’Kita sederhana saja ketika ada guru,  siswa dan tepat belajar maka jadilah sekolah pedalangan. Saat ini ada dalang senor yang menjadi guru kita yaitu Haji Syahwan dan Dalang Sukardi,’’ tandasnya.

            Yang cukup menggembirakan yaitu sampai hari ini ada satu  kelompok dalang muda terbentuk.  Selain mereka diajari teknik  mendalang yang bagus, juga diajari  cara menatah wayang.  Para dalang muda ini sudah pentas di beberapa tempat di Lombok. ‘’Sekitar 55 kali diundang keliling  Lombok untuk mendalang dengan berbagai cerita,’’ sebutnya.

            Latif menyayangkan  respon pemerintah untuk mengembangkan sekolah pedalangan masih kurang karena tidak didukung sarana dan prasarana yang memadai. Kendala lainnya masih banyak  dalang senior terbentur masalah ekonomi. Untuk proses mengajari dalang, mereka terkendala ekonomi karena latar belakangnya  adalah buruh tani, pengojek dan buruh bangunan.  Seandainya dalang senior ini diberi ruang fasilitas sedkit saja sehingga kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi, mereka mau  mejadi guru di tempat atau kampung sekitar mereka. ‘’Itu menjadi mimpi kita ke depan,’’ ucapnya.

Saat ini Yayasan Pedalangan Wayang  Sasak mengembangkan bentuk seni pertunjukan Wayang Sasak sesuai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan kebudayaan, serta memaksimalkan fungsinya sebagai media pemberdayaan dan media literasi berbasis budaya.

 ‘’Ide ceritanya beragam sekali mulai dari isu lingkungan, korupsi, pernikahan dini, literasi, Pertunjukan wayang ini membangkitkan nilai kebangsaan seperi peradilan yang bersih. Banyak sekali teman NGO yang membutuhkan kampanye yang berbeda, karena itu  wayang yang kami mainkan  sedikit berbeda dengan wayang sasak pakem. Akarnya memang pertunjukan  wayang sasak, tapi ada plusnya yaitu ada dialog interaktif dengan penonton,’’ sebutnya.

Beberapa pertunjukan wayang Sasak yang pernah digelar oleh Yayasan Sekolah  Pedalangan Wayang Sasak  sepanjang tahun 2015-2020 yaitu Pentas Pertunjukan Seni untuk Lingkungan di 10 Lokasi di Pulau Lombok (2015-2016), Pentas Wayang Peradilan Bersih bekerjasama dengan Komisi Yudisial (KY) Penghubung Wilaya NTB (2016), dan Pentas Wayang Cegah Pernikahan Dini bekerjasama dengan Pendampingan Program Generasi Sehat Cerdas (GSC), serta di 5 Desa di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara (tahun 2016-2017). Peraih Hibah Cipta Seni Perdamaian Yayasan Kelola, Menggelar Kegiatan “Roah Ampenan” Pentas Wayang Perdamaian, di Ampenan, Kota Mataram (2016), dan Pentas Wayang Pendidikan Anti Korupsi, bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB (2016).

Kemudian, membangun Bank Suara, salah satu program Yayasan Pedalangan Wayang Sasak berupa perekaman bahan bacaan berupa buku, cerpen, puisi, dan pesan-pesan inspiratif yang hasilnya (dalam format audio) didedikasikan untuk kelompok penyandang disabilitas terutama penyandang tuna netra pada 2017. Bank Suara bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB, membuat konten kampanye pemilu akses untuk kelompok disabilitas (2017) dan stan Bank Suara dan AJI Mataram menjadi stan terbaik kedua di ajang Festival Media 2017 di Solo.

Kemudian menggelar pertunjukan dirangkai Gerakan Literasi SiBATUR (Simak Baca Tulis Tutur) ke sejumlah desa korban di Lombok Utara (2018) kerjasama dengan Yayasan Somasi NTB. Lalu, menggelar Gerakan Literasi SIBATUR di 3 Desa korban Gempa di Lombok Barat kerja sama dengan Yayasan Gagas dan Plan Internasional (2019).

Yang menarik dalam dua tahun terakhir  ini Sekolah Pedalangan Sasak mengembangkan wayang botol sebagai prototype wayang Sasak. Awalnya prototype wayang sasak menggunakan botol plastik yang dibuat seperti lempengan,  kemudian dijadikan  wayang dalam berbagai warna. Dalam perjalanannya kemudian muncul untuk membuat wayang botol secara utuh. Wayang botol mencoba mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak agar bisa bertanggungjawab atas sampah yang mereka produksi, terutama sampah plastik. 

Hadirnya Wayang botol bermula dari keprihatinan akan persoalan sampah yang sudah menjadi persoalan lingkungan yang serius di seluruh belahan bumi. Rendahnya kesadaran publik untuk bijak mengelola sampah plastik adalah kendala utama yang mesti dipecahkan.

