CERITA PASIEN POSITIF CORONA YANG MENJALANI ISOLASI DI RSUD KOTA MATARAM Surat Terbuka Pasien Positif Corona Minta Jangan Dikucilkan

SEHAT: Salah satu pasien positif Covid-19, MZ, asal Ampenan, Kota Mataram, yang mengambarkan dirinya tampak sehat di ruang isolasi RSUD Kota Mataram. (IST FOR RADAR LOMBOK)
SEHAT: Salah satu pasien positif Covid-19, MZ, asal Ampenan, Kota Mataram, yang mengambarkan dirinya tampak sehat di ruang isolasi RSUD Kota Mataram. (IST FOR RADAR LOMBOK)
Advertisement

Momok menakutkan bagi para pasien positif Covid-19 saat ini, salah satunya adalah stigma negatif dari masyarakat. Apalagi stigma itu tidak hanya menimpa para pasien saja, tetapi juga keluarganya. Seperti apa penuturan pasien positif yang sedang menjalani isolasi di RSUD Kota Mataram. Berikut rangkuman Radar Lombok.

SUDIRMAN – MATARAM

PASIEN dengan status positif virus corona atau Covid-19,  kerap kali dihindari masyarakat, bahkan dicemooh serta mendapatkan stigma negatif. Hal ini tak ayal menjadi momok yang sangat menakutkan. Akibatnya, acap kali masyarakat dengan status orang dalam pemantauan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP), sering kali tidak jujur menyampaikan riwayat perjalanannya, sehingga mereka tidak diisolasi.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang pasien yang dinyatakan positif corona atau Covid-19, yakni pasien ke-106 inisial MZ, asal Ampenan, Kota Mataram, yang saat ini sedang menjalani isolasi di RSUD Kota Mataram sejak sepekan lalu, membuat surat terbuka yang ditujukan bagi seluruh masyarakat. Dia meminta kepada masyarakat agar tidak menganggap pasien positif corona sebagai momok yang menakutkan.

Dalam pecakapannya menggunakan video call kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (23/4), MZ menuturkan bagaimana dirinya saat ini yang sedang mendapatkan perawatan dan isolasi di RSUD Kota Mataram. MZ tampak sehat dan bugar di ruang isolasinya.

Dalam surat terbukanya, dia menyampaikan selama sepekan menjalankan isolasi di RSUD Kota Mataram, para tenaga medis memberikan pelayanan yang prima, termasuk kebutuhan nutrisinya juga dicukupi.

Didalam suratnya itu, ia meminta agar masyarakat memberikan dukungan. Karena hal ini sekaligus juga merupakan bagian dari ikhtiar, agar para pasien positif tidak mendapatkan tekanan, sehingga berimbas pada menurunnya kesehatan mereka.

Ia juga menyampaikan saat ini dalam keadaan baik-baik saja, dan berpesan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan serta menjaga diri sesuai dengan protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh tenaga kesehatan.

Berikut surat terbuka yang disampaikan pasien 106 ini secara lengkap, yang ditujukan kepada seluruh masyarakat, terutama masyarakat di sekitar dia tinggal. “Kami ini pasien bukan alien. Kami ini sakit bukan pesakitan. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal’afiat, dicukupkan rezeki, dan sebagainya, aamiin.

Dengan ini, (saya-red) menyampaikan maaf beribu maaf, karena kami sekeluarga telah mengusik ketenteraman bapak/ibu, para tetangga dan masyarakat Mataram, NTB secara umum akhir-akhir ini, dan terimakasih yang tiada terkira kepada semua warga di lingkungan tempat tinggal kami, atas bantuan serta perhatiannya kepada keluarga kami.

Oleh karena itu, sangat perlu rasanya, kami sampaikan, untuk diketahui bersama, bahwa dengan adanya ujian wabah corona yang menimpa kami sekeluarga, sehingga mengharuskan isteri dan anak-anak (kami) menjalani karantina secara mandiri dirumah.

Sekali (lagi) mohon maaf sebesar-besarnya wabil khusus kepada jiran-jiran (tetangga) kami, apabila pintu rumah kami sementara waktu tidak terbuka untuk menerima kehadiran bapak/ibu, karena semata-mata (kami) sedang menjalankan standard SOP yang dianjurkan dari pihak rumah sakit.

Insya Allah kita masih (bisa) bersilaturrahim melalui telepon, sosial media, dan sebagainya. Kemudian apabila bapak/ibu, melihat putra/putri kami yang masih kecil-kecil bermain keluar rumah agar ditegur dengan hikmah (mohon jangan diusir). Atau kawan-kawan kami yang datang, mungkin lupa atau belum sempat kami sampaikan tentang kondisi kami ini, mohon kiranya jangan segan-segan untuk dinasehati demi menjaga hubungan baik serta kerukunan kita bersama.

Berikut kami informasikan, bahwa saya pribadi Alhamdulilah dalam keadan baik, merasa sehat dan bugar. Bahkan tidak ada satupun nikmat Allah yang diberikan-Nya, tidak saya syukuri. Hanya saja, saat ini tidak hanya kami tapi kita semua dalam kondisi psikis terguncang. Karena menurut saya faktor yang paling penting setelah seseorang dinyatakan positif Covid yaitu psikologi pasien.

Ditumbuhkan rasa percaya dirinya. Jauhkan dari pikiran yang macam-macam, dan faktor sikap masyarakat tempat yang bersangkutan bermukim, sangat-sangat berperan sekali dalam menunjang penyembuhan pasien Covid.

Begitu sekilas yang saya rasakan. Memang kita mesti memangkas stigma yang menurut saya terdengar atau terkesan angker di masyarakat. Bahwa jika terkena Covid19 (sama dengan) mati, seperti yang ada di media massa belakangan ini.

Kita hanya tertarik menunggu informasi hari ini berapa yang positif, berapa yang negatif, berapa yang tidak sembuh berapa yang sembuh. Akhirnya, saya berfikir bukankan ada hal yang tergerus dari diri kita. Kenapa justru kita tidak berfikir bahwa kita sendiri sedang membentuk ketakutan itu pada diri kita sendiri. Lupa bahwa ada keterangan ahli yang menyatakan bahwa pasien covid bisa disembuhkan, (dengan) menerapkan pola hidup bersih dan sehat ( PHBS).

Saya pun tidak pernah mau mengalami ini, dan saya yakin tidak ada satupun dari kami, pasien yang menginginkan kondisi ini. Selama ini tidak pernah tau terjangkit dari mana, dan saya tidak sedang ingin menyalahkan takdir yang saat ini terjadi terhadap saya dan keluarga.

Sekali lagi Alhamdulillah atas nikmat yang Allah berikan terhadap kami sekeluarga tanpa berkurang akibat apapun. Justru ini semakin menguatkan kayakinan kami kepada kebenaran sang Khaliq.

Semoga Allah SWT segera mengangkat wabah ini dari daerah dan Negeri kita tercinta”. Demikian yang ditulis MZ, pasien positif Covid-19, dalam surat terbukanya. (*)