MUDIK ALA ABU BONGOH

Masyarakat Indonesia sedang berada pada titik kulminasi perasaan susah, senang, sedih, gembira, benci dan rindu. Lebaran tahun ini adalah puncaknya. Sudah tahun kedua memendam rindu bertemu keluarga, namun terhalang larangan mudik.

Ada yang memaksa mudik dengan berbagai alasan. Yang bepergian untuk mengantar keluarga sakit, melahirkan dan hal urgen lainnya tentu dibolehkan. Yang memaksa dengan berbagai cara, ada yang lolos adapula yang harus putar haluan.

Sekumpulan lelaki bejubah putih sambil berdoa dan menengadahkan tangan berharap agar kendaraannya dapat lolos dari petus, tetap diminta Kembali. Ada anak bawah umur mengendarai kendaraan mewah ketakutan karena tak punya SIM dan akhirnya menabrak penyekat jalan dan nyaris merobohkan petugas dengan mobilnya, namun usahanya gagal dan berurusan dengan hukum.

Ada sekumpulan keluarga tega berpanas-panas menyekap diri dalam bak truk yang ditutup terpal plastik ahirnya tecegah juga hendak mudik. Bahkan ada yang memprovokasi warga agar bersatu menerobos petugas namun ahirnya berurusan dengan aparat.

Bagi keluarga yang pandai mengelola hati dan menerima keadaan agar bakteri virus tak menyebar, mereka menahan diri untuk tak mudik. Mencara cara menghibur diri dengan menyapa keluarga melalui virtual.

BACA JUGA :  RAJA BELI CENDOL

Nah…. Soal mudik ini, Abu Bongoh punya cara yang unik. Bersama 10 angota keluarga ia nekat mudik dari Surabaya ke Lombok tanpa halangan dan rintangan. Melintasi jalan utama dan telah diperiksa oleh petuas di jalan namun tetap lolos dari pemeriksaan.

Apakah ia pake guna-guna? Apakah melewati jalan tikus? Apakah ia menyuap petugas? Tentu tidak. Bongoh dan keluarga dipastikan tak menggunakan cara spekulasi seperti itu.

Lantas bagaimana caranya…???

Pagi itu, semua barang sudah dikemas dalam bagasi mobil. Dengan mengendarai mobil bernomor polisi Lombok (DR) ia keluara kota Surabaya namun tidak mengarah ke jalur Gersik, Situbondo, Probolinggo, Banyuwangi, Bali dan nyebrang ke Lombok.

Abu Bongoh justru mengarahkan kendaraannya ke Jurusan Jawa Tengah, Jogja dan Jakarta. Artinya berlawanan arah dengan tujuan mudik dari Surabaya ke Lombok.

BACA JUGA :  Lupa Membawa Berkah

Saat memasuki pintu perbatasan Jawa Tengah, kendaraanya dicegat petugas.

“Selamat siang pak, kami mau periksa surat-suratnya pak…!” kata petugas sambil menengok ke dalam mobil melihat 10 penumpang.

Abu Bongoh memperlihatan surat-surat kendaraan dan dinyatakan lengkap.

“Mau kemana Pak?” kata petugas

“Mau mudik,” jawab Bongoh Jujur.

“Mudik kemana..?”

“Ke Jakarta”

“Bapak dari mana?”

“Saya bekerja di Lombok dan mau mudik ke Jakarta.”

“Maaf pak…. Karena ada larangan mudik bapak terpaksa harus balik haluan dan kembali ke daerah asal.”

“Mohon pak diijinkan sekali ini saja pak…” Bongoh memelas.

“Silahkan kembali saja,” petugas tegas.

“Lantas kalau saya kembali ke Lombok, saya pasti dicegat dalam perjalanan, gimana dong pak?”

“Akan saya berikan surat perjalanan balik dan dapat diperlihatkan kepada petugas di jalan ya,”

Abu Bongohpun lantas memperoleh surat jalan dan bersama keluarga ia bisa mudik ke kampung halamannya. Don’t try at home, jangan lakukan di rumah, tapi diperjalanan. (*)