Ternyata pertunjukan wayang botol disukai anak-anak, bahkan beberapa anak tertarik menjadi dalang kecil wayang botol. Anak-anak menyukai pementasan wayang botol karena  ceritanya lebih fleksibel dan anak bisa memainkan karakter sendiri  wayangnya . ‘’Kita membantu mereka membuatkan ceritanya dan musiknya. Kemudian  kelompok dalang cilik yang bisa memainkan wayang untuk pertunjukan mereka sendiri. Mereka sangat antusias, bahkan kini para dalang cilik ini mulai menagih pada kami kapan mulai belajar wayang kulit,’’ paparnya.

Sementara itu Pendiri Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, Fitri Rachmawati, mengungkapkan pertunjukan wayang botol yang telah dipentaskan  Sekolah Pedalangan Wayang Sasak mendapat apresiasi dari khalayak.  Wayang botol yang telah dipentaskan oleh Yayasan Pedalangan Wayang Sasak yaitu Wayang Botol “Beboro Dedoro” di SDN 47 Ampenan dalam rangkaian program peduli lingkungan dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB (2019) dan Pentas Teater Wayang Botol “Kisah Penyelamatan Pohon Terakhir di Bumi” penutupan Asia Pacific Geopark Network (APGN) di Lombok (2019).

Yayasan Pedelangan Wayang Sasak juga  pernah diminta mementaskan Pertunjukan Teater Wayang Botol; Kisah Penyelamatan Pohon Terakhir di Bumi  yang diselenggarakan Dirjen Kebudayaan, Mendiknas di Jakarta tahun 2019.  Pementasan wayang botol memang tidak seutuhnya menggunakan cerita pakem Serat Menak, namun dikembangkan bentuknya sehingga anak-anak tertarik.

Pertunjukan Teater Wayang Botol ini membawa isu besar yaitu penyelamatan lingkungan dan nilai-nilai kebersamaan. Pertunjukan ini ingin menyentil  sikap individualis kita yang mau menang sendiri, kelompok dan golongan yang mau menang sendiri, ingin menguasai sumber alam berupa pohon.

Penyelamatan Pohon Terakhir di Bumi pohon terkahir di bumi menceritakan ada sebuah pohon terakhir yang kemudian semua orang ingin mengusainya. Pohon Kehidupan yang seharusnya mereka jaga bersama, justru menjadi sumber perpecahan. Mereka berebut untuk menguasainya. Mereka bertikai, mereka berperang, sampai akhirnya mereka lalai, ada raksasa rakus yang mencuri Pohon Kehidupan mereka. Untunglah kemudian muncul tokoh Raden Umar Maye (tokoh arif bijaksana dalam pertunjukan wayang Sasak)  yang mengingatkan kedua kelompok itu untuk bekerjasama menyelesaikan segala persoalan, termasuk menjaga pohon terakhir di bumi. Umar Maye menawarkan kita untuk kolaborasi, saling bekerjasama dan menyelamatkan pohon itu . Akhirnya mereka bisa hidup bersama tanpa ada yang merasa dirugikan.

Dalam pertunjukan itu, nilai-nilai kebersamaan diperlihatkan ketika masing-masing anak yang menjadi pemain diminta  menyatukan masing-masing potongan gambar untuk disatukan menjadi satu gambar gugusan kepulauan Indonesia. Ini menggambarkan perlunya kerjasama yang kompak.  Demikian juga dengan adegan pemain diminta untuk menyuapkan makanan dengan cara  tangan lurus yang jelas tidak mungkin bisa melakukan sendiri. Karena itu masing-masing pemain diminta  saling menyuapi makanan,  dan itu bisa dilakukan karena adanya kerjasama.

Di tengah pandemi Covid-19 dimana kehidupan sosial mulai dibatasi, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak melahirkan karya terbarunya  dalam bentuk pentas virtual Wayang Botol pada tanggal 24 Agustus 2020 lalu dengan tajuk Wayang Merah Putih Melawan Covid-19.

Munculnya  ide untuk mementaskan wayang secara virtual  setelah melihat para dalang yang tidak bisa menjalankan pertunjukkan karena covid. Sebelum merebaknya pandemi Covid-19, para dalang wayang Sasak biasanya diundang acara pernikahan, sunatan dan lainnya. Kini hajatan yang biasa digelar oleh masyarakat tidak ada lagi, bahkan penghasilan nol.Melihat keprihatinan ini, maka munculah gagasan untuk melakukan pertunjukan virtual wayang Sasak. Sebagai langkah awal, mereka yang peduli pada pagelaran wayang Sasak bergotong royong membantu persiapan pagelaran wayang botol  yang disebut  oleh teman-teman sebagai “Festival Berayan Volume Satu” .

