Lulusan Kedokteran Coba Peruntungan Berbisnis Kopi

TUNJUKKAN: Mega Pratiwi membawa produk kopi rempah-rempahnya. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

Kopi menjadi minuman yang banyak diminati orang, baik tua maupun muda. Karena peminatnya banyak dan bahan baku yang tersedia juga menjadikan orang berbinis kopi dengan berbagai cita rasa. Salah satunya seperti dilakukan Mahasiswi lulusan Kedokteran Universitas Mataram (Unram) menggeluti bisnis kopi khas Sumbawa.


DEVI HANDAYANI- MATARAM


MEGA Pratiwi mengatakan awal mula dirinya mencoba menggeluti bisnis kopi ini karena merupakan bisnis turun temurun dari keluarganya. Hanya saja dari segini kemasan belum mampu bersaing dengan produk kopi lainnya. Padahal peminat kopinya cukup banyak di Sumbawa. Karena keinginan agar produk kopi miliknya bisa dinikmati hingga keluar daerah, ia mengganti kemasan produk agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing dengan kopi lainnya. “Saya awalnya tidak ada kepikiran mau usaha kopi, cuma di rumah Sumbawa ibu sama nenek saya yang usaha kopi dari dulu. Terus mereka itu jualnya pakai plastik biasa dan harganya murah dibandingkan yang lain,” ujar Mega Pratiwi, saat ditemui belum lama ini di rumahnya di Perumnas Tanjung Karang.
Dikatakan Mega sapaan akrabnya, karena melihat potensi dari kopinya cukup bagus. Apalagi peminat kopi cukup banyak, baik dari dalam daerah maupun luar daerah. Terlebih kopinya memiliki cita rasa berbeda dari kopi yang ada di NTB. “Waktu itu pulang ke Sumbawa setelah lulus koas, karena kerjanya tahun depan. Dari pada nganggur ya coba buat jual kopi. Tapi dengan kemasan sendiri yang punya daya saing,” tutur gadis 23 tahun tersebut.
Kopinya memiliki keunikan dan keunggulan berbeda jika dibandingkan dengan kopi di daerah lain, bahkan kopi yang terkenal lainnya. Jenisnya kopi Rarak. Rarak adalah salah satu desa di Kabupaten Sumbawa Barat. Kopi ini merupakan minuman khas dibuat turun temurun dari keluarganya. Sehingga memberikan cita rasa berbeda pada penikmat kopi. “Kalua kopi saya ini dia benar-benar racikannya dari dulu sampai sekarang tetap sama rasanya dan ada tambahan rempah-rempah seperti Jahe-Beras-Cabe olot pilihan (cabai gunung-Cengkeh-Pala -Kapulaga-Kayu manis,” terangnya.
Penggunaan cabai olot inilah yang menjadi pembeda. Khasiatnya memberikan rasa pedas namun hangat di tubuh tiap kali kita meminumnya. Adanya campuran rempah-rempah tersebut yang memberikan sensasi berbeda ketika menikmati kopinya. Meskipun saat ini masih dalam proses untuk perluasan pemasarannya.“Baru di Sumbawa saja, tapi baru-baru ini masuk ke Mataram kopinya. Memang kendalanya dipemasaran jadi sekarang ini masih mencoba-coba jual lewat online dulu baru merambah ke tempat lain,” ujarnya.
Kendati demikian, dengan kondisinya saat ini baru lulus kuliah kedokteran dan tinggal menunggu panggilan bekerja sebagai dokter umum. Tidak membuatnya meninggalkan usaha kopinya tersebut. Bahkan ketika dirinya nanti telah bekerja, usahanya harus tetap jalan. “Kalau sudah kerja, usaha juga tetap jalan sambilan cari-cari peluang pasar. Sekaligus coba buat masukin ke coffeshop yang ada, jual juga di market palace seperti Shopee dan media sosial lainnya,” imbuhnya.
Sementara itu, harga satu bungkus kopi dengan berat 250 gram diharga hanya Rp 29.000. Ia bisa menjual 40-50 kemasan kopi per bulan, dimana Mega mampu meraup keuntungan mencapai dari Rp 500.000. Nilai tersebut memang kecil, karena memang pemesarannya belum terlalu luas.
Diakuinya, memang tak semua orang bisa menikmati komposisi tertentu di dalam kopi ini. Sehingga pihaknya memberikan layanan komposisi sesuai pilihan konsumen. Di mana rasanya bisa original dan sesuai permintaan pembeli. Menurutnya, minum kopi saat ini sudah menjadi gaya hidup anak muda. Namun tak banyak yang memberikan khasiat kesehatan di dalamnya. “Minum kopi sambil gaya sudah biasa. Tapi minum kopi dengan khasiat tentu rasanya luar biasa,” ucapnya. (*)