Pilek Biasa Apa Bedanya dengan Pilek Covid-19?

Webinar Bhayangkari Polda NTB: Pilek Biasa Apa Bedanya dengan Pilek Covid-19? (IST/SCREENSHOT WEBINAR)

DARI WEBINAR BHAYANGKARI POLDA NTB

Pilek Biasa Apa Bedanya dengan Pilek Covid-19?

Saat ini banyak masyarakat dibuat bingung dengan gejala pilek. Apakah tergolong pilek biasa ataukah pilek akibat covid-19. Untuk itu Bhayangkari Polda NTB mengadakan webinar terkait hal tersebut.

ZULKIFLI-RADAR LOMBOK

Dikomandoi Ketua Bayangkari Daerah NTB Nindya M. Iqbal, Webinar berjudul “Pilek Biasa Apa Bedanya dengan Pilek Covid-19?” Rabu (25/8), disambut antusias para peserta dari jajaran Bhayangkari, PKK, Persit, GOW, dan pengurus organisasi lainnya, serta masyarakat umum yang turut hadir. Mengingat tak sedikit masyarakat dibuat bingung; tidak bisa membedakan pilek biasa atau pilek akibat covid-19.

Beruntungnya, narasumber yang dihadirkan adalah dr. Agustinus Hamonangan, M.Ked (ORL-HNS), Sp. THT-KL. Dokter Spesialis THT asal Medan ini berhasil menyampaikan materi secara ringan dan menghibur, serta disertai ilustrasi, sehingga peserta mudah memahami.

Di awali dengan cara penularan virus, dr. Agustinus menerangkan, virus menular melalui cairan atau lendir penderita covid-19, yang keluar melalui hidung atau mulut. Lalu cairan atau lendir itu terhirup atau masuk melalui mulut orang lain. Kalaupun misalnya tidak langsung masuk melalui hidung dan mulut, bisa jadi cairan atau lendir itu menempel di tangan. Kemudian menggunakan tangan membersihkan mata, memegang hidung atau gigit jari, sehingga terjadi penularan. Agar tidak masuk melalui hidung atau mulut maka wajib menggunakan masker, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terlebih dahulu.

Covid-19 lanjutnya seperti musuh dalam selimut, ngaku sayang tulus ternyata ada maunya. Artinya covid-19 mampu mengecoh pertahanan tubuh, tahu-tahunya ketika masuk malah menyerang seenaknya. Basis pertahanan lanjutnya begitu banyak, ada di hidung, sekitar leher, di sistem pencernaan. Apabila sudah merasa mual atau muntah-muntah, maka sistem pertahanan di pencernaan sudah mulai diserang.

Adapun pilek biasa dan pilek akibat covid-19 memilik sejumlah kesamaan, samasama demam, batuk, capek, tenggorkan terasa tak enak, hidung meler, pegal, kepala sakit, kemampuan penciuman dan perasa berkurang. “Jadi bagaimana membedakannya? Jadi kalau covid itu, penciuman hilang, nol, benar-benar hilang. Rasa pun juga ikut ilang. Kemudian sesak nafas. Tetapi apakah semua yang sesak nafas itu covid? Belum tentu. Harus dites antigen atau PCR,” jelasnya.

Dengan rapid test antigen kemungkinan terdeteksi 90 persen. Sementara PCR 97 persen sampai 100 persen. Untuk itu dr. Agustinus menyarankan agar melakukan tes PCR yang lebih akurat.

Adapun untuk covid-19 menunjukkan keluhan 2-14 hari sejak paparan. Sementara pilek biasa 2-4 hari sejak paparan.

dr. Agustinus lantas membagikan tips Lawan Covid di Rumah. Berikut tips yang bisa diterapkan: Bersihkan rumah dan permukaan benda terutama yang sering disentuh, pakai masker dan sarung tangan sekali pakai buang, pakai ethanol, hydrogen peroxide, quartennary ammonium; tamu datang ke rumah wajib pakai masker; ventilasi udara penting untuk mengatur sirkulasi; siapapun datang dari luar rumah wajib cuci tangan dengan dan sabun atau hand sanitizer dengan 70 peren alcohol; bersihkan HP dengan kapas ditambah alcohol 70 persen (alcohol wipes); cuci hidung; kumur-kumur dengan air garam atau betadine kumur atau listerine untuk meningkatkan pertahanan mulut; gunakan masker dobel, masker medis di dalam ditambah masker kain di luar (tidak perlu dobel untuk maker KN95 dan N95); rajin mandi minimal 2 kali sehari; hindari korek hidung, kucek mata, dan gigit jari bila tangan belum dibersihkan; olahraga rutin minimal 30 menit per hari; pola makan sehari-hari kurangi garam maksimal 5 gram sehari, buah (takaran 2 cangkir) dan sayur (takaran 2,5 cangkir) setiap hari, konsumsi whole grain dan kacang, daging merah 1 sampai 2 kali per minggu, produk peternakan 2 sampai 3 kali per minggu (ikan, telur, dan susu), dan lainnya; kemudian boleh beli rokoh tetapi jangan dibakar. (*)