Untuk urusan shoting video, digandeng Rins Studio. Kemudian diajak teman lainnya untuk membantu sound system, urusan dekorasi dipercayakan Kurir Buku. Selanjutnya teman-teman dari pedalangan yang punya kepiwaian musik, teater dilibatkan, begitu juga Sanggar Anak  Semesta.  Selanjutnya dibuatlah naskah agar pertunjukkannya nanti bisa terukur dan rapi.  Banyak orang yang terlibat dalam pertunjukan itu.

‘’Kita coba pertunjukan virtual wayang botol dengan mengadopsi pertunjukan teater ke pentas menggunakan lampu, kelir yang terbuka dan musiknya di depan.  Konsep ini tidak seperti pertunjukkan wayang Sasak yang tertutup,’’ katanya,

Fitri mengatakan tujuan pertunjukan wayang virtual  adalah  menggugah pemerintah untuk memberikan ruang pada dalang wayang Sasak maupun wayang Jawa yang ada di daerah ini untuk melakukan pertunjukan virtual sederhana. Pagelaran wayang Sasak secara bisa dilakukan secara sederhana menggunakan hand pone. Yang terpenting  adalah bagaimana mengaplikasi  pagelaran wayang dari sanggar meraka masing-masing  di desanya. 

Wayang Merah Putih Lawan Covid 19 dengan taglinenya Corona Rona Rona –Rona Rona Corona, menceritakan bagaimana selama ini  orang menghadapi Covid-19. Selama ini masyarakat  ada yang percaya, namun ada yang tidak pecaya. Kemudian  juga mengkritisi bagaimana pemerintah merespon kecurigaan dan ketidak kepercayaan  masyarakat lewat tokoh lurah sebagai simbul pemerintah. Dalam pertujukan ini kemudian bertemu  Umar Maya –tokoh kharismatik kepercayaan Raja Jayengrana dalam pedalangan wayang Sasak– yang mengingatkan lurah ini untuk berhati-hati ketika dia memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Cerita pertunjukan Wayang Merah Putih lawan Covid 19, dimulai  dari kedamaian Negeri Botol kedatangan wabah misterius yang disebutnya kemudian sebagai Covid-19. Rakyat negeri botol yang sebelumnya takut terkena dampak pandemi Covid-19 yang memakan jiwa, belakangan mereka cuek melanggar aturan  protokol menghadapi pandemi di era new normal.

Pak Lurah yang sedang memberikan pengarahan, justru diusir rakyat negeri botol dengan mengatakan bahwa Corona itu cuma rona-rona yang ada di pasar rakyat. Keadaan ini membuat prihatin Raden Umar Maya. Raden Umar Maye untuk menelisik persoalan yang membuat situasi semakin kacau.

Dalam penelusurannya Umar Maye menemukan sumber ketidakpercayaan rakyat negeri Botol pada Covid-19 adalah perilaku para pemimpin mereka yang plin-plan, yang tak bisa dipercaya. Para pejabat negeri Botol membuat aturan dengan istilah-istilah asing, yang mereka langgar sendiri, sehingga membingungkan rakyatnya. Saat negeri lain menutup pintu masuk, mereka malah membuka pintu lebar-lebar mengundang orang berwisata. Mereka membuat aturan jaga jarak dan melarang keramaian, tapi menggelar acara-acara seremoni  di mana-mana.

Akhir dari kisah itu, Raden Umar Maya memberikan Gegandek saktinya kepada cucunya Kocet. Sang cucu kemudian berjalan keliling negeri menebar semangat melawan Covid-19 kepada penduduk negeri Botol. Di wilayah paling merah, kocet membuka Gegandek pemberian Umar Maya. Dari dalam Gegandek muncul jarum suntik raksasa berwarna merah putih yang bergerak memusnahkan seluruh hantu covid.  Negeri Botol pun akhirnya bersih dari virus corona dan rakyatnya kembali hidup damai.

            Yang sangat menarik dari setiap pertunjukan Wayang Sasak, ada lagu yang biasanya dinyanyikan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak di akhir pertunjukan. Berikut ini syairnya: 

Tiada negeri seindah negeri ini,

Tiada bangsa sedamai bangsa ini,

Tiada tanah sesubur tanah ini,

Indonesia adalah rumah kami,

Alam rayanya kaya,

Anak Negeri sejahtera,

Semua Suku agama hidup rukun bersama.

 

‘’Setiap kali selesai pertunjukan,  kami tetap menyanyikan lagu itu.  Ini mengingatkan kita  bahwa Indonesia itu milik kita bersama. Kita ingin menanamkan rasa kebersamaan dengan menjaga Indonesia,’’ katanya. (tn)