Perjuangan Khairul Marhanik Lepas dari Jerat Narkoba

AJAK: Khairul Marhanik mengajak semua pecandu narkoba untuk berhenti.(DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Semangat itulah yang memantik hati Khairul Marhanik, salah seorang mantan pecandu narkotika. Semangat itu ditunjukkannya ketika ingin keluar dari jeratan lembah hitam dunia haram yang memenjarakan hidupnya waktu itu.

“AYO berhenti!. Tidak ada manfaatnya, malah semakin menimbulkan masalah. Nikmatnya cuma sesaat, jangan tunggu menyesal baru mau berhenti … Masa depan masih panjang, dan kita sendirilah yg bisa meraih masa depan itu,” ajak Khairul Marhanik dalam kegiatan di kantor BNNP NTB, Kamis lalu (8/4).

Seruan itu sudah lama disuarakan Khairul Marhanik. Ajakan itu tak terlepas dari balik kelamnya masa lalu hidup Khairul Marhanik. Di mana dulunya, ia tercatat sebagai salah satu pecandu narkotika. Nanik, begitulah Khairul Marhanik karib dipanggil.

Ia menuturkan, mulai terjerumus barang haram sejak duduk di bangku kelas II SMP. Awalnya ia anak polos seperti anak SMP pada umumnya. Sayangnya, pergaulan bebas merusaknya saat pertama kali ditawarkan narkoba oleh temannya. ”Awal nyoba itu dulu pas SMP kelas 2 karena diajak temen. Awalnya cuma diajak biasa, gak disuruh
ngeluarin uang jadi lansung mau, krna penasaran juga,” tuturnya.

Pas pertama kali mengonsumsi narkotika, Nanik merasa ada yang beda di badannya. Badannya terasa lebih ringan. Pasca itu, Nanik masih merasa penasaran dengan barang haram tersebut. Hingga akhirnya beberapa hari setelahnya dia kembali mencobanya. Saat itu masih diberikan secar gratis.

“Dulu juga kalo pulang skolah masih SMP itu kadang gak lansung pulang, tapi make dulu sama teman yang ngajak,” ujarnya. Namanya juga pergaulan, akhirnya berkali-kali diminta mencoba. Hingga tiga kali diberikan secara gratis. Nah yang keempat kalinya, Nanik mulai diminta untuk ngeluarin biaya secara patungan.

Setelah beberapa bulan menggunakan narkoba jenis sabu secara rutin, Nanik pun masuk dalam fase pecandu. Dia tak lagi patungan sama temannya untuk membeli sabu. Melainkan langsung membeli dengan uangnya sendiri. “Pas udah mulai kecanduan, saya tidak mau patungan lagi sama teman. Jadi saya titip saja di teman untuk membelikan. Kemudian saya konsumsi sendiri di rumah,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Hikmah Ramadan Bagi Para Pedagang Kelapa Muda

Nanik beli paketan yang harga Rp 300.000. Itu dikonsumsi dua kali namun pemakaiannya tidak setiap hari. Melainkan biasa empat kali dalam seminggu. Untuk uang yang dipakai untuk membeli sabu, Nanik mengaku menggunakan uang sekolah. “Uang SPP saya belikan sabu. Uang SPP cuma Rp 60 ribu, saya bilangnya Rp 100 ribu,” ucapnya.

Lebih parah lagi, Nanik juga sampai mencuri barang-barang milik keluarganya. Anting dan cincin ibunya dicuri kemudian dijual. Hasil penjualan kemudian digunakan untuk membeli sabu. Tidak cukup dengan itu, ia juga nekat mencuri celengan bapaknya yang disiapkan untuk biaya pernikahan kakaknya.

“Pokoknya parah dah,” ucapnya. Lama-kelamaan dampak negatif dari penggunaan narkotika itu, kata Nanik semakin menjadi-jadi. Begitu masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) ia tak sampai tamat. Baru kelas I sudah dikeluarkan dari sekolah karena diketahui sebagai pecandu narkotika. “Nah dari dikeluarin dari skolah itu, tetangga-tetangadi rumah jadi tahu kalau saya mengonsumsinarkoba. Saya jadi malu sama tetangga-tetangga di rumah. Jadinya saya kabur dari rumah,” ujarnya.

