Arjuna, Bocah 2,5 Tahun yang Berhasil Menaklukkan Sembalun Seven Summit

PENGHARGAAN : Arjuna, bocah 2,5 tahun digendong ayahnya ketika menerima perhargaan dari Mapala atas keberhasilan mendaki tujuh puncak di Sembalun pada Desember 2020 lalu. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

Wisata Sembalun Seven Summit (Wisata Tujuh Puncak Sembalun) kini menjadi primadona bagi wisatawan yang hobi tantangan mendaki. Ketujuh pendakian itu ialah Gunung Rinjani, Bukit Sempana, Bukit Lembah, Bukit Kondo,  Bukit Anak Dara, Bukit Pergasingan, dan bukit Baon Ritif. Wisata ini digagas para pelaku wisata Sembalun dan mulai resmi dibuka pertengahan tahun 2020 lalu.


M GAZALI-LOMBOK TIMUR


SEBELUM aktivitas pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani ditutup pada akhir Desember lalu, tak sedikit pengunjung atau wisatawan dari beragam usia dan latar belakang mencoba untuk menaklukkan tujuh bukti pendakian ini. Ada yang berhasil namun tak sedikit dari mereka juga gagal. Terlebih ketinggian wisata tujuh puncak Sembalun itu berada di atas 1000 sampai 300 MPL lebih dari permukaan laut. 

Tantangan wisata petualangan mendaki bukit dan gunung di kawasan gunung Rinjani menjadi magnet yang sangat menarik minat semua kalangan. Terutama bagai para wisatawan yang suka dengan tantangan. Namun ada hal yang menarik dan sangat mencengangkan dari sekian wisatawan yang telah berhasil mendaki tujuh puncak itu.

Lumrahnya yang melakukan pendakian  ke gunung atau bukit adalah mereka yang sudah dewasa. Tapi diluar dugaan  ternyata ada bocah berusia 2,5 tahun juga berhasil menaklukkan tujuh puncak Sembalun. Dia adalah Muhammad Arjuna Jamalullail, anak kelahiran Surakarta, Jawa Tengah.

Keberhasilan Arjuna menaklukkan tujuh puncak Sembalun tak lepas dari jiwa petualang ayahnya, Akhzan Jabbar Susanto. Arjuna diajak ayahnya mendaki ke tujuh puncak Sembalun pada 15 sampai 26 Desember lalu. 

Di usia Arjuna yang masih balita, tentu hal mustahil untuk bisa menaklukkan tujuh bukti itu sampai ke puncak. Meski selama perjalan, Arjuna lebih banyak digendong oleh ayah. Tapi kondisi cuaca yang ekstrem dingin dan hujan tentu sangat membahayakan bagi Arjuna di usia tubuhnya masih mungil. Tapi semua itu tidak menjadi penghalang. Arjuna bersama ayah mampu melewati semua tantangan itu. “Alhamdulillah, anak saya bisa menaklukan Sembalun Seven Summits (S7S), termasuk dalam waktu 12 hari. Meskipun cuacanya tidak mendukung,” tutur Jabbar Susanto, ayah Arjuna menuturkan perjalanan mendaki.

Kepuasan tersendiri bagi orang tua Arjuna, Akhzan Jabbar Susanto  berwisata sambil berpetualang bersama anaknya untuk mencoba menaklukan ke tujuh puncak bukit tersebut, termasuk gunung Rinjani. Ia menuturkan, awalnya hanya mengajak Arjuna naik bukit Pergasingan atau Anak Dara. Namun sayang pendakian lainnya sempat dilewatan begitu saja. “Mumpung saya masih di Lombok, saya pun tidak ingin menyia-nyaiak kesempatan yang ada. Dari sana mulai ingin menyelesaikan ketujuh bukit tersebut,” lanjutnya.

Susanto pun begitu tertantang  untuk bisa menaklukkan Sembalun Seven Summits tersebut. Pada akhirnya merencanakan untuk menuntaskan ketujuh puncak bukit yang ada di Sembalun bersama putranya Arjuna. “Alhamdulillah rencana saya didukung oleh istri, meskipun ia hawatir juga dengan kondisi cuca saa ini. Lebih-labih saya bawa Arjuna yang masih berusia 2,5 tahun,” imbuhnya. 

Susanto sendiri merupakan pria yang kelahiran Lombok, namun saat ini tinggal di Surakarta, Jateng bersama keluarganya. Sebelumnya ia sering mengajak Arjuna naik gunung atau bukit yang ada di Solo. Pada saat itu, ia merasa bahwa anaknya bisa diajak berpetualang. Hal itulah yang menjadi motivasinya untuk menaklukan ke tujuh bukit tersebut. “Sebelum saya ke Sembalun, saya bersama Arjuna pernah naik ke salah satu bukit yang ada di Solo sekitar 2100 Mdpl. Ternyata anak itu fisiknya bagus. Itulah motivasi saya mengajak Arjuna menuntaskan ke tujuh puncak bukit, termasuk Rinjani,” bebernya. 

Adapun kendala yang dihadapi saat mendaki adalah keadaan cuaca yang tidak menentu. Namun Susanto telah mempersiapkan segala perlengkapan mulai dari pakaian hingga makanan yang bisa membuat nyaman Arjuna. “Saya menyiapkan semua perlengkapan, baik logistik maupun yang lainnya. Yang paling penting menyiapkan mental anak saya, dan tidak kalah pentingnya itu keselamatan kita di bukit maupun di gunung. Artinya mana yang nyocok untuk di gunung dan untuk di bukit, itu yang perlu kita siapkan,” imbuh dia.

Selama 12 hari perjalanan mendaki tujuh puncak itu, Jabbar dan putranya Arjuna tidak menemukan kendala berartinya. Kondisi fisik Arjuna tetap stabil dan juga tidak rewel. Bahkan sampai kembali dari pendakian Arjuna tetap ceria dan sehat seperti biasa. “Saya juga sampaikan  terima kasih kepada semua yang terlibat mensuport selama perjalanan mendaki. Karena ekspedisi yang berhasil adalah kembali ke rumah dengan selamat,” tutupnya. (**)