Sejak kabur dari rumah tersebut hidupnya kacau. Di mana ia tinggal berpindah-pindah dari kos satu ke kos lainnya. Untuk bisa menyewa kos sekaligus bisa mengonsumsi narkotika lagi, Nanik nekat menjadi peluncur yaitu mengantarkan barang pesanan dari bandar ke pembeli. Hingga pada akhirnya hal itu mengantarkan Nanik masuk sel tahanan.

Ia ditangkap oleh tim Opsnal Dit Resnarkoba Polda NTB. Hingga pada akhirnya diadili di Pengadilan Negeri Mataram. “Saya divonis 1 tahun penjara. Saat itu umur saya baru 16 tahun,” ujarnya.

Satu tahun berlalu, Nanik pun selesai menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Mataram. Ia pun kembali ke rumahnya di Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Namun bukannya langsung tobat, Nanik kembali mengonsumsi narkotika. Begitu diketahui bahwa dirinya kembali mengonsumsi narkotika, keluarganya memutuskan agar Nanik direhabilitasi. Ia pun dikirim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma. Mengingat saat itu rehabilitasi hanya ada di RSJ tersebut. Begitu selesai menjalani rehabilitasi, Nanik pun akhirnya meninggalkan masa kelamnya tersebut.

BACA JUGA :  Manfaatkan Waktu Luang untuk Tambah Amal

Ia saat itu sadar betapa ruginya berhubungan dengan narkotika. Di mana pendidikannya terputus kemudian nama baik keluarganya jadi tercemar di masyarakat. “Keluar dari RSJ, saya bergabung di AKSI NTB sebagai relawan tahun 2012. Saya jadi konselor di AKSI NTB sejak 2014 sampai sekarang,” bebernya. Semenjak berhenti mengonsumsi narkotika, ada perubahan yang luar biasa di alaminya.

Di mana jika saat jadi pecandu narkotika badannya kurus kerempeng tetapi setelah berhenti berat badannya naik. Nanik mengatakan bahwa dulu berat badannya hanya 45 Kg. Tetapi setelah berhenti baik menjadi 60 kg.

Kemudian dari segi mental kini lebih tenang. Sebab dulu ketika jadi masih berhubungan dengan narkotika hidupnya tidak pernah tenang. “Dulunya suka curiga berlebihan karena ketakutan ditangkap, takut diomongin, suka emosian. Kalau sekarang beda, sekarang jadi lebih berani tampil apa adanya tanpa pengaruh narkoba. Lebih bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi tanpa harus pakai narkoba kalau stres sama masalah. Lebih bisa menikmati hidup sehat mas yang sekarang dan lebih mementingkan masa depan sama keluarga,” pungkasnya.

Saat ini, selain memikirkan nasib dirinya dan keluarga, Nanik juga memikirkan nasib generasi bangsa. Untuk itulah ia memilih mengabdikan dirinya di AKSi NTB. Sebab ia tidak ingin apa yang pernah dialaminya di masa dulu terulang pada orang lain. Apa yang dilakukannya ini juga mendapat dukungan dari keluarga. Di akhir perkacakan dengan Radar Lombok, Nanik menitip pesan. Kepada penyalahguna narkotika, Nanik mengajak untuk segera berhenti. “Ayo berhenti!.

Tidak ada manfaatnya, malah semakin menimbulkan masalah. Nikmatnya cuma sesaat, jangan tunggu menyesal baru mau berhenti. Masa depan masih panjang, dan kita sendirilah yg bisa meraih masa depan itu,” ajaknya.
“Kemudian untuk yang sudah pulih atau berhenti menggunakan narkoba tetap semangat jalani pemulihan. Kamu tidak sendirian menghadapi pemulihanmu. Yang lalu biarlah berlalu. Ayo kita
jalani pemulihan sama-sama untuk masa depan yg lebih indah,” lanjutnya. (Dery Herjan)

.